Showing posts with label College Life. Show all posts
Showing posts with label College Life. Show all posts

Sunday, September 4, 2016

Tentang Kembali Pulang

Minggu ini, saya kembali ke kampus yang dulu pernah jadi tempat saya berkembang dan menemukan diri saya. Rasanya seperti kembali ke rumah setelah beberapa tahun pergi untuk mengembara. Kelas yang sama, meja dan kursi yang sama, dan dosen yang kurang lebih sama. I'm the only one who's changed. Or more precisely, grown.

Beberapa orang, bahkan dosen di kampus, mempertanyakan keputusan saya untuk mengambil program magister untuk kedua kalinya. Kan sudah punya gelar S2? Kan sudah pernah kuliah di Inggris? Kan sudah dapat pekerjaan yang strategis dan disukai? Kenapa harus kuliah lagi? Kenapa nggak PhD saja sekalian?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut punya satu jawaban yang sederhana. Meskipun mungkin terdengar klise, menjadi psikolog adalah impian saya sejak saya masih berusia sepuluh tahun - bahkan sebelum saya tahu apa itu psikologi. Setelah lulus kuliah, segala hal yang saya lakukan (termasuk kuliah di Inggris) tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mempersiapkan dan mematangkan diri saya agar dapat menjadi seorang psikolog yang dewasa dan siap menghadapi dunia luar dengan segala keberagamnnya, sambil mengeksplorasi opsi-opsi lain yang tersedia bagi saya. So I tried being a teacher, researcher, consultant, and employee. And while I love those jobs, my dream hasn't changed a bit. Being a psychologist is still what I aspire to do. And when I want something badly, I'll do whatever it takes to get it.

So here I am. Leaving Sudirman for Depok. Going back to the place I once called my second home. I grew up there, and I'll grow again. I learned so much about life and about myself there, and I'll learn again.

Dua setengah tahun ini akan jadi perjalanan yang berat. Minggu pertama ini saja sudah terasa sangat berat. Gelar terakhir saya kemarin pun justru tidak membuat saya jadi ongkang-ongkang kaki, tapi justru memacu saya untuk belajar lebih giat lagi karena ekspektasi orang lain terhadap saya tentu jadi puluhan kali lebih tinggi, begitu pula ekspektasi saya terhadap diri saya sendiri.

Whatever it is that I'm going to face for the next two, three years, I know it will be worth it. If things get bad (though I hope it won't), I just need to take a deep breath and remember why did I want to do this in the first place.

Saya harus terus ingat bahwa setelah ini, saya bisa melakukan lebih banyak hal daripada yang bisa saya lakukan sekarang. Saya bisa melakukan hal-hal yang saya sukai. Saya bisa memberikan diagnosis, memberikan terapi, dan membuat orang merasa lebih baik. Saya bisa membantu lebih banyak keluarga dan membuat diri saya jauh lebih bermanfaat. Saya bisa merealisasikan mimpi-mimpi saya satu persatu. Jadi, ketika nanti saya mulai jenuh menjalani kuliah yang berat di saat teman-teman saya yang lain sedang bersenang-senang, saya harus ingat, bahwa setelah ini, ada tujuan besar yang akan saya capai. Ada kesempatan besar yang akan terbuka lebar. I know I feel happiest when I do things that matter, so there's that. Something I definitely should hold on to when things get bad.

The latest picture I took in UI with my brother and cousins. I've conquered it, and I will again.

And hey, I've come this far. Farther than I thought I would ever be. So whatever it is that I'm going to face, I'll try to remember that nothing is ever beyond what I can bear. I won't be facing it alone anyway, since there's Someone who will always, always look out for me and make things easy.

Sunday, February 10, 2013

The Graduation Day

Ketika saya hanya menganggap wisuda sebagai sebuah formalitas yang harus saya jalani sebagai bagian dari hidup, datanglah orang-orang yang mengingatkan kalau momen ini pantas saya rayakan - atau setidaknya, saya nikmati dan kenang.









Makasih, ya. Saya selalu seneng kalau kembali diingatkan: banyak orang yang sayang sama saya.


Ngomong-ngomong, saya jadi inget, salah satu dosen saya pernah bilang, 'kalian udah nyelametin diri kalian sendiri, belum?'

Sejujurnya, sepertinya belum. Saya selalu bersyukur saya bisa lulus semester ini dengan nilai yang sesuai dengan yang saya targetkan. Tapi, sejujurnya saya nggak segitu bangganya, karena seperti biasa, saya selalu melihat ke atas. Masih ada banyak banget kok orang yang prestasinya lebih hebat daripada saya, jadi saya belum berhak buat bangga sama diri sendiri. 

...And now that I have realized that I'd been being too hard on myself, saya mau meralat: Saya bangga kok sama diri saya sendiri. Saya tahu, kalau aja saya lebih giat usahanya, saya bisa dapet hasil yang lebih baik lagi. And I know that I should have aimed higher. Tapi setidaknya, ini murni hasil jerih payah saya sendiri selama tujuh semester kuliah. Setidaknya, semua target yang saya buat tahun lalu tercapai. Setidaknya, saya udah berhasil bikin keluarga saya bangga. And that's what matters the most, right?

Saya bangga karena tahun lalu saya iri sama senior-senior saya yang aktif di kampus dan bisa lulus 3,5 tahun, dan saya berhasil membuktikan ke diri saya sendiri kalau saya juga bisa. Saya bangga karena telah berhasil melawan rasa malas dan bangkit dari burn out. Saya bangga sama diri saya sendiri karena berhasil melewati kerikil-kerikil yang ada, melawan diri saya sendiri, dan berhasil mencapai sesuatu yang nggak akan bisa dicapai sama saya-versi-empat-tahun-lalu. So, yes, I am proud enough.

Saya akan lebih bangga lagi kalau saya bisa segera melakukan sesuatu dan segera menemukan zona nyaman yang baru.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Welcome to the jungle out there, dear S.Psi pals! :) 



Saturday, December 29, 2012

At The End Of The Year

I just realized that I haven't really write in this blog for a long time. I'd been too busy with everything. I'd been busy with my undergraduate thesis, my tasks, my nonacademic activities, my family, and everything else. I had been busy juggling things, trying to do everything at once.

