Sunday, July 24, 2011

When Your Best Is Not Good Enough




Apa kamu pernah merasa orang-orang di sekelilingmu memiliki ekspektasi terhadapmu yang begitu besar, melebihi ekspektasimu terhadap dirimu sendiri?

Merasa bahwa kamu tidak menjadi kebanggaan mereka, dan justru malah membuat mereka kecewa?

Bahwa mereka seperti selalu mencari celah dan mengungkit-ungkit kesalahanmu, dan seakan melupakan hal baik yang telah kamu perbuat?

Bahwa standar mereka terlalu tinggi; terlalu tinggi untuk kamu ikuti, bahkan untuk kamu mengerti?

Merasa bahwa mereka seringkali membicarakanmu di belakangmu - di depan orang lain; membicarakan bagaimana kamu gagal menjadi seperti yang mereka inginkan, bagaimana kamu membuat mereka sedih?

...Meskipun kamu sebenarnya merasa bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik dan di mata orang lain mungkin kamu sudah cukup baik - cukup untuk menjadi kebanggaan mereka?

Pernahkah kamu merasa lelah, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti mendengarkan omongan mereka, atau malah mulai memberontak?

...Meskipun kamu juga tahu bahwa menurut aturan budaya serta bahkan agama hal itu tidak tepat?

Pernahkah kamu begitu lelah, hingga akhirnya hanya bisa mengangguk-angguk seperti setuju dan merasa bersalah, padahal kamu tidak lagi bisa peduli?

...Sambil mendengarkan musik bervolume keras lewat headset secara diam-diam, saat semua itu terjadi?

Tuesday, July 19, 2011

The Analysis (Or Just Some Lucky Guesses?)

"Kamu itu orangnya praktis. Efisien. Ini salah satu strength kamu."

"Loh, kenapa jadi strength? Bukannya itu artinya cari gampang, ya, Mas?"

"Jelas beda. Cari gampang itu nggak peduli dengan hasil. Kamu memang cari cara yang paling gampang, tapi tetep mengarah ke goal. Jadi gampang, tapi hasilnya tetep bagus. Ini jadi strength."

Begitu kira-kira percakapan saya dengan seorang dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang ahli di dalam bidang psikoanalisis. Percaya atau tidak, saya di-'baca' olehnya hanya dengan melalui satu benda yang saya pilih di ruangan. Saya memilih sebuah laptop berwarna merah muda milik teman saya, karena memang benda itu yang pertama kali saya pikirkan ketika Mas Ivan meminta saya untuk memilih satu benda di ruangan. Saya nggak ngerti lah gimana caranya sebuah laptop begitu bisa menjelaskan kepribadian saya dengan tepat. Entah beliau memang psikoanalis handal, atau ia sangat pandai mengobservasi orang (sehingga analisisnya itu sebenarnya berdasarkan perilaku yang saya tunjukkan), atau jago nebak-nebak; yang jelas hampir semua yang ia sampaikan tadi benar.

"Kamu tuh butuh kehadiran fisik. Nggak bisa long distance relationship."

Saya spontan tertawa.

Beberapa saat yang lalu, saya BBM-an dengan Ekki. Tentang bagaimana saya tidak bisa LDR-an, dalam hal ini dengan teman sendiri, karena saya nggak punya pacar dan belum pernah ngerasain LDR-an sama pacar (atau tepatnya, belum pernah punya pacar). Saya nggak bisa tuh nggak ketemu seseorang lebih dari sebulan dan tetep ngejalin hubungan yang intens. Saya nggak suka percakapan basa-basi hanya supaya komunikasi tetap terjalin rutin. I'm really bad at it. Saya tipe orang yang harus ketemu untuk bisa cerita panjang lebar. Saya bahkan suka kebingungan kalau ada yang curhat ke saya via instant messenger, karena buat saya mendengar aktif (yang melibatkan respons-respons nonverbal) jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada membaca aktif (yang melibatkan minimal prompts semacam 'ya ya' atau 'hooo, terus?' serta emoticon-emoticon penenang semacam big hug). Makanya, saya selalu jadi salah satu yang paling semangat untuk ngajak sahabat-sahabat saya di SMP dan SMA untuk ketemuan, to spend some quality time together, karena saya tau saya bisa kehilangan mereka kalau terus-terusan nggak ketemu.

Tawa saya tadi itu karena kaget.... Bahkan hal beginian bisa ditebak cuma dari benda yang saya pilih? Oh well... canggih sekali dosen saya! (Atau apapun ilmu yang membahas tentang ini - sehingga psikologi seringkali disangkutpautkan dengan ilmu ramal-meramal)

Kemudian, 'tebakan' selanjutnya yang dilontarkan Mas Ivan membuat saya semakin terpojok.

"Kamu punya pacar nggak sih?"

Saya kemudian menggeleng sambil tertawa pahit.

"Wah, cepet punya pacar gih. Kamu tuh sebenernya ngerasa sepi, meskipun pura-pura biasa aja."

