Saturday, June 22, 2013

To Work, Passionately

I got a whole month of free days since it's the end of school year holiday, and so I pretty much got nothing to do. I hate that feeling when I have spent too many days doing nothing. Therefore, when a friend of mine told me that a global management consulting firm need a few freelancer to help them out with their project, I'm interested to try. I knew I won't be doing things that makes me cognitively challenged, but I would like to do it anyway. I'm interested to learn how does it feel to be an employee (though a teacher is, in fact, also an employee).  How does it feel to work 9 hours in front of PC. How does it feel to go to Sudirman everyday, being in a train overloaded with commuters. How does it feel to work with hundreds of people in a big building. How does it feel to.... work, even only for a day or two (or maybe more, let's see).

My first day is actually a mess. I don't even have the guts to go inside the train, and wait for the next one instead (which is actually almost as chaotic as the first one). I hate the work, I don't feel good about myself while doing it, and I feel so tired when I got home. Nevertheless, I came back to spend another day, because I despised myself for giving up too easily. On the second day, I already know what to expect, so I told myself to be stronger. There are a lot of people who don't enjoy what they do for a living, but they can deal with it. So why can't you? 

When you lower your expectation and had been through something really bad, something good will happen, I assure you that. At the second day, I start observing around, and looking for the silver lining of  'working at a company'.

And I finally get it. I get why thousands of people are willing to get up early, go through pretty much the same morning hassle everyday, work all day, and got home late. It could be the money, or the pride. It could be the lifestyle. It could be the social life, which I found really appealing. It could be the rush. It could be the satisfying feeling when you got to do something more than targeted, get a bonus, be promoted, or else. Those are gratifying and self-fulfilling.

Nothing is ever a waste, including doing something I know I won't like doing. At least I learned to do and to finish what I'm responsible for, even when I don't feel like doing it. I learned how to be tough and independent, and how to cope with a nerve-racking morning and evening. I learned how to be flexible. And most of all, I learned how to be thankful for finding the right place where I never really feel like I'm working. 

After today (or, after working in a company for two days - and make a conclusion from it), I think working in a company, even by doing something administrative (which I disrelish doing) is actually bearable. I can mention a few things that I enjoyed. In other way, if I'm obligated to do it, I can still survive and won't be so distressed - as it's not as bad as what I thought previously. However, I won't be fallen in love with it. It's not something that I will tell people around passionately. It's not something that can make me woken up every morning with such excitement. It's not something that I will exceedingly miss doing during my holiday. It is not something that I am passionate about.

But here's the thing: Some people don't have (or don't use) the chance to go where their passion is. 
So when you do, and you're sure about it, don't ignore it. Just go through the right path (the one where your heart told you to take), and find a way to make it able to fulfill your need (financial need, esteem need, or anything else - you name it).


Keep doing something you're passionate about, and you will never work for the rest of your life.

Tuesday, June 18, 2013

Dream, Postponed



 It's official: I won't be a psychologist for (at least) another three years. I will continue being a special education teacher for another year or two, and continue getting my master degree after. To be honest, I still feel weird about not doing what I exactly planned to do, since I am a little rigid on that, but I am sure that this is for the best - that this is what I need the most. As I told everyone, working here gives me abundant things to learn. It also gives me joy (I'm pretty sure everyone that I have already told about my work to can 'read' it from the way I tell the story). I feel really comfortable working here. The teachers are all nice to me and not think of me as a 'new-kid' or treat me like an outsider, the kids are all amazing in their own way and got me in love with them at the first sight (or in this case, at the first observation), the school is not so far from my house and has great facilities, and so forth. I've adjusted myself, and for now, I can say that this is the workplace to work right after college that I've been dreaming of. I couldn't ask for more.

The teachers



The girls


Things will get more challenging starting from July, though, since I will be a teacher (not a teacher assistant anymore) and have my own class. I dare myself to be a great teacher even when I'm still new at this, so I know I must read some books on how to face a challenging child in the classroom, and how to transfer knowledge to those who have difficulties. From that moment, I have to be responsible for everything. I also have to be able to face parents with different values and personalities, and learn how to discuss their children with them. Next year will be both exciting and challenging for me. Hopefully, anything I'm going to go through can make me a better psychologist and even a better person in the future :)




Sunday, May 19, 2013

Tentang Sekolah dan Pendidikan

Setelah dulu magang selama satu bulan di Sekolah Cikal dan hampir tiga bulan bekerja di Sekolah Cita Buana, saya menarik satu kesimpulan: Pendidikan yang baik memang mahal, meskipun pendidikan yang mahal juga belum tentu baik.