By the way, I have finally finished my undergraduate thesis, the one that I'd been doing everyday, even on the weekend and holiday, for the last 4 months. The one that got me frustrated sometimes - not because of itself, but because I had to re-prioritize and put something else aside to be able to finish it on time. Yet the one that I really love doing:



It's not over yet, actually. I still have a comprehensive examination at January 3rd, before I officially become an S.Psi. It is frightening for me, because I always have the fear that I have done something wrong, something stupid, and will do it again while answering the questions given. It happened before in comprehensive exam for KAUP and Pelatihan II, though in the end I know that it's just a stupid anxiety. But still, I will be doing this alone for the straight two hours, and no one will be able to help me answer the question. After all, it is my own research, my own effort (yet with a little help from a lot of people), my own undergraduate thesis.

So my resolution for 2013 is pretty simple: To get out of the comfort zone that I found extremely comfort and lovely. To graduate. To get a job. To be out there, in the real world. To be independent, financially, from my parents; at least until I decided to continue study at the profession program. To be way more mature, because after this, no one will give a damn if I'm 3 years younger than my peers. 

It is actually hard to leave this placed I called a second home. To leave the routine that I've been doing for the last 3 years. To leave all of the people inside that gave another color to my life, like these kind of people: 





It just feels so hard to leave the place where I always feel belong there. It is daunting to imagine, yet very exciting to know that I'm going to try something new.

So dear Allah, here I am, praying. Asking You to make everything fine, as usual. Thank You so much for this year - for the strength You gave me. I know I can't do this without your blessing. Thank You for always making me blessed - more that what I actually deserve to. Thank you for always, always answering my prayer. Please don't get tired of listening and granting.

Thursday, November 15, 2012

To Grow, or To Change

Akhir-akhir ini, dunia seakan lagi kompak ngingetin saya kalau waktu berjalan dengan sangat cepat. Saya berulang kali mengulang kata 'God, I'm old' atau 'gila, kita udah tua banget ya!' dan... semacamnya. Pencetusnya banyak: Sahabat saya yang lagi jadi ketua BEM sebentar lagi bakalan abis masa baktinya, masa jabatan saya di PSDM yang juga akan abis (dan bener-bener akan abis), maba yang dulu saya appraisal setiap bulan sekarang udah pake 'selempang' dan lagi kampanye untuk jadi calon ketua BEM, bikin skripsi dan deadline pengumpulan yang udah keluar, interaksi dengan peserta-peserta PDKM, muka-muka di kampus yang udah banyak banget yang asing, usia yang secara resmi bertambah satu tahun, dan momen-momen lain yang terus muncul.

Bukan cuma bikin saya ngerasa tua, momen-momen itu juga bikin saya refleksi - nginget lagi saya versi tiga tahun lalu, ketika lagi struggling untuk adaptasi ke dunia yang baru, yang beda dengan dunia saya sebelumnya. Ketika lagi berinteraksi dengan peserta-peserta PDKM, terutama dengan anak-anak di kelompok yang saya pegang, saya jadi flashback ke momen waktu saya yang ada di posisi mereka. Saya sekagum itu kalau mereka kritis atau berani berpendapat, karena seinget saya, dulu saya bener-bener nggak kayak gitu. Saya juga senyum-senyum aja kalo anak kelompok saya cerita dia nggak berani ngomong kalau di setting forum besar, dan itu bisa jadi penghalang karena dia jadi anak yang 'nggak keliatan'. Saya cuma senyum sambil cerita kalau saya versi tiga tahun lalu juga cupu banget. Ketika lagi jadi peserta PDKM, saya ingat saya minder luar biasa karena kebanyakan peserta yang lain dulu aktif di OSIS atau kepanitiaan di sekolahnya. Saya? Boro-boro. Implikasinya besar banget loh, karena saya memang sebuta itu tentang cara kerja di kegiatan nonakademis. Saya bahkan dulu nggak tau cara bikin rundown. Saya juga nggak pede untuk bicara di depan umum, atau sekedar mengajukan pertanyaan di forum besar, karena takut keliatan bodoh aja - keliatan dulu nggak pernah ikut apa-apa. Segitunya. Saya sempet takut nggak diterima jadi anak BEM - padahal semua orang bilang kalau orang yang aktif itu lebih 'dihargai' daripada orang yang IPK-nya tinggi. 

Kalau dibandingkan dengan beberapa teman saya yang lain, saya yang sekarang mungkin memang nggak ada apa-apanya. Ada yang udah jadi pemimpin organisasi, rajin ikut konferensi internasional, ikut beasiswa kepemimpinan yang kesempatan diterimanya kecil banget, dan masih banyak lagi. Banyak banget orang-orang di sekitar saya yang bikin saya ngerasa kecil. Kecil, banget. Orang-orang yang bikin saya ngerasa bahwa saya belum melakukan apa-apa, padahal 'sisa waktu' saya di kampus udah jadi semakin sedikit.

Tapi, kalau saya berhenti membandingkan diri dengan orang lain, saya sesungguhnya bersyukur dan bangga terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup saya selama tiga tahun terakhir. Being a psychology student helps me grow. It makes me see things from different point of view. It makes me act and think not like a girl my age, because I know that's how I supposed to be - because when you're a psychology student, people expect you to be 'perfect' and to help them with their problem. Saya bener-bener bersyukur karena saya end up di fakultas ini, belajar ilmu ini, dan berinteraksi dengan orang-orang ini. Belajar psikologi bukan hanya bermanfaat karena ilmu saya bertambah, tapi juga untuk pengembangan diri saya sendiri - dan hopefully untuk semua aspek yang berkaitan dengan masa depan saya. BEM juga banyak banget membantu saya untuk jadi lebih berani ngomong, membantu saya untuk merasa 'normal', dan membantu saya untuk mendengarkan dan peduli dengan orang lain. Kalau lagi banyak banget tugas atau kerjaan, saya juga jadi belajar untuk mengatur skala prioritas, bertanggung jawab, dan mencari cara untuk membuat kondisi emosi saya menjadi lebih baik. Knowing your own way to cope is one of the important thing that can help you get through everything, percaya deh.

Eh, jadi kemana-mana. Intinya ya, saya sesayang itu sama kampus saya. Dari semua aspek deh. This is the place where I belong - where I learn about a lot of things about the world. Ketika udah di tahun terakhir SMP dan SMA, saya tau saya bakalan kangen setengah mati sama temen-temen saya setelah lulus, but I'm pretty sure I knew that I won't miss the idea of being in school. I never really missed the idea of learning some math or physic or something else. I didn't, and I won't. But this time, it feels different. I know I will miss my closest friends that mean the whole world to me. But I know I will also miss everything else. Saya akan kangen pelajarannya, dosennya, kegiatan BEM-nya, dan gosip seputar politik kampusnya. Saya bahkan akan kangen sama momen-momen duduk di SC meskipun saya nggak terlalu sering ngelakuin itu. Saya juga pasti akan kangen jadi anak acara dan jadi anak PSDM. Kalau saya udah lulus, semuanya nggak akan jadi sama lagi - bahkan ketika saya kembali lagi untuk kuliah profesi nanti. 

