Showing posts with label Psychology. Show all posts
Showing posts with label Psychology. Show all posts

Thursday, July 10, 2014

Tentang Psikologi dan LGBT

Jangan bosan ya, karena lagi-lagi saya akan menulis tentang LGBT. Ya, ini buah dari serangkaian seminar yang saya ikuti, bertemakan anti-feminisme dan kesetaraan gender. Minggu ini, pembicaranya adalah seseorang yang mengambil magister psikologi (tapi entah spesifikasi bidangnya apa). Temanya adalah pandangan psikologi mengenai "normalisasi" homoseksual. Menarik ya.

Psikologi memang ilmu yang dibaliknya terdapat banyak kaum sekuler dan liberalis. Saya akui itu. Dosen dan temen saya yang jadi agnostik atau atheis setelah masuk psikologi juga ada, kok - apalagi yang "cuma" liberal atau sekuler. Tapi saya nggak setuju kalau psikologi dibilang sebagai ilmu yang sesat, atau ilmu yang nggak bermanfaat (ada beberapa ibu-ibu yang nyeletuk gitu setelah materi kemarin disampaikan). Jujur, saya sedih banget, cenderung ke marah bahkan mungkin ya, cuma ditahan karena itu bukan forum akademis (jadi kalau saya sibuk ngasih kritik orang-orang malah akan ngira saya ikutan liberal) dan karena saya lagi puasa. Catetan saya mah udah banyak banget, udah sibuk nyoret-nyoret sana-sini dan googling sana-sini buat crosscheck data. Udah siap dengan counter-argument untuk beberapa poin yang saya nilai asumtif atau subyektif. Tapi ditahan sama ibu saya karena takut menjatuhkan kredibilitas pembicara.

Saya jatuh cinta dengan ilmu psikologi. Buat saya, menemukan penjelasan mengenai manusia itu rasanya menyenangkan. Pembicara kemarin bilang kalau belajar psikologi itu buang-buang waktu dan "nggak menambah keimanan". Buat saya, mempelajari tentang proses mental dan perilaku manusia justru makin membuat saya kagum sama Allah, yang bisa menciptakan manusia dengan segitu kompleksnya. Kalau belajar ilmu baru emang nggak boleh su'uzhan dulu, supaya bisa dapet hikmahnya.

Saya kecewa karena pembicara kemarin asal "nyaplok" teori dan penelitian psikologi yang berlawanan dengan ideologi dia (dan kebanyakan peserta seminar). Ibu saya agak heran ngeliat saya sekesal itu, tapi mengerti setelah saya jelaskan bahwa rasanya sama dengan ketika ada orang yang cuma belajar Islam sebentar, cuma lihat cuplikan ayat tentang poligami, warisan, dan "memukul istri" tanpa baca tafsir, tapi sibuk berkoar-koar kalau Islam itu agama yang diskriminatif terhadap wanita. Ya gimana enggak, teori yang dibahas kemarin cuma humanistik, psikoanalisis, behavioralistik sendiri-sendiri; padahal itu pilihan cara pandang, dan padahal ada cara pandang baru yang lebih menyeluruh dan masuk akal; cara pandang yang lebih kontemporer, yang menganggap bahwa manusia terbentuk berdasarkan pengaruh genetis dan lingkungan; nature versus nurture.

Selain itu, pembicara juga menjelaskan seolah-olah semua orang yang belajar psikologi setuju dengan teori Freud dan pandangan bahwa manusia bebas melakukan apapun demi kebahagiaan pribadinya. Ditambah dengan pernyataan bahwa dalam ilmu psikologi, benar dan salah adalah hal yang relatif dan bebas ditentukan sendiri. Saya sih sepakat kalau benar dan salah memang merupakan hal yang bersifat relatif, tapi diatur oleh norma yang berlaku di masyarakat setempat. Agama bisa jadi salah satu faktor penentunya. Jadi nggak bener kalau menurut psikologi semua perilaku bisa dilakukan asal bikin bahagia. Kalau bertentangan dengan norma yang berlaku di suatu kelompok (agama, suku, dan lainnya), tentu perilaku itu jadi bernilai buruk di mata kelompok tersebut. Masih ada beberapa poin lagi yang dikritisi oleh pembicara. Sayangnya, hampir tidak ada satu pun poin yang saya sepakati, yang saya anggap bisa menggambarkan psikologi secara obyektif. Kebanyakaan yang dia sampaikan oversimplified dan bias. 

Pada pertemuan kemarin, si pembicara juga sempat membahas mengenai kritik yang ia sampaikan terhadap hasil-hasil penelitian neuropsikologi mengenai homoseksualitas. Penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa homoseksualitas mungkin muncul karena ada perbedaan di struktur otak, kromosom, dan lainnya. Penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa homoseksualitas terjadi karena masalah genetik. Sayangnya, menurut saya, pembicara tidak punya kapabilitas (dari segi ilmu pengetahuan) untuk menyampaikan kritik tersebut. Jadinya malah bikin justifikasi doang, bahwa penelitian-penelitian itu dibuat untuk melegalkan homoseksualitas dengan menunjukkan "I was born this way". Dia kekeuh kalau homoseksualitas itu seratus persen lingkungan, titik. Kalau ada gangguan hormon atau otak ya itu pengecualian. Yang bikin lebih gemes lagi, penelitian yang diambil adalah penelitian-penelitian lama (ada sih yang dia bilang baru, tapi tahun 2005, 7 tahun yang lalu), padahal saya tahu ada penelitian yang lebih baru. Saya belum bisa komentar banyak soal ini, karena saya merasa pengetahuan saya belum cukup banyak untuk bisa me-review jurnal neuroscience dan neuropsikologi. Ini salah satu PR buat saya setelah selesai kuliah magister nanti (meskipun bidang studi yang saya tekuni hanya tipis irisannya dengan masalah gender dan seksualitas).

My point is, hati-hati dalam memberikan komentar, apalagi terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu di bidang tersebut. Kritik boleh banget diberikan, tapi harus didukung oleh fakta dan basic ilmu yang kuat. Jangan coba-coba mengkritik sesuatu kalau ternyata kita belum benar-benar memahaminya. Silahkan kritis, tapi jangan skeptis. Jangan sampai kebencian kita terhadap suatu hal membuat mata, hati, dan telinga kita jadi tertutup.

Saya makin rindu dengan situasi diskusi akademis, di mana dua pihak dengan pandangan dan nilai yang berbeda bisa saling menyampaikan dan mendengarkan pendapat tanpa saling menjatuhkan. Karena belum tentu kita yang benar, iya kan?

Friday, June 27, 2014

Tentang Feminisme dan Kesetaraan Gender

Untuk mengisi liburan (baca: hari-hari menjadi pengangguran), saya berusaha untuk melibatkan diri ke dalam beberapa aktivitas supaya nggak kehilangan jati diri. Salah satu kegiatan yang saya ikuti adalah pelatihan (anti) feminisme dan kesetaraan gender yang dilakukan oleh AILA,  sebuah aliansi dari beberapa lembaga mengenai pengarusutamaan keluarga (salah satu anggotanya adalah ibu saya), yang dilakukan dalam tujuh pertemuan selama tujuh minggu. Kegiatan ini sebenarnya adalah training for trainers, makanya yang ikut kebanyakan adalah para pejuang anti-feminisme dari berbagai lembaga. Sejauh mata memandang, kayaknya sih saya peserta yang paling muda dan paling minim pengalaman.