Kali ini bukan hanya saya yang tertawa. Beberapa teman saya yang daritadi ikut menyimak dengan serius pun juga ikutan ketawa.

"Calon suami kali mas bukan pacar." 

Hanya itu yang bisa saya jawab karena saya bingung harus jawab apa lagi. Kemudian Mas Ivan menolak untuk menganalisis lebih jauh lagi, padahal lagi seru-serunya. Selain tiga hal di atas, ada satu lagi sebenarnya yang disampaikan oleh Mas Ivan, yang kembali ia tekankan saat dia tau zodiak saya Scorpio (itu pun ditebak sendiri sama Mas Ivan, entah gimana caranya). Tapi hal yang satu ini terlalu personal dan aneh untuk dibagi, apalagi di sini. Cukup saya aja lah ya yang tau, sambil bingung sendiri yang itu bener apa enggak.

--
Ramalan-ramalan Mas Ivan adalah salah satu hal yang menarik yang saya alami hari ini. Saya bingung harus nulis salah satu atau satu-satunya, karena setelah itu saya rapat selama lima jam dengan kondisi belum makan sejak pagi, dan kesal karena sesuatu dan lain hal. Saya tadinya mau nulis lebih panjang soal ini, karena saya butuh sarana untuk meregulasi emosi (yang sejak tadi masih sangat negatif), tapi saya jadi males dan milih untuk nggak ngebahas ini lagi, setidaknya hari ini. Yah, intinya saya lagi jenuh dan mulai bosan dengan rutinitas yang satu ini (karena saya memang tidak suka rutinitas, sebenarnya).




Saya ingin liburan lagi, atau sekedar menghabiskan waktu sendiri di hari yang hectic, dan mematikan handphone seharian. Terdengar menyenangkan dan menenangkan, bukan? Tapi saya tau, itu nggak akan bisa saya lakuin sebelum ini selesai. Jadi sekarang nggak ada yang bisa saya lakuin selain mengerahkan seluruh usaha saya sampai seluruh urusan ini selesai. Dan tetap menyelingi hari dengan menonton DVD sedikit, walau hanya dua-empat puluh menit.

"Tetap semangat, ya!"

Begitu isi pesan pendek saya kepada staff-staff saya di sie acara kamaba. Entah mereka tahu atau tidak, sebenarnya saya sedang menyemangati diri saya sendiri.

Friday, July 1, 2011

Seven Days In Sunny June

Seperti yang saya bilang sebelumnya, akhir-akhir ini saya merasa jauh dari-Nya, karena terlalu disibukkan oleh urusan dunia. Karenanya, saya sangat antusias ketika ayah saya mengajak kami sekeluarga untuk pergi sebentar, merelakan tujuh hari untuk lebih dekat dengan Tuhan, dan kemudian pergi dua hari untuk sekedar berjalan-jalan.

Maka pergilah kami ke dua kota yang paling diberkati oleh Allah. Tempat yang di dalamnya terdapat banyak bukti sejarah perkembangan Islam. Yang di dalamnya terdapat dua buah masjid terbesar dan termegah, yang akan membuat pahala kita bertambah 1000 dan 10000 kali lipat jika kita shalat didalamnya. Madinah dan Mekkah.


Saya suka Madinah. Kotanya nyaman dan sederhana, meskipun terik luar biasa karena saat siang suhu udaranya mencapai 45 derajat celcius. Bahkan, kata seorang pekerja Indonesia di sana, ketika Ramadhan nanti suhu udara di Madinah bisa mencapai 50 hingga 55 derajat celcius. Bayangkan.



Mekkah pun tidak kalah panas. Saya bahkan merasa lebih terganggu oleh teriknya panas matahari di sana - mungkin karena jarak antara Masjidil Haram dengan hotel yang saya tempati di Mekkah lebih jauh daripada jarak antara Masjid Nabawi dengan hotel yang saya tempati di Madinah. Mekkah terlihat lebih modern karena banyaknya gedung-gedung tinggi yang mengelilingi Masjidil Haram, termasuk jam yang baru saja selesai dibangun, yang merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia.

Saya lebih merasa nyaman berada di Masjid Nabawi daripada di Masjidil Haram, karena Masjidil Haram lebih penuh dan lebih panas karena tidak terdapat AC di dalamnya - tentu saja karena masjidnya terbuka, karena di tengahnya terdapat kubus hitam besar yang menjadi arah kiblat bagi seluruh umat islam di dunia, Ka'bah.



Melihat Ka'bah dengan mata kepala saya sendiri merupakan pengalaman yang menakjubkan buat saya. Seperti mimpi. "Mau-maunya ya orang-orang di seluruh dunia shalat menghadap ke sini, ke kotak gini doang!" Kata adik saya, sambil terkagum-kagum. Saya hanya tersenyum. Inilah mengapa agama disebut sebagai sesuatu yang bersifat supralogis, yang tidak bisa dijelaskan dengan logika manusia. Kita hanya harus percaya.