Yah... Ceritanya saya lagi belajar menerima kenyataan kalau setelah ini, beberapa bulan lagi, saya bener-bener harus mencari zona nyaman yang baru. Sometimes leaving the thing that you love the most is the best way to be a better person

Then again, change is good. Or isn't it?

"To grow is to change, and to have changed often is to have grown much." - Cardinal Newman.

Friday, September 21, 2012

Skripsi untuk S.Psi

Sesuai rencana awal, saya bertekad untuk menyelesaikan skripsi semester ini. Agak ngeri sih, mengingat semester ini saya juga harus bikin penelitian kelompok untuk mata kuliah Penelitian Kualitatif dan bikin satu sesi pelatihan psikologis untuk mata kuliah Pelatihan II. Belum lagi tugas-tugas mata kuliah yang lain. Tapi karena kuliah saya juga cuma 12 SKS sehingga saya hanya kuliah tiga hari seminggu, saya kembali menantang diri saya sendiri. Ah, masa sih nggak bisa. Jadi kalau ditanya kenapa mau lulus tiga setengah padahal masih punya 'simpenan umur', selain karena alasan mau kerja-kerja dikit dulu sebelum S2 dan karena sayang harus bayar lima juta seratus ribu rupiah buat semester delapan padahal udah nggak ada kuliah apa-apa lagi, saya juga akan jawab ini: Karena saya ingin membuktikan ke diri saya sendiri kalau saya bisa. Bukan untuk membuktikan keraguan orang lain, tapi untuk membuktikan ke diri saya sendiri kalau saya benar-benar bisa menjalankan hidup yang seimbang versi diri saya sendiri.


Saya dan beberapa dekat saya yang sama-sama jatuh cinta sama parenting kemudian memutuskan untuk ikut payung penelitian dosen saya tentang Parental Self-Efficacy. PSE adalah keyakinan orang tua untuk melakukan tanggung jawab sebagai orang tua—seberapa yakin ia untuk jadi orang tua yang baik. Di penelitian ini, saya ingin mencari tahu korelasi PSE dengan religiusitas ibu. Kenapa? Alasan sebenarnya sih karena saya mau tahu pengaruh positif (manfaat) agama buat kehidupan sehari-hari. Khususnya manfaat yang konkret dan bisa diukur. Kenapa? Supaya orang-orang yang nggak percaya itu bisa terbuka pikirannya, meskipun mungkin hanya sedikit. Supaya mereka yang bilang 'ah, agama nggak penting-penting amat buat hidup gue' bisa tau kalau dibalik semua kewajiban yang harus dijalankan, ada banyak manfaat yang bisa dipetik langsung—kalau memang segala sesuatu yang mereka lakukan di dunia harus bisa ditelaah manfaatnya secara logis. 

Alasan seriusnya apa? Yah, kalau alasan ala-skripsinya mah yang ada di Bab I. Iya, Bab I yang belum selesai padahal ditenggatwaktuin (sama diri sendiri) untuk selesai setidaknya tiga hari lagi. Yang jelas, saya seneng banget karena akhirnya nemu topik yang bisa menjembatani minat pribadi saya. Segala sesuatu yang dilakuin dengan passion pasti akan memberikan hasil yang lebih baik, saya percaya itu. 


Sejauh ini, saya ngerasa semuanya lancar. Saya udah dapet alat ukur buat kedua variabel, meskipun masih harus dialihbahasakan. Seneng banget rasanya karena tes untuk mengukur Islamic Religiosity-nya saya dapetin langsung dari orang yang bikin tes itu, Professor Steven Krauss (Abdul-Lateef Abdullah). Seneng banget karena saya sebelumnya udah sering banget ngirim e-mail ke beberapa profesor yang bikin suatu konstruk atau teori psikologis, dan nggak pernah dapet balesan apa-apa. Eh, giliran buat skripsi, dibales dalam waktu satu jam aja dong—dikirimin item dan panduan skoringnya segala lagi. Begitu saya ajuin beberapa pertanyaan setelah saya baca alat ukurnya, beliau malah ngirimin saya disertasinya. Disertasi yang nggak dipublikasiin di internet sehingga saya awalnya sempat ngerasa putus asa. Disertasi yang bagus banget karena bener-bener bisa nyeimbangin teori psikologi barat dengan Al-Qur'an. Alat ukur yang dia buat di tesis itu setiap item-nya ada landasan ayat Qur'an atau hadisnya! That man is definitely my heroBener kan, masih ada orang yang sebaik itu kok, serendah diri itu, padahal udah Ph.D. 



Meskipun mungkin belum ngerasain bagian susahnya dari bikin skripsi, saya yakin kok kalau saya bisa wisuda Februari 2013. Kenapa? Karena saya lagi mendalami teori self-efficacy, dan menemukan berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa self-efficacy atau keyakinan pada sesuatu berkorelasi positif dengan keberhasilan dalam mengerjakan hal tersebut. Dan satu lagi, yang lebih penting: karena saya berdoa setiap buka puasa dan waktu-waktu yang mustajab lainnya. Kenapa yakin banget sama doa? Karena memang hampir setiap doa yang saya ucapin setiap tahun ketika berbuka puasa di bulan ramadhan selalu dikabulin sama Allah. Yang pasti saya selalu tahu kalau Allah akan selalu mengabulkan doa saya dan akan selalu memberikan yang terbaik buat saya. Yes, I am always blessed  - maybe a lot more that I deserve.











Bismillahirrahmanirrahim. Semoga target yang satu ini bisa tercapai, dan semoga ini memang yang paling baik buat saya.

Doain ya :)

Wednesday, June 20, 2012

Tentang Juni Kali Ini

Sudah lama sekali saya libur dan tidak melakukan apa-apa. Tiga tahun punya liburan panjang, saya selalu tahu apa yang akan saya lakuin. Tahun lalu bahkan saya hampir nggak liburan, karena sibuk bolak-balik ke Depok. Tapi sekarang saya decide untuk nggak terlibat di kegiatan kampus yang akan menghabiskan banyak waktu saya.

Akibatnya, saya bener-bener nggak ngapa-ngapain, sampai nanti magang di tengah Juli. Awalnya nyaman sekali, diam di balik selimut seharian, setelah biasanya lebih sering menghabiskan waktu di kampus daripada di rumah. Lama-lama, perasaan 'nggak berguna'-nya dateng lagi. Semua orang sudah mulai magang. Teman-teman saya bahkan ada yang sedang mengabdi atau bekerja di Riau, Kalimantan, dan Papua. Tapi saya masih di titik yang sama - nggak ngapa-ngapain.