Sebelumnya, saya sudah bertekad untuk menjadi peserta yang kritis dan open-minded. Udah kebayang lah topik-topik apa aja yang akan diangkat, dan saya udah tau gimana orang-orang yang terlalu benci sama feminisme dan LGBT, sampe suka sotoy dan over-generalize banyak hal. Bukannya saya nggak setuju, tapi buat saya, kebencian kita terhadap sesuatu nggak boleh sampe menutup mata kita untuk mendengarkan hal-hal dari sisi seberang. Makanya saya cenderung kurang suka sama orang-orang yang terlalu fanatik sama suatu hal, hal apapun, sampai akhirnya jadi nutup mata, hati, dan telinga sama fakta-fakta baru yang ada.

Sejauh ini, sudah ada tujuh pertemuan yang diadakan. Di pertemuan pertama, kami belajar tentang Islamic Worldview, atau cara pandang Islam. Di materi ini, kami juga sedikit banyak belajar tentang liberalisme dan teman-temannya. Di pertemuan kedua, kami belajar tentang sejarah feminisme dan relevansinya dengan masa kini. Di pertemuan ketiga temanya makin menarik, kami belajar tentang tafsir ayat-ayat Quran yang sering dikritik oleh para feminis dan liberalis. Kami belajar langsung dari seorang ustadz yang juga seorang doktor dalam bidang ilmu tafsir. Program sarjana dan magisternya pun seputar ilmu tafsir. 

Saya seneng banget belajar dari orang yang pinter. Training ini memenuhi kebutuhan saya karena hampir semua pembicaranya adalah ustadz-ustadz yang pakar di bidangnya, paham banget Quran dan Islam sampai mendalam, dan mampu menjawab pertanyaan dari orang-orang yang mulai skeptis dengan ajaran Islam.

Di pertemuan ketiga kemarin, kami belajar tentang tafsir pernikahan, poligami, waris, dan lain-lain. Salah satu informasi yang menarik buat saya adalah pernyataan dari Ustadz Dr. Saiful Bahri bahwa salah ayat "Ar-Rijaalu qawwaamuuna 'alan-nisaa" (laki-laki adalah pemimpin untuk wanita) yang cukup kontroversial ternyata memang hanya relevan untuk membahas hubungan domestik - hubungan rumah tangga - bukan untuk hubungan lain. Intinya, wanita boleh saja menjadi pemimpin bagi laki-laki di pekerjaan dan organisasi, tapi di rumah, pria lah yang harus jadi pemimpinnya. Saya sih bingung kenapa masih banyak banget orang yang nuntut kesetaraan peran pria-wanita di rumah tangga (bahkan sampai harus ditulis ke dalam UU). Saya sendiri akan protes luar biasa kalau nanti saya nggak bisa jadi pemimpin di ranah saya, hanya karena saya seorang perempuan. Tapi saya nggak mau tuh jadi alpha wife. Saya tetep mau dapet suami yang bisa 'menundukkan' saya yang cukup dominan ini. Saya mau suami yang bisa saya hormati dan saya 'layani' dengan senang hati. Kalau dikerjakan dengan suka rela, jadinya bukan diskriminasi dan opresi kan?

Di pertemuan ketiga kemarin, menyadari bahwa pembicara hari itu adalah Ustadz yang paham benar tentang bahasa Quran, saya melontarkan sebuah pertanyaan. Kasus, lebih tepatnya. Tentang seorang teman saya di kampus yang memiliki gender dysphoria. Saya ceritakan lah bahwa menurut saya itu terjadi karena masalah hormonal, bukan karena pilihan atau gaya hidup, bahwa saya setuju ada kamar mandi yang bebas-gender untuk orang-orang seperti dia (karena sebelumnya beliau mengatakan bahwa munculnya kamar mandi bebas-gender adalah hal yang membahayakan dan sebagainya), dan bahwa kini pikiran saya mengenai LGBT jauh lebih terbuka karena saya mempelajari ilmu psikologi. Saya belajar dari sudut pandang kesehatan mental serta dari kacamata orang yang memiliki gender dysphoria juga. Kalau memang dia dilahirkan dengan hormon yang tidak seimbang (meskipun alat kelamin yang dimiliki hanya satu, alat kelamin laki-laki), bukankah memang wajar kalau dia berperilaku seperti wanita?



Sesuai dugaan saya, ustadz Saiful (serta ibu-ibu yang lain, yang berulang kali beristighfar dengan suara keras dan nada kaget ketika saya bercerita) menganggap bahwa kasus teman saya ini ya sifatnya "kasuistik". Saya bisa aja membantah dan bilang kalau saya tahu banyak orang yang bersifat dan berperilaku menyerupai gender lawannya sejak kecil, tapi saya memilih untuk mendengarkan pendapat sang ustadz. Menurutnya, apapun alasannya, jalan untuk bertaubat terbuka lebar dan memang harus dipilih.

Di luar ekspektasi saya, Ustadz Saiful menambahkan bahwa kalau memang bisa dibuktikan secara medis bahwa ada gangguan hormonal (atau gangguan lain yang menyatakan bahwa ini adalah masalah genetis, bukan pengaruh lingkungan), maka yang bersangkutan boleh melakukan operasi untuk merubah jenis kelamin sesuai dengan pilihan atau kecenderungannya. Dan ketika yang bersangkutan telah merubah identitasnya menjadi wanita, maka gugurlah kewajibannya sebagai pria. Ini adalah pendapat yang menarik karena keluar dari seorang ahli tafsir yang benci dengan interpretasi para liberalis terhadap Quran, jadi saya percaya bahwa apa yang ditafsirkan memiliki landasan yang kuat. Islam itu memudahkan, jadi nggak usah lah dibikin sulit.

Nah, kan, ketemu jalan tengahnya. Saya seneng banget kalau belajar Islam dari ustadz yang pinter dan terbuka, tapi tetap nggak menginterpretasi Quran seenak jidatnya. Bukan dari orang-orang yang cuma paham Islam secuplik, terus mempromosikan diri jadi ustadz. Atau dari orang-orang yang sebenernya pintar, tapi terlalu ngotot kalau pandangannya yang bener, dan orang lain yang nggak sepakat ya berarti berdosa. Atau para tokoh agama yang terlalu egois sampai mengubah aturan-aturan Allah agar sesuai dengan keinginan pribadinya.

Kurang-kurangin lah yuk bersikap terlalu fanatik terhadap sesuatu. Jadi moderat tapi tahu alasannya menurut saya jauh lebih baik. Moderat, tapi tetap taat sesuai syariat. Islam itu adil dan sempurna. Semua pasti ada jalan tengahnya.