Dulu, saya mencibir sekolah-sekolah yang terlalu mahal. Sekolah-sekolah berisi anak-anak orang kaya yang sejak kecil terbiasa untuk menjalani hidup dengan cara yang paling mudah. Sekolah-sekolah berisi anak-anak yang orang tuanya memiliki gengsi yang terlalu tinggi, sehingga tidak keberatan merogoh kocek dalam asal anaknya bisa masuk ke sekolah mahal yang terkenal. Sekolah-sekolah yang selalu bikin macet setiap pagi, dan yang lapangan parkirnya selalu dipenuhi mobil-mobil mewah. Sekolah yang nantinya akan membuat anak semakin borjuis.

Sekarang, saya tahu bahwa ada alasan di balik jutaan rupiah yang harus dibayar orang tua setiap bulan. Sekolah yang baik memerlukan sarana dan prasarana yang bisa menunjang pembelajaran (termasuk lahan yang luas agar anak-anak bebas bermain dan mengeksplorasi lingkungannya), guru-guru yang berkualitas (sehingga harus dibayar lebih mahal), serta kurikulum yang terintegrasi dari beberapa negara yang sistem pendidikannya sudah sangat baik. Semua memerlukan biaya yang besar, sehingga biaya bulanan yang harus dibayar orang tua pun pun bisa menjadi lebih besar daripada penghasilan freshgraduate di Jakarta. Sekolah yang baik memang tidak harus mahal, tapi sekolah yang mahal karena sistem pendidikan, pendidik, serta fasilitasnya (bukan karena pengelolanya terlalu mementingkan profit) will be worth every penny. You will definitely get what you paid.

Menurut saya, sekolah (terutama TK dan sekolah dasar) adalah investasi. Bukan hanya investasi dari segi finansial loh ya, tapi investasi dalam "membentuk" anak agar bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apa yang ditanamkan di sekolah dan di rumah, jika terinternalisasi dengan baik oleh anak, akan membentuk karakter seorang anak. Bagaimana cara berpikir, berperilaku, dan menilai sesuatu. Hingga saat ini, saya yang tadinya anti-sekolah-mahal jadi bimbang... Apakah nanti saya juga harus menyekolahkan anak-anak saya di sekolah yang mahal?

Bagaimana pun, layaknya semua hal di dunia ini, tidak ada sekolah yang sempurna. Itulah yang membuat saya kebingungan jika ada orang yang menanyakan rekomendasi SD swasta untuk anaknya. Memilih SD untuk anak menurut saya serupa dengan memilih pasangan hidup.. Pada akhirnya, harus ada yang lebih diprioritaskan. Beberapa orang lebih memperhatikan penampilan - bagaimana fasilitasnya, aksesnya, gengsinya. Buat saya, sekolah yang paling tepat adalah sekolah yang mengajarkan nilai-nilai yang sama (atau sejalan) dengan yang ingin diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Karenanya, sebelum menyekolahkan anak, orang tua harus tahu terlebih dahulu, nilai apa yang dianggap penting dan ingin diajarkan kepada anak. Agama kah? Kompetisi? Moral? Seni? Alam? Akademis? Toleransi antar budaya dan agama? Pengembangan potensi diri dengan maksimal?

Faktanya, setiap sekolah beserta unsur di dalamnya memiliki nilai yang berbeda-beda, yang nantinya akan diturunkan kepada setiap peserta didik di sekolah tersebut. Makanya, penting untuk menyesuaikan ekspektasi orang tua dengan apa yang ditawarkan oleh sekolah. Menurut saya, mendidik seorang anak harus dibarengi oleh konsistensi dari setiap aspek di lingkungan. Jangan sampai apa yang diajarkan oleh orang tua di rumah ternyata berbeda dengan kenyataan yang ditemui di sekolah, atau malah sebaliknya.

Buat saya pribadi, salah satu nilai yang paling penting yang harus ditanamkan oleh para pendidik di sekolah adalah nilai agama. Karenanya, sekolah anak saya nanti harus sekolah Islam. Itu dulu yang terpenting. Kenapa? Karena anak-anak belajar melalui meniru dan melalui pembiasaan. Bagaimana pun, ritual-ritual keagamaan harus dibiasakan sejak dini. Dan saya percaya, anak yang sudah dibekali dengan pendidikan agama yang baik (termasuk di dalamnya mengenai pendidikan akhlak), akan memiliki moral yang baik pula, sehingga pendidikan agama (di rumah dan di sekolah) adalah sebuah fondasi untuk menghasilkan generasi yang berkualitas. Belajar agama itu bukan hanya di ranah kognitif, tapi juga harus sampai ke ranah afektif. Bukan hanya dengan menghapal ayat dan fiqih, tapi juga melalui contoh tentang cara berperilaku yang baik.