Saking nggak ada kerjaannya, saya sampe iseng bantuin ibu saya desain pamflet buat salah satu acaranya. Saya bahkan sampe desain kecil-kecilan buat blog saya. Saking nggak ada kerjaannya, saya ngabisin lima season Grey's Anatomy dalam kurang dari dua minggu.

Oh iya, akhir semester ini saya khawatir sekali sama IPK saya. Munculnya satu nilai mata kuliah tiga SKS yang sumpah-jelek-banget-banget bikin saya down. Aduh, masalahnya insya Allah waktu kuliah saya tinggal satu semester lagi. Setelah ini, kesempatan untuk mendongkrak nilai tinggal 20 SKS lagi. Lalu, seperti biasa, sambil menunggu nilai akhir keluar, saya berdoa. Berdoa, berdoa.

IPK saya semester ini masih bisa naik ternyata. Selain mata kuliah tiga SKS itu, nilai saya yang lain lumayan baik. Nilai mata kuliah empat SKS yang saya suka tapi bikin hidup saya dan teman-teman saya di semester lalu berantakan juga alhamdulillah bagus - sesuai dengan ekspektasi awal saya yang saya kira ketinggian. IPK saya pada akhirnya masih bisa naik, tapi kurang 0,01 dari yang saya targetkan. Iya, setipis itu. Saya sih berbaik sangka aja sama Allah; mungkin Allah takut kalo sekarang IPK saya udah di atas target, saya bakalan lupa dan jelek lagi ibadahnya. Mungkin dikasih ngepas supaya saya masih kenceng doanya. Supaya nggak berhenti usahanya.

Lucu sih ya, bagus-enggaknya nilai saya pasti saya asosiasikan dengan ibadah saya di semester itu, bukan dengan seberapa rajin saya. Buat mereka yang nggak percaya, yang saya lakuin tentu saja terlihat bodoh. Tapi karena saya tau usaha saya di setiap semester sama aja, sama nggak maksimalnya, sama naik-turunnya, sama malesnya, saya tau yang matters adalah doa dan ibadah saya. Mungkin terdengar konyol, tapi toh itu yang saya percayai.

Aduh, saya bener-bener butuh ngerjain sesuatu yang ada hasilnya. Ada ide?

Monday, May 7, 2012

A Start

Sibuk memikirkan dua cerita yang kembali terulang. Capek, sampai akhirnya kembali acuh. Benar yang dibilang Mary Alice Young: "In the end, most people decide to only trust themselves. It really is the simplest way to keep from getting burned." So my life goes on. Karena daripada terus berusaha menyelesaikan masalah sendirian dan nampaknya tidak berhasil, saya lebih suka memikirkan cara agar masalah itu tidak mempengaruhi hal-hal yang sedang dikerjakan.

Lalu mulai galau lagi. Galau masa depan. Galau skripsi.

Memantapkan diri untuk mikirin topik skripsi dari sekarang, bikin skripsi awal semester depan, selesai skripsi akhir tahun ini. Mungkin saja perjalanannya akan penuh liku, tapi kalau mereka bisa, kenapa saya tidak? 

Lalu wisuda di awal tahun depan, kerja sebentar, lalu kuliah lagi di pertengahan tahun depan.

Perjuangan menuju impian masa depan semakin dekat saja. Takut, tapi sangat excited di saat yang bersamaan.

"The fact that you know your dreams is not enough. It is not good, living with the fact that you have it in you. You have to think of measures to manifest your dreams and be brave enough to pay the price of it," kata Paulo Coelho.

So this is a start.

"Man proposes, God disposes." 

Then please do dispose this one as I proposed, dear God.

Wednesday, February 22, 2012

To Be Stronger

So this is how it feels, being a sixth-semester student. So this is how it feels to take KAUP (Psychological Test Construction), a course that is pretty popular amongst psychology students - of course not in a good way. I never thought the sixth semester will be this hard, but here I am, surrounded by stacking tasks - when it's only the second week of the term.

The BEM thingy is pretty time consuming too, since we, PSDM, got a lot to do at the beginning of BEM. And since the academic and non-academic tasks are plenty, I found it really hard to be balance and be great at both. I feel tired all the time, and I have no time to watch any of my favorite tv series so far. 

But it wasn't so bad, actually. I enjoy studying Psikologi Keluarga (Family Psychology), and I think I will be enjoying Teori Emosi (Emotion: Theory & Social Application) and Perkembangan Anak Usia Dini (Early Childhood Development) as well. To be honest, despite of the fact that finding literatures is superhard, I've been enjoying KAUP - because I actually found it's exciting to do research. The only problem here is time - If I got more than 30 hours a day, maybe I'd be more thankful about my current life. Maybe I'd think that it's perfect.

Doing BEM-related job is also getting easier because I got a great team that consists of some people who are really fun to work with and really helpful, the one that named Beringas.



I know that I feel extremely tired - but I love what I do. It's weird, but it's true.  Allah said that after every difficulty, there is relief, anyway - so I think I just have to wait until the hard part is over - or until I become stronger that I won't feel that this is hard anymore. 

I just need more power, especially when I want to do a lot more - to develop myself, to enlarge the circle, and to do something new. 

Sunday, December 11, 2011

Tentang Dua Ribu Dua Belas


Sudah bulan Desember, dan saya belum juga tahu apa yang akan saya lakukan di tahun 2012. Sebenernya hanya ada dua opsi besar buat saya – nge-BEM (lagi) atau enggak. Tapi gitu lah, banyak alasan yang bikin saya mikir berkali-kali, buat bilang iya atau enggak – meskipun percakapan dengan beberapa temen bikin saya tertampar kalau saya belum punya cukup alasan untuk bilang enggak. Kalau saya harus nggak jadi orang yang egois untuk hal yang satu ini dan mulai mikir ‘apa yang bisa saya kasih ke orang lain ketika saya sudah mampu untuk memberikan sesuatu’ daripada ‘apa yang bisa saya dapet’. Lagian kalau saya berhenti nge-BEM, saya bakal ngapain? Jadi mahasiswa teladan yang kuliah-pulang-kuliah-nugas? Saya nggak yakin mampu. Tapi kalau nge-BEM lagi, masih ada beberapa hal yang mengganjal saya, baik dari segi personal maupun profesional. Entahlah. Mungkin by the time saya akan punya solusi dari kegalauan ini. Atau mungkin saya akan jadi impulsif untuk bilang iya/enggak? Entahlah. Karena katanya hidup itu adalah apa yang terjadi ketika kita sibuk membuat rencana.