Monday, May 5, 2014

Sekilas Tentang Autisme

(Tulisan ini ceritanya dibuat untuk menyambut Autism Awareness Day 2013, tapi tertunda setahun dan akhirnya baru bisa di-publish sekarang, hehe)

____________________________________

Meskipun autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang paling populer, bahkan sering digunakan sebagai gurauan sehari-hari, rupanya belum banyak orang yang paham dengan gangguan ini. Kata ‘autis’ tidak ada hubungannya dengan asik memegang HP. Autisme juga tidak sama dengan bertingkah konyol.

Jadi, anak autis itu kayak gimana?

Gangguan Spectrum Autisme (Autism Spectrum Disorder atau ASD) adalah sebuah gangguan perkembangan yang ditandai oleh masalah dalam hal komunikasi, kemampuan sosial, dan perilaku berulang. Masalah dalam komunikasi umumnya ditandai oleh kemampuan bicara yang terlambat, yang merupakan salah satu gejala yang paling awal terdeteksi. Dalam hal sosialisasi, anak autistik biasanya kesulitan untuk memikirkan sesuatu dari sudut pandang orang lain, sehingga seringkali melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku di sekitarnya – atau lebih sederhana lagi, kesulitan untuk berempati atau memahami perasaan orang lain. Kebanyakan dari mereka juga kesulitan untuk berbicara dua arah dan mempertahankan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain. Selain itu, masalah perilaku umumnya ditunjukkan oleh kecenderungan untuk melakukan sesuatu secara rutin dan berulang (mereka cenderung kaku terhadap perubahan) dan perilaku yang dilakukan secara repetitif (misalnya menggerakkan tangan atau ‘flapping’).

Karena merupakan sebuah spektrum, gangguan ini sangat beragam. Di DSM (‘kitab’ untuk mendiagnosis gangguan mental) IV, ASD terbagi ke dalam tiga kategori: autistic disorder, Asperger’s syndrome (untuk anak yang high-functioning dan tidak mengalami keterlambatan bicara ketika kecil), dan PDD-NOS (untuk anak yang hanya memiliki beberapa gejala autistik). Tapi, di DSM yang terbaru, ketiga gangguan ini kembali disatukan karena batasannya dianggap tidak terlalu jelas.

Kemampuan anak autistik sangat beragam, tergantung tingkat keparahan gangguannya. Seorang murid saya, sebut saja Ishan, memiliki kemampuan bahasa yang sangat baik. Ia mampu menggunakan istilah kompleks dan dapat menguasai bahasa baru dengan mudah. Namun, ia sering terlalu asik dengan imajinasinya dan harus terus diawasi agar bisa melakukan interaksi sosial yang wajar dengan teman seusianya. Murid saya yang lain, sebut saja Tama, hanya bisa mengucapkan satu sampai dua kata untuk menjelaskan keinginannya (misalnya: “tisu”, “toilet”, atau “rautan”). Ia juga sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan untuk bermain dengan temannya, dan sangat kaku dan perfeksionis. Ia bisa gelisah kalau ada jadwal pelajaran yang tiba-tiba berubah, dan bisa berulang kali meminta izin untuk meraut meskipun pensilnya masih tajam. Meskipun kemampuannya sangat berbeda, Ishan dan Tama sama-sama didiagnosis ASD.




Tapi anak autis itu pinter kan ya? Autis tuh karena kepinteran kan ya?

“Anak autis kan pinter” adalah salah satu rumor yang paling sering saya dengar mengenai ASD. Betul memang, terdapat beberapa individu autistik dengan tingkat inteligensi di atas rata-rata (misalnya Temple Grandin). Namun, statistically speaking, berbagai hasil penelitian yang saya baca secara konsisten menunjukkan bahwa 70% anak dengan ASD juga mengalami gangguan inteligensi (IQ di bawah rata-rata). Selain karena gangguan inteligensi, anak ASD kerap memiliki masalah dalam hal akademis karena kemampuan verbal mereka yang terbatas. Mereka bisa saja pandai berhitung dan bisa menyelesaikan soal dengan cepat karena telah di-drilling, namun kebanyakan anak dengan autisme memiliki masalah dalam hal komprehensi dan berpikir secara abstrak. Mereka akan kesulitan dalam mengerjakan soal cerita, misalnya. Tapi, lagi-lagi, tentu tidak semua anak ASD mengalami masalah ini.

Kenapa mereka bisa jadi autis?

Penyebab autisme, sejauh yang saya ketahui, masih menjadi perdebatan di kalangan para ilmuwan psikologi dan neuroscience. Yang jelas, tidak ada bukti yang valid bahwa vaksinasi menyebabkan autisme. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap saudara dengan autisme (twin and sibling studies) menunjukkan bahwa autisme merupakan gangguan genetis. Namun, berbeda dengan down syndrome, autisme bukan disebabkan oleh gangguan di salah satu kromosom.



Apa yang bisa saya lakukan kalau saya bertemu dengan anak ASD?

Saya juga sejujurnya masih suka bingung harus ngapain kalau bertemu dengan anak (yang saya curigai) ASD di tempat umum. Tapi, yang paling pasti, saya memilih untuk tidak memperhatikan mereka dengan sinis. They might act weird, they might disturb you by saying things repeatedly, but they are not doing that on purpose. It obviously is beyond their control! Bukan salah mereka kalau mereka tidak bisa mengikuti norma sosial yang berlaku. Bukan salah orang tuanya juga. Jadi, kita yang neuro-typical ini lah yang harus ngalah dan menerima perbedaan.

“I’m different, but not less.” – Temple Grandin


Anak-anak ASD mungkin terlihat berbeda. In fact, mereka melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda. Tapi bukan berarti mereka lebih buruk dari kita. Beberapa dari mereka bahkan memiliki kelebihan-kelebihan khusus: Kemampuan imajinasi yang luar biasa, kemampuan menggambar dan memperhatikan objek dengan detil, kemampuan menghapal, atau kemampuan lain. 

Yuk mulai perlakukan individu autistik dengan lebih baik! Happy belated autism awareness day! :)

Saturday, August 17, 2013

Just A Prattle

"Pick up three words to explain yourself!"
"Er.... Extroverted...."
"Really? I mean, I can't really see it right now."

That was a conversation between me and someone who interviewed me for a job, who later became my boss. At that moment, I realized that I don't even know three words to describe myself - and that I'm not even sure that I am an extrovert. That's just what those tests told me - the popular psychology tests I took during high school, when I know nothing about psychology yet. 

So, am I?

At this point, I realize that I do enjoy being in solitude, as well as spending hours to talk and laugh with friends. I love meeting new friends, but at the same time, I also find it intimidating. My coping strategy is both sharing my problems to my friends or family and having a me time. But do I enjoy being in crowd or in a party? Not as much as I do when I locked myself in my own room, frankly.