Saya juga terkagum-kagum melihat betapa beragamnya orang-orang yang berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ada orang Iran yang memakai kain hitam di luar pakaiannya yang juga hitam, ada orang India dan Srilanka yang di hidungnya terdapat tindikan, ada orang pakistan yang bahasa Inggrisnya cukup baik jika dibandingkan dengan yang lain, orang Turki yang cantik-cantik dan roknya lucu-lucu, orang Arab yang bercadar dan mengenakan gamis hitam yang kini sudah banyak model dan kreasinya sehingga saya bisa menyimpulkan (dengan sok tahunya) mana yang kaya dan mana yang biasa-biasa saja, dan tentunya orang Indonesia yang terkenal suka belanja hingga hampir semua pedagang di Mekkah dan Madinah bisa bahasa Indonesia, setidaknya bisa mengerti dan mengucapkan beberapa perkataan sederhana yang berhubungan dengan jual-beli dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih.

Bukan hanya suku, cara kami shalat pun tidak selamanya sama, meskipun tidak ada yang salah, karena kata ibu saya, yang berbeda itu bukanlah hal yang menjadi rukun atau syarat sah shalat. Contohnya saja, ketika i'tidal, ada yang meletakkan tangan di dada seperti ketika sedang melakukan gerakan pertama shalat. Ada pula yang justru mengangkat tangan ke atas seperti sedang berdo'a. Ada juga yang seperti kita orang Indonesia, meletakkan tangan di samping badan. Begitu juga dengan ketika sedang tahiyat. Ada yang tidak mengangkat jari telunjuk sama sekali. Ada yang hanya mengangkat sebentar, kemudian menurunkannya kembali. Ada yang mengangkat dan menggerakkan ke atas dan bawah berkali-kali. Ada pula yang sama seperti kebanyakan orang Indonesia, mengangkat dan menurunkannya kemudian, beberapa saat sebelum salam.

Perbedaan-perbedaan itu, meskipun membuat shalat saya berkurang kekhusyukannya karena asyik memperhatikan orang-orang di sebelah saya, membuat saya terkagum-kagum karena menyadari begitu beragamnya orang yang memeluk agama yang sama dengan saya. Kami berasal dari negara yang berbeda. Kami berbicara dengan bahasa yang berbeda. Kami dibesarkan dalam lingkungan budaya yang berbeda. Namun kami menyembah Tuhan yang sama dengan cara yang kurang lebih sama. Kami percaya pada hal yang sama.

Perjalanan ini membuat saya merasa lebih dekat dengan-Nya, karena saya benar-benar meninggalkan dunia saya sepenuhnya. Beruntung di Mekkah dan Madinah tidak ada wi-fi, jadi saya nggak tergoda untuk mengecek handphone saya.

Selesai menjalankan ibadah, kami bertolak ke Jeddah, tur sebentar lalu istirahat di Hotel. Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke Dubai dengan pesawat. Di sana, kami juga tur mengelilingi Dubai hingga jam sebelas malam.





Saya terkagum-kagum melihat Dubai. Tata kotanya sangat rapi. Di Dubai juga terdapat banyak sekali gedung-gedung tinggi, termasuk gedung tertinggi di Dunia. Dubai juga memiliki lift tercepat di Dunia, yang terletak di gedung tersebut, yang dapat melewati lebih dari 120 lantai hanya dalam waktu kurang dari dua menit. Dubai juga memiliki hotel terbesar di dunia, mall terbesar di dunia yang memuat aquarium (semacam sea world) dan fountain water yang bergerak sesuai musik di dalamnya - yang saking besarnya hingga terdapat 'taksi' untuk mengelilingi mall, dan bandar udara terbesar di dunia. Di Dubai terdapat banyak sekali rumah yang megah dan mobil-mobil mewah yang adik saya ketahui jenis dan serinya dari permainan-permainan di komputer. Tidak ada penduduk lokal yang miskin di sini, karena semuanya mendapat tunjangan dari pemerintah, asalkan yang wanita menikah dengan pria lokal dan yang pria menikah untuk yang pertama kali dengan wanita lokal (istri kedua dan seterusnya diperbolehkan berasal dari negara lain). Dubai benar-benar kota yang maju, megah, dan bersih. Satu hari di Dubai benar-benar tidak cukup. Semoga saja saya bisa kembali ke sini, seperti juga kembali ke Mekkah dan Madinah.

Saya banyak berdoa di Mekkah dan Madinah. Di raudhah, di multazam, dan di tempat-tempat lain. Dua doa saya, agar handphone saya yang sempat hilang di Mekkah bisa kembali dan agar nilai kognitif saya baik dan tidak merusak IP saya di semester ini sudah dikabulkan oleh Allah. Saya percaya doa saya yang lain juga akan dikabulkan-Nya, termasuk doa agar bisa kembali melakukan perjalan ibadah seperti ini lagi, baik dengan keluarga saya maupun dengan keluarga saya yang baru, yang akan terbentuk beberapa tahun nanti, juga doa agar kami sekeluarga bisa menjadi orang yang jauh lebih baik sepulang dari perjalanan suci ini.





LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...