Satu hal yang harus saya ingat (makanya saya tulis di sini supaya someday bisa jadi pengingat) adalah bahwa apa pun yang saya lakukan dalam hal nonakademis tahun depan, akademis harus tetap jadi prioritas utama saya – apalagi karena tahun depan saya sudah akan jadi mahasiswa semester enam dan akhirnya jadi… Mahasiswa tingkat akhir. Ngeri yah? Tahun depan saya sudah akan bikin skripsi. Lalu lulus, kuliah lagi, dan jadi Psikolog Klinis Anak. That’s the plan. Buat urusan yang satu ini, saya harap semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Sesuai ekspektasi saya, sesuai yang saya mau. Makanya, saya harus ngeluangin banyak waktu di tahun depan untuk mulai serius mikirin masa depan, mungkin dimulai dengan mikirin topik apa yang sebenernya bener-bener saya suka dan akan saya teliti untuk Skripsi.
        
Saya harus mulai sadar kalau saya sebentar lagi akan lulus dan akan membuat keputusan-keputusan penting yang akan sangat berpengaruh pada masa depan saya nanti.
           
Intinya, tahun depan saya mau jadi orang yang lebih dewasa. Nggak boleh lagi defensive, terus-terusan ngejadiin umur sebagai alasan. Karena ketika sudah lulus nanti, udah nggak ada yang peduli umur saya berapa. Udah nggak ada yang bisa mentoleransi sifat atau pikiran yang kekanak-kanakan lagi. Ini nih yang bikin the idea of ‘lulus’ sampe sekarang masih nakutin banget buat saya. Tapi saya nggak bisa ngehindar terus, ya kan? The future is indeed scary for its uncertainty, but we have to face it anyway.

Saya harap saya bisa jadi orang yang lebih baik tahun depan. Saya harap tahun depan saya bisa dapet banyak pelajaran baru, seperti yang terjadi pada tahun ini. I’ve been through a lot this year, but I got so many things to be learned as well. Saya yakin kalau saya sudah jadi orang yang sedikit banyak berbeda (in a good way) dengan saya yang tahun lalu – dari segi akademis, nonakademis, bahkan hingga personal.

Kalau tahun ini saya bisa, tahun depan juga pasti bisa. Iya, kan?

Tuesday, November 29, 2011

Setelah Berkunjung

Saya menikmati tugas-tugas yang saya dapetin selama saya kuliah di Psikologi. Well, nggak semua sih, tepatnya tugas-tugas yang cukup aplikatif dan berkaitan dengan hal yang saya minati: psikologi klinis anak, psikologi klinis dewasa, atau psikologi pendidikan.

Salah satu tugas yang paling saya suka selama saya kuliah adalah tugas yang baru-baru ini saya kerjakan: Kunjungan ke Unit Terapi & Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional di Lido, Sukabumi. Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba. 

Sebelum datang ke sini, saya dan beberapa teman saya merasa cemas. Deg-degan. Yang ada di pikiran saya, tempat ini bakalan kayak penjara. Jorok. Serem. Penuh orang-orang bertato. Semacam itu lah ya. Apalagi tugas ini juga mengharuskan kami untuk mewawancara satu mantan pecandu yang masih menjalani program rehabilitasi. Gimana kalau nanti salah ngomong? Gimana kalau nanti respondennya ngerasa nggak nyaman dan nggak mau cerita? 

Tapi ternyata tempatnya bener-bener nyaman. Fasilitasnya lengkap dan terawat. Residennya ada sih yang serem, tapi mostly mereka ramah-ramah kok (terutama yang udah di sana beberapa bulan atau tahun ya, karena kami sama sekali nggak liat residen yang baru masuk). Tapi bukan itu yang bikin saya kagum. Saya lebih kagum lagi ketika tau sistem di sana. Semuanya terkonsep dengan rapi dan sangat psikologis, bikin saya bertanya-tanya, siapa otak di balik semuanya. Misalnya aja, konsep operant conditioning yang sangat diterapin di sini. Residen yang ngelakuin pelanggaran, even as simple as nggak ngancingin baju atau lupa nyebut nama saat ngomong, akan dapet hukuman setelah ia ngaku kalau salah, meskipun bentuk hukumannya misalnya hanya harus menggandeng tangan mentornya seharian atau harus nempelin kertas bertuliskan 'nama saya X' di punggung. Atau peraturan yang mengharuskan residen yang udah sampe tahap re-entry (tahap terakhir dari program rehabilitasi) untuk pulang ke rumah setiap dua minggu sekali, supaya ketika benar-benar keluar dari program, mereka nggak kaget dan jadi pecandu lagi. Atau tulisan-tulisan di dinding ruangan berisi term-term dalam bahasa Inggris yang beberapa di antaranya merupakan jargon-jargon psikologi. Atau kata-kata motivasi yang juga di pasang di dinding, salah satunya kira-kira begini tulisannya: "recovery is like cycling; once you stop, you fall."

Pelajaran yang saya dapet selama ngambil mata kuliah Psikologi Adiksi ternyata cukup berguna untuk merubah pola pikir saya terhadap pecandu. Di awal kuliah, Mbak Dani, dosen yang juga psikolog adiksi yang sangat ahli di bidangnya, menekankan kepada kami kalau dalam sudut pandang psikologi, adiksi adalah perilaku maladaptif - bukan dosa atau penyakit; meskipun adiksi tertentu bisa saja memang menyalahi aturan agama dan bisa saja menimbulkan penyakit. Hal ini ternyata sangat berpengaruh saat saya berinteraksi langsung dengan salah satu residen di sana. Saya sama sekali nggak nge-judge kalau si mas ini dosa atau penyakitan atau apa, saya malah tertarik dengerin cerita dia. Saya segitu ingin tahunya, apa sih yang bikin dia adiksi. 

Cerita mas A itu cukup membuka mata saya. Saya selalu temenan sama orang "baik-baik," jadi saya selalu memandang dunia dari segi yang baik-baiknya aja. Saya sempet pengen punya temen yang nggak segitu baiknya supaya jadi punya responden yang ceritanya seru buat tugas UTS Psikologi Adiksi, tapi setelah dengerin cerita A, saya malah jadi bersyukur

Saya bersyukur karena semua temen saya baik-baik dan nggak ngebawa saya ke hal-hal yang terlalu negatif. Saya bersyukur karena punya orang tua yang nerapin pola asuh yang sangat baik dan seperti nerapin semua teori psikologi yang ada tentang cara mengasuh anak - meskipun mereka nggak pernah tau secara langsung. Saya bersyukur karena orang tua saya bener-bener ngerti agama dan nerapin ajaran agama dalam mendidik saya dan ketiga adik saya. Saya bersyukur karena bisa ngelakuin emotion-focused coping dengan cukup baik sehingga saya nggak pernah se-desperate itu. Saya bersyukur karena saya pun nggak pernah dikasih masalah yang seberat itu. 