A few years ago, I took a test that analyzed my personality based on my handwriting. Again, back then I know nothing about psychology, let alone about validity and reliability in psychological testing, so I can't really say whether it's trustworthy or not. I was pretty satisfied with the result, though. It said that I am an ambivert - somewhere in the middle of extrovert and introvert. Learning in college that extroversion and introversion is a continuum - not a category, and knowing that every good test should distribute normally in a bell curve (meaning that most of the people took the test are in the middle), I think I might be in the middle of the continuum; an ambivert. From those tests that are based on Galen's theory of personality, I also found out that I am both sanguine and phlegmatic (they balance out each other).

I know it's silly, but I've been thinking a lot about it because it's bugging me lately. Being away from school (where I can meet a lot of people my age everyday), I only have regular meeting with friends I feel really close with. It even comes to a moment when my mom asked who am I going to hang out with, and all I have to say is "Of course you know with whom. Who else?" At that moment, I realized that I don't have a lot of friends. I don't even have a best friend I've known for more than ten years. I mean, I used to be best friends with them, but eventually time separates us. I'm not good with making a long-distance relationship with my friends, so I ended up being really close with those who I can meet every day.

Sometimes, I despise myself for that. It happens a lot when most of my friends posted on Path about their meeting with their best friends from primary school, or anything like that. I do enjoy being in a reunion, but I would prefer a long, warm, talk - and I don't think that it's something that I can do with my old friends, except one or two who still contacted me sometimes to share their problems.

But when I meet those best friends I met in college, I know that quality beats quantity. Having a few best friends who are all mature, intelligent, and good partners to discuss with is a blessing that not everyone could have. Having a few best friends who I can tell every detail of my life with is enough.

Anyways, I think I started to prattle again. As I said, it's just bothering me lately and writing helps me think rationally. And if anyone's reading, if we used to be so close but we're now acting like strangers, it's probably not you. Perhaps it's me. Let's sit and talk, and let's see if we can start over again.

And for those who I still take as my significant others, thank you for being in my life, and thank you for staying.

Sunday, May 19, 2013

Tentang Sekolah dan Pendidikan

Setelah dulu magang selama satu bulan di Sekolah Cikal dan hampir tiga bulan bekerja di Sekolah Cita Buana, saya menarik satu kesimpulan: Pendidikan yang baik memang mahal, meskipun pendidikan yang mahal juga belum tentu baik.

Dulu, saya mencibir sekolah-sekolah yang terlalu mahal. Sekolah-sekolah berisi anak-anak orang kaya yang sejak kecil terbiasa untuk menjalani hidup dengan cara yang paling mudah. Sekolah-sekolah berisi anak-anak yang orang tuanya memiliki gengsi yang terlalu tinggi, sehingga tidak keberatan merogoh kocek dalam asal anaknya bisa masuk ke sekolah mahal yang terkenal. Sekolah-sekolah yang selalu bikin macet setiap pagi, dan yang lapangan parkirnya selalu dipenuhi mobil-mobil mewah. Sekolah yang nantinya akan membuat anak semakin borjuis.

Sekarang, saya tahu bahwa ada alasan di balik jutaan rupiah yang harus dibayar orang tua setiap bulan. Sekolah yang baik memerlukan sarana dan prasarana yang bisa menunjang pembelajaran (termasuk lahan yang luas agar anak-anak bebas bermain dan mengeksplorasi lingkungannya), guru-guru yang berkualitas (sehingga harus dibayar lebih mahal), serta kurikulum yang terintegrasi dari beberapa negara yang sistem pendidikannya sudah sangat baik. Semua memerlukan biaya yang besar, sehingga biaya bulanan yang harus dibayar orang tua pun pun bisa menjadi lebih besar daripada penghasilan freshgraduate di Jakarta. Sekolah yang baik memang tidak harus mahal, tapi sekolah yang mahal karena sistem pendidikan, pendidik, serta fasilitasnya (bukan karena pengelolanya terlalu mementingkan profit) will be worth every penny. You will definitely get what you paid.

Menurut saya, sekolah (terutama TK dan sekolah dasar) adalah investasi. Bukan hanya investasi dari segi finansial loh ya, tapi investasi dalam "membentuk" anak agar bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apa yang ditanamkan di sekolah dan di rumah, jika terinternalisasi dengan baik oleh anak, akan membentuk karakter seorang anak. Bagaimana cara berpikir, berperilaku, dan menilai sesuatu. Hingga saat ini, saya yang tadinya anti-sekolah-mahal jadi bimbang... Apakah nanti saya juga harus menyekolahkan anak-anak saya di sekolah yang mahal?

Bagaimana pun, layaknya semua hal di dunia ini, tidak ada sekolah yang sempurna. Itulah yang membuat saya kebingungan jika ada orang yang menanyakan rekomendasi SD swasta untuk anaknya. Memilih SD untuk anak menurut saya serupa dengan memilih pasangan hidup.. Pada akhirnya, harus ada yang lebih diprioritaskan. Beberapa orang lebih memperhatikan penampilan - bagaimana fasilitasnya, aksesnya, gengsinya. Buat saya, sekolah yang paling tepat adalah sekolah yang mengajarkan nilai-nilai yang sama (atau sejalan) dengan yang ingin diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Karenanya, sebelum menyekolahkan anak, orang tua harus tahu terlebih dahulu, nilai apa yang dianggap penting dan ingin diajarkan kepada anak. Agama kah? Kompetisi? Moral? Seni? Alam? Akademis? Toleransi antar budaya dan agama? Pengembangan potensi diri dengan maksimal?

Faktanya, setiap sekolah beserta unsur di dalamnya memiliki nilai yang berbeda-beda, yang nantinya akan diturunkan kepada setiap peserta didik di sekolah tersebut. Makanya, penting untuk menyesuaikan ekspektasi orang tua dengan apa yang ditawarkan oleh sekolah. Menurut saya, mendidik seorang anak harus dibarengi oleh konsistensi dari setiap aspek di lingkungan. Jangan sampai apa yang diajarkan oleh orang tua di rumah ternyata berbeda dengan kenyataan yang ditemui di sekolah, atau malah sebaliknya.

Buat saya pribadi, salah satu nilai yang paling penting yang harus ditanamkan oleh para pendidik di sekolah adalah nilai agama. Karenanya, sekolah anak saya nanti harus sekolah Islam. Itu dulu yang terpenting. Kenapa? Karena anak-anak belajar melalui meniru dan melalui pembiasaan. Bagaimana pun, ritual-ritual keagamaan harus dibiasakan sejak dini. Dan saya percaya, anak yang sudah dibekali dengan pendidikan agama yang baik (termasuk di dalamnya mengenai pendidikan akhlak), akan memiliki moral yang baik pula, sehingga pendidikan agama (di rumah dan di sekolah) adalah sebuah fondasi untuk menghasilkan generasi yang berkualitas. Belajar agama itu bukan hanya di ranah kognitif, tapi juga harus sampai ke ranah afektif. Bukan hanya dengan menghapal ayat dan fiqih, tapi juga melalui contoh tentang cara berperilaku yang baik.