Selanjutnya, saya sangat mengagumi sekolah-sekolah berkurikulum internasional (atau kurikulum yang dibuat sendiri oleh orang-orang yang paham tentang pendidikan) karena kurikulumnya membiasakan anak untuk berpikir kritis. Anak-anak ini tidak diajarkan untuk melalap buku dan menghapalkan apa yang ada di buku (beberapa sekolah internasional bahkan tidak punya buku pelajaran!). Instead, mereka diajak untuk membahas kejadian di sekitar mereka. Mereka dibiasakan untuk menggunakan logika mereka - mengapa bisa seperti itu, apa saja dampak negatif dan positif dari suatu kejadian, apa yang bisa dilakukan, dan lainnya. Mereka dibiasakan untuk menggunakan otak mereka yang luar biasa potensinya untuk menganalisis, bukan hanya untuk menghapal. Selain itu, anak-anak juga dibiasakan untuk melakukan presentasi sejak dini. Mereka dibiasakan untuk berani berbicara di depan umum, berani berpendapat, dan berani memberikan kritik dan saran. Saya percaya, pengajaran dengan metode seperti ini akan jauh lebih bermanfaat daripada pelajaran-pelajaran akademis yang diujikan oleh negara.

Taksonomi Bloom (yang telah direvisi). Sedih kan, begitu tahu kalau UAN hanya menguji satu atau dua tujuan pendidikan yang paling bawah?

Selain itu, saya sangat mengapresiasi kedua sekolah yang sudah pernah saya masuki tersebut karena mengajarkan seni dan olah raga dalam porsi yang sangat besar. Ada pelajaran musik, visual art, drama, dan PE (pendidikan jasmani). Menurut saya, hal ini menjadi sangat baik karena pelajaran yang seringkali dianggap tidak penting (bahkan oleh saya, ketika sekolah dulu) ini memberikan kesempatan lebih besar kepada anak untuk mengembangkan kreativitasnya, dan untuk menjadi diri mereka sendiri. Selain itu, porsi pelajaran nonakademis yang cukup besar menurut saya sangat baik karena membuat setiap anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya. Ketika magang di Cikal dulu, saya bisa melihat potensi yang dimiliki setiap anak di kelas saya - karena terdapat kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan kemampuannya. Hal ini sangat penting bagi self-esteem anak, karena ia akan dinilai orang lain (dan menilai diri sendiri karenanya) berdasarkan bakat dan kemampuan yang ia miliki, bukan hanya berdasarkan pelajaran-pelajaran yang dianggap penting oleh lingkungan.
Hal yang seringkali dilupakan oleh orang tua, guru, atau siapa saja: menilai anak hanya dari pelajaran-pelajaran yang dianggap penting (terutama pelajaran-pelajaran yang di UAN-kan)


Karena alasan ini juga, saya beranggapan bahwa sekolah yang baik tidak akan menerapkan sistem ranking untuk menentukan mana anak yang paling baik. Setiap anak itu istimewa, dan membandingkan mereka hanya berdasarkan beberapa aspek tertentu buat saya adalah keputusan yang tidak adil untuk mereka.

But then again, pendidikan yang sempurna di sekolah tidak akan berimbas besar bagi anak jika ia tidak mendapatkan stimulasi, perhatian dan kasih sayang, disiplin, serta contoh yang baik di rumah. Bagaimana pun, seperti kata seorang ulama yang saya kutip di latar belakang skripsi saya, "Al-ummu madrasatul uulaa." Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Intinya, saya harus kerja keras supaya anak saya bisa sekolah di sekolah yang bagus, meskipun saya tetap nggak mau nyekolahin anak di sekolah yang bener-bener mahal karena khawatir anak saya jadi borjuis dan terbiasa hidup serba mudah. Tapi, meskipun begitu, ada satu hal lagi yang harus saya catet: Saya tetep harus jadi sekolah yang pertama dan utama untuk anak-anak saya nanti. Di sekolah apa pun mereka nanti, harus ada nilai-nilai penting yang mereka pelajari di rumah. Harus ada banyak hal baik yang tertanam pada diri mereka, karena diajarkan oleh dan ditiru dari orang tuanya. Merealisasikannya nggak akan mudah, tapi semoga tulisan ini juga bisa menjadi pengingat untuk saya.

Oh iya, sejauh yang saya tahu, belum ada sekolah yang bener-bener sesuai dengan kriteria sekolah-idaman-untuk-anak-saya yang sudah saya tuliskan di atas. Karenanya, saya jadi punya satu mimpi besar lagi: membuat sekolah impian saya. Tapi nanti ya, kalau saya sudah jadi psikolog terkenal dan sudah punya klinik keluarga dan tumbuh kembang anak yang keren. It's still a long, long, loooong way to go. But everything is possible if Allah allows it, right?