Sebenarnya, banyak hal kecil yang bisa saya syukuri setiap hari; kalau saja saya selalu sadar dan ingat untuk bersyukur.





Terus saya jadi ingin ngetawain diri sendiri. Bisa-bisanya saya ngeluh jadi orang yang hidupnya paling berantakan sedunia.

Saturday, November 19, 2011

About Being Such A Mess


I'm a mess. I got so many tasks to do without knowing how to start. It gets worse because my dependence on TV series is getting worse. Those, and few other personal stuffs that have been bothering me as well. I know, I know that I just have to be focus and stop procrastinating and get all these done. But I can't.

Today is supposed to be the 'doing-all-the-things-that-have-to-be-done' day. But I didn't do anything. I just locked myself in my room and watched all the TV series that I'm supposed to watch this week. Oh, and I also cooked for myself. I put fettuccine together with eggs and add everything I want to and made something that I don't even know what to call. But it does taste good, anyway. And tastes fatty, but I don't care because cooking and eating do make my mood better. 

I even decided not to go to have lunch with mom's family. I don't know, I think I just need some time alone, like really alone. I need some break. I need to spend some time with just myself. I need to take off the I'm-so-fun-and-happy mask that I've been wearing all day. 

This posting may get no point, because I actually just need a place to complain. I need a place to tell that I'm now so screwed. That this is the mistake that I made myself because I tend to procrastinate everything and I couldn't be assertive. 

Just ignore it, because I know it will get better eventually, like it always does. Well, help me to pray that it's gonna be just fine like always, will you? 

Wednesday, October 5, 2011

Just Another Happy Ending

Kamaba, satu kepanitiaan yang beberapa bulan terakhir jadi trending topic di kepala saya, akhirnya resmi berakhir. Saya bener-bener nunggu datengnya hari ini, karena saya segitu capeknya - literally and figuratively. Ketika rangkaian acara Kamaba yang seperti nggak selesai-selesai akhirnya benar-benar selesai, saya nggak bisa berhenti tersenyum dan mengucap syukur, sambil diberikan ucapan selamat serta pelukan dari beberapa orang di kampus. 

"Akhirnya berakhir juga penderitaan gue," ujar saya kepada salah satu teman.
"Lah, jadi ini penderitaan?"

Saya tahu teman saya cuma bercanda. Saya juga tahu kalau teman saya tahu kalau saya juga cuma bercanda. Tapi pertanyaan iseng dari teman saya itu cukup buat saya mikir: eh iya ya, kenapa akhir-akhir ini yang saya pikirin cuma tanggal penutupan Kamaba aja, seakan-akan Kamaba bener-bener jadi cobaan buat hidup saya? Loh, kenapa saya cuma inget yang jelek-jeleknya aja?

Sebenarnya kalau saya pikir ulang, ada banyak sekali hal yang harus saya syukuri dari Kamaba. Saya belajar banyak sekali. Mulai dari belajar memimpin tim yang isinya random dan penuh orang-orang hebat, belajar merancang sebuah acara dengan konsep yang diturunin dari teori-teori psikologi, belajar bekerja dengan beberapa orang yang nggak bisa diajak kerja (meskipun ada banyak banget yang helpful dan so cooperative to work with), belajar 'membelah diri', belajar untuk memenuhi ekspektasi orang lain, belajar meregulasi emosi, dan belajar hal-hal lain yang mungkin tidak saya sadari.

Kalau saya pikir ulang, semua masalah-masalah yang saya hadapi, semua air mata yang saya keluarin, semuanya adalah bahan pembelajaran saya untuk menjadi orang yang lebih persisten dan resilien. Untuk menjadi orang yang lebih dewasa. Untuk menjadi orang yang lebih baik.

Dan kemudian, ketika melihat maba-maba psikologi mengucap terima kasih dengan tulus, ketika melihat mereka tersenyum lega, ketika mendengar pernyataan Mas Ivan di depan Maba kalau Kamaba Fakultas Psikologi adalah Kamaba terbaik se-UI, saya tahu kalau yang saya lakukan ini nggak sia-sia.





Meskipun penuh 'tantangan', keputusan saya untuk menjadi PJ Acara di Kamaba nggak akan pernah saya sesali. Saya bener-bener belajar banyak. 

Ini adalah air mata saya yang terakhir untuk Kamaba. Air mata haru, tentu. Air mata lega dan bangga. Bahwa saya sudah melakukan yang terbaik, meskipun belum terlalu baik. Bahwa saya lagi-lagi dikelilingi oleh orang-orang yang begitu suportif. Bahwa saya, lagi-lagi, sangat beruntung.

Makasih ya, untuk kalian yang sudah jadi partner kerja saya. Makasih banget, terutama untuk anak acara yang bener-bener saya sayang, meskipun sering nge-bully saya. Makasih juga untuk teman-teman terdekat saya yang rela saya curhatin setiap kali saya mumet. Makasih untuk semua semangat yang diberikan. Makasih untuk semua ucapan selamat, jabatan tangan, dan pelukan hangat. 

Saturday, October 1, 2011

Friends, Personally & Professionally

I got a lesson from my recent activities, that I concluded when I was having a quality time slash truth time slash casual discussion with Ica, Ume, Ratih, Imbi, and Lunardi. The lesson is that eventhough we have to seperate our professional and personal life, we cannot really seperate them. Maybe it's subjective, but that's how I honestly think. I cannot forgive those who are my friends yet stabbing me in the name of professionality, so I won't do that either.

Some people can be your friend but cannot work with you professionally. But there are also some that you cannot even stay friends with after working with them professionally. They might be the one that working so hard without caring anymore.

I will never be like them, I promise. My friend is still my friend, eventhough they are also my opponent, professionally. But the idea of hurting them professionally is just stupid. It would just ruin our friendship, and I'll got no one when my work is done.

My point is, never hurt your friend, even by saying "That's different. This is professional, not personal. He's still my friend, yet I have to punish him because of professional matters." Never do that, because a good friend is worth more than anything. A good friend will make you much better when you got a problem. They will make everything easier. You sure don't want to lose them. Well, if you had one. Whoops.