Selanjutnya, saya sangat mengagumi sekolah-sekolah berkurikulum internasional (atau kurikulum yang dibuat sendiri oleh orang-orang yang paham tentang pendidikan) karena kurikulumnya membiasakan anak untuk berpikir kritis. Anak-anak ini tidak diajarkan untuk melalap buku dan menghapalkan apa yang ada di buku (beberapa sekolah internasional bahkan tidak punya buku pelajaran!). Instead, mereka diajak untuk membahas kejadian di sekitar mereka. Mereka dibiasakan untuk menggunakan logika mereka - mengapa bisa seperti itu, apa saja dampak negatif dan positif dari suatu kejadian, apa yang bisa dilakukan, dan lainnya. Mereka dibiasakan untuk menggunakan otak mereka yang luar biasa potensinya untuk menganalisis, bukan hanya untuk menghapal. Selain itu, anak-anak juga dibiasakan untuk melakukan presentasi sejak dini. Mereka dibiasakan untuk berani berbicara di depan umum, berani berpendapat, dan berani memberikan kritik dan saran. Saya percaya, pengajaran dengan metode seperti ini akan jauh lebih bermanfaat daripada pelajaran-pelajaran akademis yang diujikan oleh negara.

Taksonomi Bloom (yang telah direvisi). Sedih kan, begitu tahu kalau UAN hanya menguji satu atau dua tujuan pendidikan yang paling bawah?

Selain itu, saya sangat mengapresiasi kedua sekolah yang sudah pernah saya masuki tersebut karena mengajarkan seni dan olah raga dalam porsi yang sangat besar. Ada pelajaran musik, visual art, drama, dan PE (pendidikan jasmani). Menurut saya, hal ini menjadi sangat baik karena pelajaran yang seringkali dianggap tidak penting (bahkan oleh saya, ketika sekolah dulu) ini memberikan kesempatan lebih besar kepada anak untuk mengembangkan kreativitasnya, dan untuk menjadi diri mereka sendiri. Selain itu, porsi pelajaran nonakademis yang cukup besar menurut saya sangat baik karena membuat setiap anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya. Ketika magang di Cikal dulu, saya bisa melihat potensi yang dimiliki setiap anak di kelas saya - karena terdapat kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan kemampuannya. Hal ini sangat penting bagi self-esteem anak, karena ia akan dinilai orang lain (dan menilai diri sendiri karenanya) berdasarkan bakat dan kemampuan yang ia miliki, bukan hanya berdasarkan pelajaran-pelajaran yang dianggap penting oleh lingkungan.
Hal yang seringkali dilupakan oleh orang tua, guru, atau siapa saja: menilai anak hanya dari pelajaran-pelajaran yang dianggap penting (terutama pelajaran-pelajaran yang di UAN-kan)


Karena alasan ini juga, saya beranggapan bahwa sekolah yang baik tidak akan menerapkan sistem ranking untuk menentukan mana anak yang paling baik. Setiap anak itu istimewa, dan membandingkan mereka hanya berdasarkan beberapa aspek tertentu buat saya adalah keputusan yang tidak adil untuk mereka.

But then again, pendidikan yang sempurna di sekolah tidak akan berimbas besar bagi anak jika ia tidak mendapatkan stimulasi, perhatian dan kasih sayang, disiplin, serta contoh yang baik di rumah. Bagaimana pun, seperti kata seorang ulama yang saya kutip di latar belakang skripsi saya, "Al-ummu madrasatul uulaa." Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Intinya, saya harus kerja keras supaya anak saya bisa sekolah di sekolah yang bagus, meskipun saya tetap nggak mau nyekolahin anak di sekolah yang bener-bener mahal karena khawatir anak saya jadi borjuis dan terbiasa hidup serba mudah. Tapi, meskipun begitu, ada satu hal lagi yang harus saya catet: Saya tetep harus jadi sekolah yang pertama dan utama untuk anak-anak saya nanti. Di sekolah apa pun mereka nanti, harus ada nilai-nilai penting yang mereka pelajari di rumah. Harus ada banyak hal baik yang tertanam pada diri mereka, karena diajarkan oleh dan ditiru dari orang tuanya. Merealisasikannya nggak akan mudah, tapi semoga tulisan ini juga bisa menjadi pengingat untuk saya.

Oh iya, sejauh yang saya tahu, belum ada sekolah yang bener-bener sesuai dengan kriteria sekolah-idaman-untuk-anak-saya yang sudah saya tuliskan di atas. Karenanya, saya jadi punya satu mimpi besar lagi: membuat sekolah impian saya. Tapi nanti ya, kalau saya sudah jadi psikolog terkenal dan sudah punya klinik keluarga dan tumbuh kembang anak yang keren. It's still a long, long, loooong way to go. But everything is possible if Allah allows it, right?

Friday, March 1, 2013

Those Special Kids

This week was my first week of working. I work as a teacher assistant at special education department in Sekolah Cita Buana. For now, it's only a temporary job - only for three months. After that, I will have to make a decision whether to continue my study (if I get accepted) or postpone it for a while and stay at least for another year (if I have the chance to).

I will write about it, based on some questions that was usually asked by my acquaintances.

What does 'special education' means?

Special education means education program for kids with special needs, or in another term, kids with disability that makes it hard for them to do some activities like any other kid, so they need to be treated differently. Each of them need an individualized learning plan - a tailor-made one, because even when they have the same disability, they are very different from each other. They need extra attention from their teachers, because to make a good tailor-made plan, the teachers have to know every single details about them.

There are a whole lot of type of them, but most of the kids in my department are dealing with ASD (Autistic Spectrum Disorder) or borderline (very mild) Intellectual Disability (the new term for Mental Retardation) -  also known as Slow Learner (because they really need time to process something, that's why most of the mean laymen will just call them as 'stupid').

What's so great about them?

Autistic kids have problem in their social skill, besides the problem in behavior and communication skill. It's really hard for them to empathize or to see things from other people's point of view. It's hard for them to observe the situation and adjust themselves to suit that. That's why, one of the most important thing that might be taught to them is how to be polite to other people. How to act normal around people, how to say something nice, how to know what to say in every particular situation, how to stare at people while talking, and other things like that. They are also told to greet people they meet. It makes it easier for me to mingle when I had a teaching demonstration (as part of the selection process), because some of the kids came to me and asked bluntly, "who are you?", or "what's your name?", or "ibu siapa?", or "are you a new teacher?". It made things easier for me, because all I had to do is answer them and continue the conversation. And I'm so touched to know that two week after the teaching-demo (and after I was told that I got the job), I came back for my first day, and most of them still remember my name. I mean, they only met me for a day, and they remember my name the next two weeks before? How cool is that!

But, of course, that's not all.
I love them because they always struggle in school. They always work so hard, and they never stop trying. They have limited capacity, but the environment is pushing them to be like any other people, so yes, they are struggling real hard. Most of the times, they fail at first. But then the teacher push them, they struggle, they do their best, they fail again, they cry, they try again, and then finally succeed, and feel proud of themselves because they can prove their teacher that they can meet their expectation. 