Sunday, September 25, 2011

The Festival

Saya nggak bisa nulis panjang lebar karena sekarang saya capek luar biasa. Intinya, saya seneng banget rangkaian acara Psychology Festival yang pertama bisa berjalan dengan lancar, terutama tentu Introduction To Psychology, acara yang saya pegang. Banyak sekali feedback positif yang masuk karena acaranya bener-bener lancar dan nggak ada hambatan yang berarti.

Bukan berarti perjalanan saya di Psyfest mudah dan tanpa cobaan. Ada kok beberapa cobaan kayak beberapa pengisi acara yang tiba-tiba bilang nggak bisa dateng pada H-1 atau H-2 acara. Ada juga beberapa masalah lain yang nggak bisa saya tulis di sini. Tapi ketika pernah ngerasain badai, hujan yang deras sekalipun tidak akan lagi terasa berat. That's exactly what I feel. Ketika sebelumnya saya dapet hantaman yang begitu berat, sedikit masalah dan pengorbanan nggak lagi berarti apa-apa.

Pekerjaan saya di ITP selama dua hari ini juga jadi terasa mudah dan menyenangkan berkat orang-orang ini:



Terima kasih karena membuat segalanya jadi lebih mudah dan menyenangkan, dan simply karena kebanyakan dari kalian bilang kalau ini adalah kepanitiaan yang paling menyenangkan buat kalian. 

Dan akhirnya, saya benar-benar senang karena everything is totally worth it. Ditambah lagi dengan komentar salah satu peserta yang ternyata ikut ITP tahun lalu juga. "Pokoknya ITP tahun ini jauh lebih bagus daripada yang tahun lalu saya ikutin." Pada akhirnya, saya jadi tahu, begini rasanya kalau kerja keras kita dihargai secara positif oleh orang lain. Begini rasanya kalau bisa mempertahankan suasana kerja yang menyenangkan meskipun banyak orang yang panik dan menekan. Begini rasanya bisa puas terhadap performa diri sendiri, meskipun sadar kalau sebenarnya masih bisa lebih baik dari ini.

Dan pada akhirnya, saya senang karena satu kewajiban besar saya tahun ini tuntas sudah. Tinggal dua lagi. Tinggal sebentar lagi!

Friday, September 9, 2011

September

Tumblr_lqurh6er7y1qh7wudo1_500_large


Bulan September ternyata akan jadi bulan yang berat untuk saya. Kesibukan di kampus akan jadi luar biasa, ditambah dengan kedua pembantu saya yang bisa-bisanya tega nggak balik lagi, padahal salah satu dari mereka udah kerja sekitar tujuh tahun.

Doain saya, ya, supaya bisa membagi konsentrasi dengan baik. Supaya bisa ngerjain semuanya dengan baik. Supaya bisa nggak ngecewain diri saya sendiri dan orang lain.

Doain saya ya, supaya nggak kehilangan semangat. Supaya saya nggak jenuh, dan tetap semangat. Untuk Kamaba, Psyfest, BEM, dua puluh dua SKS yang saya ambil semester ini, dan setumpuk pekerjaan rumah tangga. 


Friday, August 19, 2011

Betapa Beruntung

Betapa beruntungnya saya karena ketika ada satu orang yang jahat sama saya, ada banyak orang lain yang begitu baik dan perhatian sama saya.

Betapa beruntungnya saya karena ketika saya menangis tanpa henti selama hampir dua jam, lampu merah di sisi kanan atas handphone saya tidak bisa berhenti berkedip - menandakan ada banyak pesan masuk dari teman-teman terdekat saya, bertanya ada apa, dan kemudian menenangkan saya. Hingga akhirnya saya kembali menangis, tapi kali ini karena terharu, karena ternyata saya begitu bodoh, menangis karena perlakuan satu orang, saat ada banyak orang yang justru berlaku sebaliknya. 

Betapa beruntungnya saya karena ada banyak sekali teman yang memeluk saya, atau merelakan diri untuk saya peluk, karena saya memang membutuhkan pelukan hangat dari banyak orang. Menangis, memeluk orang lain, menulis, dan tidur adalah beberapa hal yang dapat membuat saya lebih tenang - jauh lebih tenang.

Betapa beruntungnya saya saat esoknya saya hanya bisa menekuk wajah karena mood saya masih berantakan, ada banyak sekali yang menghibur saya, melontarkan lelucon-lelucon ringan yang membuat saya tidak bisa berhenti tertawa. 

Betapa beruntungnya saya karena ada banyak sekali orang yang menyemangati saya - bahkan ada beberapa orang yang saya tidak kenal secara personal (dan sejujurnya tidak tahu siapa namanya) yang ikut menyemangati saya dengan kata-kata sederhana yang ternyata berpengaruh buat saya.

Berada di lingkungan seperti ini selalu membuat saya bersyukur. Ada orang-orang yang menyebalkan dan sama sekali tidak asertif dalam menyampaikan pendapat, memang; Tapi ada lebih banyak orang yang peduli dan bersimpati - orang-orang yang menguatkan dan menenangkan saya - orang-orang seperti kalian.






Terima kasih karena, entah disadari atau tidak, kalian semua membantu saya untuk tetap kuat. Setidaknya untuk tetap bertahan pada hari berikutnya, hari di mana saya masih dituntut oleh tetap profesional. Betapa beruntungnya saya karena punya kalian semua. 

(dan maaf karena saya begitu emosional dua hari kemarin)

Saturday, August 6, 2011

About The Word 'Happy'


Every one has their own meaning of 'happiness'. It's indeed subjective. For me, happiness is simply something I feel after doing something good; doing something that has many benefits for others or something not easy that makes me doubted my self in the first place. It's what I feel after doing something I'm good at, or something I really love, or just something, with people I love.

That's why I feel so happy about today. Today was the first day of Kamaba activity. We held a briefing for the freshmen to give them informations about the rules and so. The briefing is not a really hard thing to do to be proud of, actually, but it just went really good - way beyond my expectation. Everyone's just so easy and fun to work with, despite of all the imperfections.

But, to be honest, I felt happy not only after the event. I felt happy earlier, at the rehearsal. I felt happy seeing the preparation. I felt happy seeing everyone wearing our yellow jacket. I felt happy because it feels familiar. It reminds me of how I loved being on the comittee last year. It reminds me how I enjoyed every process of it, every regular meetings and even some sudden ones, every thing.