I love to help them do that. Helping them to perform to reach their potential level feels awesome. Beyond, awesome. Teaching an autistic kid about how to do subtraction or to count backward is more fun and challenging than teaching my sister about the most complicated math lesson for a student her grade. It is more challenging for them, because they have some problem with their mind - and more challenging for me (or any teacher), because I have to use the simplest word that I can find, and I have to be patient to wait and explain it to them all over again, until they can finally do it. But, once they can do it, the feeling of happiness I felt is just... priceless.

What is Sekolah Cita Buana?

It's a partial-inclusive school in Jakarta Selatan. It's a bilingual school (yet of course, english is used more often) with national plus curriculum, so the school is super-pricey and can only be afforded by those with filthy-rich parents. So yes, in our department, we deal with kids who come from a wealthy family, but has a disability. They were so lucky that they came from rich parents who can afford a school this good, yet this expensive.

The other school where I had my internship at, Sekolah Cikal, is also an inclusive school. But it's a full-inclusive one, so it has pretty different approach for the special needs kids. In my own opinion, Sekolah Cita Buana has a much better approach for the special needs kids. I really love the teaching techniques and tricks. Besides, most of the teachers in my department (Learning Center) were from faculty of psychology, Universitas Indonesia, too, so I trust them more, and I really like the fact that all of them are passionate about and crazy about the kids. These great teachers are not just teaching the kids, they're educating them.

Learning Center?

So, Sekolah Cita Buana has three sub departments of the special education department: Special Need (SN) for primary students with moderate (or below) disability, Learning Center (LC) for primary students with mild until moderate disability, and TEC for middle and high school special needs students. As I wrote before, I work in LC. 

So, how many kids are there? 

They are 14 kids in LC: Fikri the train-maniac who is really good at playing gamelan, Joey the handsome one who told me that his dad has a Ferrari, Nicole the cutest one who is very friendly and lovable, Shakira who has a sweet smile and is super pretty, Rizqi who is also friendly and was made crying by me on my fourth day during Math, Owen who asks a lot of questions and very talkative, Gio the nice kid who is extremely shy, Sylvanna with the 'drama'-tone voice who is so obedient, Jordan the talented swimmer who likes to sit on the corner or the back, Adit who keep saying 'Bu Ayas marah?' when I prohibit him to do something, Callie the 'bule' who can't stop giggling and is going through puberty, Kenan the childish one who is obsessed with The Smurfs and has the kind of cheek that you'd want to pinch all day, Wilbert with the javanese-accent who only came to LC once in a while, and Raffi, who is also a chatter and likes to joke (he said "I should've been in prison, Bu" after he told me his name - because it's like Raffi Ahmad's name). 

I will talk about them a lot for the last three months, that's for sure. But I think I won't write down their name when I wrote something detailed. 

So you teach all of the 14 kids?

No, of course not, because as I wrote before, they need to be taught one-by-one, so the teacher can really know their ability, their progress, and their potentials. In the classroom, a teacher only teaches two until five kids at once, with different education plan for each of them - different lesson, different level. So, yes, it's very challenging for the teacher. As a teacher assistant, one of my job is to help the teacher by helping the kids to do some worksheets, or by teaching them something when the main teacher's busy teaching other kids.

So how was it, working with them?

It's amazing. A-MA-ZING! I can't really describe it with words, but you'll know that I won't write this long if I wasn't this excited. It feels awesome to finally interact with those who I only read about before. They have their own limitation, but they are still cute, lovely angels.

This week gave me a lot of lesson and experiences already, and I'm thrilled to spend more weeks with them, helping them to study and studying about them at the same time.

It is the greatest feeling ever, knowing that you have a very cool job. It feels great to know that what you do is what you are so passionate about! 

It's been only a week, but I'm in love already.

I'm just in love with this job. I'm in love with those kids. Those special kids.

Tuesday, November 29, 2011

Setelah Berkunjung

Saya menikmati tugas-tugas yang saya dapetin selama saya kuliah di Psikologi. Well, nggak semua sih, tepatnya tugas-tugas yang cukup aplikatif dan berkaitan dengan hal yang saya minati: psikologi klinis anak, psikologi klinis dewasa, atau psikologi pendidikan.

Salah satu tugas yang paling saya suka selama saya kuliah adalah tugas yang baru-baru ini saya kerjakan: Kunjungan ke Unit Terapi & Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional di Lido, Sukabumi. Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba. 

Sebelum datang ke sini, saya dan beberapa teman saya merasa cemas. Deg-degan. Yang ada di pikiran saya, tempat ini bakalan kayak penjara. Jorok. Serem. Penuh orang-orang bertato. Semacam itu lah ya. Apalagi tugas ini juga mengharuskan kami untuk mewawancara satu mantan pecandu yang masih menjalani program rehabilitasi. Gimana kalau nanti salah ngomong? Gimana kalau nanti respondennya ngerasa nggak nyaman dan nggak mau cerita? 

Tapi ternyata tempatnya bener-bener nyaman. Fasilitasnya lengkap dan terawat. Residennya ada sih yang serem, tapi mostly mereka ramah-ramah kok (terutama yang udah di sana beberapa bulan atau tahun ya, karena kami sama sekali nggak liat residen yang baru masuk). Tapi bukan itu yang bikin saya kagum. Saya lebih kagum lagi ketika tau sistem di sana. Semuanya terkonsep dengan rapi dan sangat psikologis, bikin saya bertanya-tanya, siapa otak di balik semuanya. Misalnya aja, konsep operant conditioning yang sangat diterapin di sini. Residen yang ngelakuin pelanggaran, even as simple as nggak ngancingin baju atau lupa nyebut nama saat ngomong, akan dapet hukuman setelah ia ngaku kalau salah, meskipun bentuk hukumannya misalnya hanya harus menggandeng tangan mentornya seharian atau harus nempelin kertas bertuliskan 'nama saya X' di punggung. Atau peraturan yang mengharuskan residen yang udah sampe tahap re-entry (tahap terakhir dari program rehabilitasi) untuk pulang ke rumah setiap dua minggu sekali, supaya ketika benar-benar keluar dari program, mereka nggak kaget dan jadi pecandu lagi. Atau tulisan-tulisan di dinding ruangan berisi term-term dalam bahasa Inggris yang beberapa di antaranya merupakan jargon-jargon psikologi. Atau kata-kata motivasi yang juga di pasang di dinding, salah satunya kira-kira begini tulisannya: "recovery is like cycling; once you stop, you fall."

Pelajaran yang saya dapet selama ngambil mata kuliah Psikologi Adiksi ternyata cukup berguna untuk merubah pola pikir saya terhadap pecandu. Di awal kuliah, Mbak Dani, dosen yang juga psikolog adiksi yang sangat ahli di bidangnya, menekankan kepada kami kalau dalam sudut pandang psikologi, adiksi adalah perilaku maladaptif - bukan dosa atau penyakit; meskipun adiksi tertentu bisa saja memang menyalahi aturan agama dan bisa saja menimbulkan penyakit. Hal ini ternyata sangat berpengaruh saat saya berinteraksi langsung dengan salah satu residen di sana. Saya sama sekali nggak nge-judge kalau si mas ini dosa atau penyakitan atau apa, saya malah tertarik dengerin cerita dia. Saya segitu ingin tahunya, apa sih yang bikin dia adiksi. 