It makes me realize that no matter how fed-up I am with the routinity - no matter how often I say about needing a break,  I actually am still enjoying this.  I even enjoy the 12-hours meeting I attended until 2 am. You can laugh or see me as a freak, but I learned much from every single meeting. And that makes me happy even more.

And here's another thing that adds my happiness: I still could recite 1 juz of Quran today. It's like having my mom whispered on my head, "See? You can still do it no matter how busy you are, as long as you have the willingness." I really want to be more balance, so this might be a good start. Bismillah.

--
I know that the journey of this event is still so long. We still got PSAF and Prosesi to do. But I'm willing to do my best for this, especially because it might be one of my last contribution at psychology; I might not do this things anymore next year because I have to focus more about my academic thingy - since I will graduate soon (I cannot believe I wrote that!). So, no more complaining, I promise.

I will just pray that everything's gonna be as perfect as it planned to be. And take a good rest because today was really tiring. 

Have a good rest, too. And do more things that make you happy! :) 

Tuesday, July 19, 2011

The Analysis (Or Just Some Lucky Guesses?)

"Kamu itu orangnya praktis. Efisien. Ini salah satu strength kamu."

"Loh, kenapa jadi strength? Bukannya itu artinya cari gampang, ya, Mas?"

"Jelas beda. Cari gampang itu nggak peduli dengan hasil. Kamu memang cari cara yang paling gampang, tapi tetep mengarah ke goal. Jadi gampang, tapi hasilnya tetep bagus. Ini jadi strength."

Begitu kira-kira percakapan saya dengan seorang dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang ahli di dalam bidang psikoanalisis. Percaya atau tidak, saya di-'baca' olehnya hanya dengan melalui satu benda yang saya pilih di ruangan. Saya memilih sebuah laptop berwarna merah muda milik teman saya, karena memang benda itu yang pertama kali saya pikirkan ketika Mas Ivan meminta saya untuk memilih satu benda di ruangan. Saya nggak ngerti lah gimana caranya sebuah laptop begitu bisa menjelaskan kepribadian saya dengan tepat. Entah beliau memang psikoanalis handal, atau ia sangat pandai mengobservasi orang (sehingga analisisnya itu sebenarnya berdasarkan perilaku yang saya tunjukkan), atau jago nebak-nebak; yang jelas hampir semua yang ia sampaikan tadi benar.

"Kamu tuh butuh kehadiran fisik. Nggak bisa long distance relationship."

Saya spontan tertawa.

Beberapa saat yang lalu, saya BBM-an dengan Ekki. Tentang bagaimana saya tidak bisa LDR-an, dalam hal ini dengan teman sendiri, karena saya nggak punya pacar dan belum pernah ngerasain LDR-an sama pacar (atau tepatnya, belum pernah punya pacar). Saya nggak bisa tuh nggak ketemu seseorang lebih dari sebulan dan tetep ngejalin hubungan yang intens. Saya nggak suka percakapan basa-basi hanya supaya komunikasi tetap terjalin rutin. I'm really bad at it. Saya tipe orang yang harus ketemu untuk bisa cerita panjang lebar. Saya bahkan suka kebingungan kalau ada yang curhat ke saya via instant messenger, karena buat saya mendengar aktif (yang melibatkan respons-respons nonverbal) jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada membaca aktif (yang melibatkan minimal prompts semacam 'ya ya' atau 'hooo, terus?' serta emoticon-emoticon penenang semacam big hug). Makanya, saya selalu jadi salah satu yang paling semangat untuk ngajak sahabat-sahabat saya di SMP dan SMA untuk ketemuan, to spend some quality time together, karena saya tau saya bisa kehilangan mereka kalau terus-terusan nggak ketemu.

Tawa saya tadi itu karena kaget.... Bahkan hal beginian bisa ditebak cuma dari benda yang saya pilih? Oh well... canggih sekali dosen saya! (Atau apapun ilmu yang membahas tentang ini - sehingga psikologi seringkali disangkutpautkan dengan ilmu ramal-meramal)

Kemudian, 'tebakan' selanjutnya yang dilontarkan Mas Ivan membuat saya semakin terpojok.

"Kamu punya pacar nggak sih?"

Saya kemudian menggeleng sambil tertawa pahit.

"Wah, cepet punya pacar gih. Kamu tuh sebenernya ngerasa sepi, meskipun pura-pura biasa aja."

Kali ini bukan hanya saya yang tertawa. Beberapa teman saya yang daritadi ikut menyimak dengan serius pun juga ikutan ketawa.

"Calon suami kali mas bukan pacar." 

Hanya itu yang bisa saya jawab karena saya bingung harus jawab apa lagi. Kemudian Mas Ivan menolak untuk menganalisis lebih jauh lagi, padahal lagi seru-serunya. Selain tiga hal di atas, ada satu lagi sebenarnya yang disampaikan oleh Mas Ivan, yang kembali ia tekankan saat dia tau zodiak saya Scorpio (itu pun ditebak sendiri sama Mas Ivan, entah gimana caranya). Tapi hal yang satu ini terlalu personal dan aneh untuk dibagi, apalagi di sini. Cukup saya aja lah ya yang tau, sambil bingung sendiri yang itu bener apa enggak.

--
Ramalan-ramalan Mas Ivan adalah salah satu hal yang menarik yang saya alami hari ini. Saya bingung harus nulis salah satu atau satu-satunya, karena setelah itu saya rapat selama lima jam dengan kondisi belum makan sejak pagi, dan kesal karena sesuatu dan lain hal. Saya tadinya mau nulis lebih panjang soal ini, karena saya butuh sarana untuk meregulasi emosi (yang sejak tadi masih sangat negatif), tapi saya jadi males dan milih untuk nggak ngebahas ini lagi, setidaknya hari ini. Yah, intinya saya lagi jenuh dan mulai bosan dengan rutinitas yang satu ini (karena saya memang tidak suka rutinitas, sebenarnya).




Saya ingin liburan lagi, atau sekedar menghabiskan waktu sendiri di hari yang hectic, dan mematikan handphone seharian. Terdengar menyenangkan dan menenangkan, bukan? Tapi saya tau, itu nggak akan bisa saya lakuin sebelum ini selesai. Jadi sekarang nggak ada yang bisa saya lakuin selain mengerahkan seluruh usaha saya sampai seluruh urusan ini selesai. Dan tetap menyelingi hari dengan menonton DVD sedikit, walau hanya dua-empat puluh menit.

"Tetap semangat, ya!"

Begitu isi pesan pendek saya kepada staff-staff saya di sie acara kamaba. Entah mereka tahu atau tidak, sebenarnya saya sedang menyemangati diri saya sendiri.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...