Cerita mas A itu cukup membuka mata saya. Saya selalu temenan sama orang "baik-baik," jadi saya selalu memandang dunia dari segi yang baik-baiknya aja. Saya sempet pengen punya temen yang nggak segitu baiknya supaya jadi punya responden yang ceritanya seru buat tugas UTS Psikologi Adiksi, tapi setelah dengerin cerita A, saya malah jadi bersyukur

Saya bersyukur karena semua temen saya baik-baik dan nggak ngebawa saya ke hal-hal yang terlalu negatif. Saya bersyukur karena punya orang tua yang nerapin pola asuh yang sangat baik dan seperti nerapin semua teori psikologi yang ada tentang cara mengasuh anak - meskipun mereka nggak pernah tau secara langsung. Saya bersyukur karena orang tua saya bener-bener ngerti agama dan nerapin ajaran agama dalam mendidik saya dan ketiga adik saya. Saya bersyukur karena bisa ngelakuin emotion-focused coping dengan cukup baik sehingga saya nggak pernah se-desperate itu. Saya bersyukur karena saya pun nggak pernah dikasih masalah yang seberat itu. 

Sebenarnya, banyak hal kecil yang bisa saya syukuri setiap hari; kalau saja saya selalu sadar dan ingat untuk bersyukur.





Terus saya jadi ingin ngetawain diri sendiri. Bisa-bisanya saya ngeluh jadi orang yang hidupnya paling berantakan sedunia.

Tuesday, July 19, 2011

The Analysis (Or Just Some Lucky Guesses?)

"Kamu itu orangnya praktis. Efisien. Ini salah satu strength kamu."

"Loh, kenapa jadi strength? Bukannya itu artinya cari gampang, ya, Mas?"

"Jelas beda. Cari gampang itu nggak peduli dengan hasil. Kamu memang cari cara yang paling gampang, tapi tetep mengarah ke goal. Jadi gampang, tapi hasilnya tetep bagus. Ini jadi strength."

Begitu kira-kira percakapan saya dengan seorang dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang ahli di dalam bidang psikoanalisis. Percaya atau tidak, saya di-'baca' olehnya hanya dengan melalui satu benda yang saya pilih di ruangan. Saya memilih sebuah laptop berwarna merah muda milik teman saya, karena memang benda itu yang pertama kali saya pikirkan ketika Mas Ivan meminta saya untuk memilih satu benda di ruangan. Saya nggak ngerti lah gimana caranya sebuah laptop begitu bisa menjelaskan kepribadian saya dengan tepat. Entah beliau memang psikoanalis handal, atau ia sangat pandai mengobservasi orang (sehingga analisisnya itu sebenarnya berdasarkan perilaku yang saya tunjukkan), atau jago nebak-nebak; yang jelas hampir semua yang ia sampaikan tadi benar.

"Kamu tuh butuh kehadiran fisik. Nggak bisa long distance relationship."

Saya spontan tertawa.

Beberapa saat yang lalu, saya BBM-an dengan Ekki. Tentang bagaimana saya tidak bisa LDR-an, dalam hal ini dengan teman sendiri, karena saya nggak punya pacar dan belum pernah ngerasain LDR-an sama pacar (atau tepatnya, belum pernah punya pacar). Saya nggak bisa tuh nggak ketemu seseorang lebih dari sebulan dan tetep ngejalin hubungan yang intens. Saya nggak suka percakapan basa-basi hanya supaya komunikasi tetap terjalin rutin. I'm really bad at it. Saya tipe orang yang harus ketemu untuk bisa cerita panjang lebar. Saya bahkan suka kebingungan kalau ada yang curhat ke saya via instant messenger, karena buat saya mendengar aktif (yang melibatkan respons-respons nonverbal) jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada membaca aktif (yang melibatkan minimal prompts semacam 'ya ya' atau 'hooo, terus?' serta emoticon-emoticon penenang semacam big hug). Makanya, saya selalu jadi salah satu yang paling semangat untuk ngajak sahabat-sahabat saya di SMP dan SMA untuk ketemuan, to spend some quality time together, karena saya tau saya bisa kehilangan mereka kalau terus-terusan nggak ketemu.

Tawa saya tadi itu karena kaget.... Bahkan hal beginian bisa ditebak cuma dari benda yang saya pilih? Oh well... canggih sekali dosen saya! (Atau apapun ilmu yang membahas tentang ini - sehingga psikologi seringkali disangkutpautkan dengan ilmu ramal-meramal)

Kemudian, 'tebakan' selanjutnya yang dilontarkan Mas Ivan membuat saya semakin terpojok.

"Kamu punya pacar nggak sih?"

Saya kemudian menggeleng sambil tertawa pahit.

"Wah, cepet punya pacar gih. Kamu tuh sebenernya ngerasa sepi, meskipun pura-pura biasa aja."

Kali ini bukan hanya saya yang tertawa. Beberapa teman saya yang daritadi ikut menyimak dengan serius pun juga ikutan ketawa.

"Calon suami kali mas bukan pacar." 

Hanya itu yang bisa saya jawab karena saya bingung harus jawab apa lagi. Kemudian Mas Ivan menolak untuk menganalisis lebih jauh lagi, padahal lagi seru-serunya. Selain tiga hal di atas, ada satu lagi sebenarnya yang disampaikan oleh Mas Ivan, yang kembali ia tekankan saat dia tau zodiak saya Scorpio (itu pun ditebak sendiri sama Mas Ivan, entah gimana caranya). Tapi hal yang satu ini terlalu personal dan aneh untuk dibagi, apalagi di sini. Cukup saya aja lah ya yang tau, sambil bingung sendiri yang itu bener apa enggak.

--
Ramalan-ramalan Mas Ivan adalah salah satu hal yang menarik yang saya alami hari ini. Saya bingung harus nulis salah satu atau satu-satunya, karena setelah itu saya rapat selama lima jam dengan kondisi belum makan sejak pagi, dan kesal karena sesuatu dan lain hal. Saya tadinya mau nulis lebih panjang soal ini, karena saya butuh sarana untuk meregulasi emosi (yang sejak tadi masih sangat negatif), tapi saya jadi males dan milih untuk nggak ngebahas ini lagi, setidaknya hari ini. Yah, intinya saya lagi jenuh dan mulai bosan dengan rutinitas yang satu ini (karena saya memang tidak suka rutinitas, sebenarnya).




Saya ingin liburan lagi, atau sekedar menghabiskan waktu sendiri di hari yang hectic, dan mematikan handphone seharian. Terdengar menyenangkan dan menenangkan, bukan? Tapi saya tau, itu nggak akan bisa saya lakuin sebelum ini selesai. Jadi sekarang nggak ada yang bisa saya lakuin selain mengerahkan seluruh usaha saya sampai seluruh urusan ini selesai. Dan tetap menyelingi hari dengan menonton DVD sedikit, walau hanya dua-empat puluh menit.

"Tetap semangat, ya!"

Begitu isi pesan pendek saya kepada staff-staff saya di sie acara kamaba. Entah mereka tahu atau tidak, sebenarnya saya sedang menyemangati diri saya sendiri.

Friday, June 17, 2011

Ekspektasi dan Kebahagiaan



Banyak yang bilang, salah satu cara untuk mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan adalah dengan menurunkan ekspektasi. Beberapa teoris-teoris dalam ilmu psikologi juga banyak yang sependapat. Diskrepansi antara ekpektasi dan realita yang terlalu jauh bisa membuat orang depresi, begitu kira-kira yang tercantum di buku Psikologi Kepribadian, entah itu pernyataan siapa - saya lupa.

Tiga semester kemarin, saya selalu memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap nilai saya. Terlalu tinggi, terlalu sombong. Hasilnya? Kecewa. Saya akhirnya pesimis dan mikir kalau IP saya mungkin emang bakalan segitu-gitu aja. Emang nggak cukup kali ya kemampuan saya.

Kemudian, di semester ini, self-efficacy saya makin turun. Saya merasa keteteran dengan dua puluh empat SKS yang saya ambil, apalagi ditambah dengan kesibukan di luar urusan akademis. Beberapa dosen yang mengajar saya juga terkenal pelit nilai - atau terbukti pelit nilai, setelah saya membandingkan nilai UTS kelas saya dengan kelas-kelas sebelah. Sudahlah, semester ini mungkin IP saya tidak bisa tetap progresif, batin saya. Saya akhirnya merelakan IP saya untuk terjun bebas. Tetap sedikit berharap agar bisa stabil sih, tapi saya benar-benar pasrah. Apalagi setelah UAS Metpenstat 3, satu-satunya mata kuliah yang saya rasa cukup saya kuasai karena nilai UTS dan kuis saya lumayan, susahnya keterlaluan. Saya pasrah sepasrah-pasrahnya. Asal jangan sampai di bawah angka tiga ya Allah, harap saya.


Hari ini batas waktu terakhir publikasi nilai di SIAK-NG. Dosen-dosen saya kebanyakan juga prokrastinator, sama seperti mahasiswanya. Mereka kebanyakan baru akan mem-publish nilai beberapa jam sebelum deadline. Maka sekarang, tiga jam sebelum waktu berakhir, sembilan dari sepuluh mata kuliah yang saya ambil - dua puluh dua dari dua puluh empat SKS - akhirnya bisa saya lihat nilainya. Saya kaget, nilai-nilai tersebut kebanyakan jauh dari ekspektasi saya. Berbeda dengan tiga semester sebelumnya, kali ini jauh di atas ekspektasi saya. Nilai saya mungkin masih tidak sebagus beberapa teman saya yang lain, tapi ini sudah terlalu bagus untuk standar saya. Sudah terlalu bagus bagi saya yang tidak lagi bisa berharap banyak.




Maka benar lah mereka yang bilang kalau hilangnya ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membuat kita lebih bahagia, karena tentu saya merasa senang luar biasa. Meskipun heran, kenapa Allah mengabulkan doa saya disaat saya sedang lalai-lalainya? Entahlah, yang jelas saat ini saya tak bisa berhenti mengucap syukur.

Terima kasih Allah, karena tetap mendengarkan permintaan saya disaat saya sedang menjauh. Tujuh hari nanti saya tinggalkan urusan dunia saya hanya untuk-Mu, saya janji.

Saturday, April 2, 2011

Tentang Mereka Yang Luar Biasa


"Daritadi autis deh, gak dilepas-lepas BB-nya."


Entah udah berapa kali saya denger omongan itu. Entah dari temen saya, keluarga saya, atau dari orang yang nggak saya kenal. Kalau saya kenal sama yang ngomong, saya pasti langsung marahin dia. Bukan marah as in bentak-bentak sewot gitu loh ya, tapi cuma dengan sekedar bilang kalo term itu nggak lucu kalo dipake buat ngatain orang reguler. Nggak lucu kalo didenger sama orang tua yang anaknya autis. Gimana coba perasaannya kalo punya anak autistik terus denger orang lain seenaknya make term 'autis' buat ngatain orang?


Bapak saya juga pernah cerita, temen SMA-nya ada yang punya anak autis dan marah ketika ada temennya yang ngatain orang pake istilah 'autis'. Cerita serupa juga dituliskan di sini dan di sini. Berlebihan? Enggak, menurut saya itu wajar banget.


Saya memang nggak pernah punya kenalan dekat yang autis atau punya anak yang autis. Teman saya ada yang adiknya autis, tapi saya nggak pernah ngeliat adiknya secara langsung. Tapi, saya tau sedikit tentang autis - dari mata kuliah Psikologi Pendidikan Anak Luar Biasa (atau yang biasa kami sebut Alub) dan dari Parenthood, salah satu tv series kesukaan saya, dimana salah satu tokoh utamanya punya anak yang menderita Asperger, atau mild autism. Yang saya tahu mungkin cuma sedikit, tapi cukup banyak untuk mengerti betapa sulitnya menjadi orang tua bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, atau dalam konteks ini, autis.


Sejak kuliah di psikologi, saya yang pada dasarnya suka banget sama anak kecil jadi suka takut sendiri untuk punya anak. Selain karena sadar kalau jadi orang tua itu tanggung jawabnya terlalu besar karena setiap hal kecil yang kita lakuin bisa punya pengaruh besar bagi anak kita, setelah beberapa kali dapet kuliah Alub saya juga jadi takut anak saya kenapa-napa dan saya nggak bisa nerimanya. Naudzubillah min dzalik.


Kunjungan ke SLB C Wimar Asih beberapa waktu lalu juga bikin saya makin lemes. FYI, SLB C adalah sekolah khusus untuk anak dengan retardasi mental. Saya kagum banget sama guru-guru yang udah bertahun-tahun mengabdi meskipun gaji yang diterima pasti nggak seberapa. "Kerja disini bikin saya jadi lebih sabar dan banyak bersyukur. Bersyukur saat melihat anak saya di rumah. Bersyukur karena saya dikasih anak-anak yang normal sama Tuhan."
Jangan salah, anak-anak dengan retardasi mental itu lucu-lucu. Mereka polos dan lugu. Tapi meskipun begitu, saya tetep kagum sama orang tua yang punya anak dengan kebutuhan khusus. Saya nggak bisa ngebayangin betapa sulitnya nerima kenyataan. Saya nggak bisa ngebayangin gimana perasaan mereka saat melihat anak-anak temannya yang normal. Gimana perasaan mereka saat melihat anaknya nggak sama dengan anak-anak lain.


Jadi, yuk bersyukur dan banyak-banyak berdoa supaya dikasih keturunan yang sehat secara fisik dan psikis. Yuk pelan-pelan berhenti ngatain orang lain dengan istilah semacam "autis" atau "retard". Masih banyak term lain yang bisa dipake. Bahasa kita kan kaya! :)


Dan....




Selamat hari peduli autisme sedunia!


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...