Wednesday, May 15, 2013

Tentang Mereka, Para Pendidik

“In learning you will teach, and in teaching you will learn.” - Phill Collins 
Salah satu hal yang saya syukuri dari pekerjaan saya sekarang adalah besarnya kesempatan untuk terus mempelajari hal baru. Di sekolah ini, meskipun saya menjadi guru, rasanya saya lebih banyak belajar daripada mengajar.

Selain mendapatkan insight dari anak-anak, saya juga banyak belajar dari tim guru di subdepartemen saya, Learning Centre. Selain saya, di LC saat ini terdapat lima orang guru (yep, untuk empat belas anak) beserta satu kepala divisi Special Need (the one that we call 'bu bos'). Dari kami bertujuh, enam di antaranya adalah lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saya punya satu kebiasaan buruk, yaitu meremehkan orang lain yang berkecimpung di bidang yang dekat dengan psikologi (misalnya parenting, pendidikan, atau training) namun tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang psikologi. Karena hampir semua guru yang bekerja dengan saya juga lulusan psikologi UI, kecongkakan saya jadi berkurang, karena mereka semua pernah mempelajari (hampir semua) hal yang telah saya pelajari. Bedanya, selain teori, mereka juga punya pengalaman yang kaya. Jelas lah, saya jadi anak bawang yang sibuk mendengar dan mengobservasi sambil mengagumi pendapat mereka dan mencatat dalam hati. Guru-guru ini adalah orang-orang yang berhasil menerapkan ilmunya untuk membuat segelintir anak menjadi lebih baik. Mereka bukan hanya mengajarkan materi-materi yang direncanakan dalam IEP (Individualized Education Plan) setiap anak, tapi juga mengajarkan mereka tentang bagaimana bersikap dan berperilaku. Teori tentang modifikasi perilaku yang berulang kali saya pelajari ketika kuliah dulu benar-benar mereka terapkan dengan konsisten, membuat saya terkagum-kagum.

Mereka yang mendidik, bukan hanya mengajar.

Guru-guru ini menjadi salah satu alasan dibalik kemantapan saya untuk menunda kuliah magister, setidaknya selama satu tahun. Saya tahu kalau saya perlu banyak belajar dari mereka, untuk menyeimbangi teori-teori dan berbagai hasil penelitian yang telah jadi makanan harian saya selama tiga setengah tahun belakangan, dan akan tetap menjadi santapan istimewa untuk dua tahun berikutnya. 

Selain melakukan pembelajaran dengan mengobservasi, saya juga kerap diberikan petuah-petuah yang berharga. Karena semuanya tahu kalau saya ingin segera melanjutkan studi untuk kemudian menjadi psikolog, saya sering diingatkan mengenai poin-poin penting yang kerap diabaikan oleh seorang psikolog. Berdasarkan pengalaman mereka, psikolog sekolah yang tidak pernah menjadi guru sebelumnya sering kali memberikan keputusan-keputusan yang kurang realistis. Mereka seringkali terlalu berpaku pada teori yang telah mereka pelajari; seharusnya begini, seharusnya bisa begitu. Biar bagaimana pun, setiap anak berbeda-beda; apalagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. They are wired differently from one another; they all have different strengths, weaknesses, threats, and opportunities. They are different, and therefore different approach is needed. Dengan semangatnya, guru-guru ini memberi tahu saya segala hal yang perlu saya perhatikan jika saya kelak menjadi psikolog. "Tuh, Yas, yang mau jadi psikolog, catet!" menjadi salah satu kalimat kesukaan saya.

Eventhough they all seem perfect, of course they're not. Ada kalanya saya tidak menyetujui tindakan yang mereka lakukan. Ada kalanya nilai-nilai yang mereka miliki berbeda dengan yang saya anut. Ada kalanya teori yang saya yakini berbeda dengan praktik yang dilakukan. Tapi buat saya, ada pembelajaran lain lagi yang saya dapatkan: bagaimana memilah informasi dan pembelajaran; bagaimana menorelansi perbedaan, dan bagaimana mengontrol diri untuk melakukan sesuatu karena pengetahuan, bukan karena kebiasaan. Biar bagaimana pun, mereka telah membuka mata saya bahwa di balik sistem pendidikan Indonesia yang carut-marut, masih ada guru-guru yang mendidik anak muridnya dengan hati. Masih ada guru-guru yang benar-benar peduli dengan muridnya. Masih ada orang-orang yang mementingkan kualitas pendidikan daripada profit yang bisa dihasilkan.

How grateful I am to have a workplace where I can do what I'm passionate about, and still having plentiful things to be learned about. It's like I'm spending another year in another college, learning by observing children, teachers, and parents' behavior, and by applying those prior knowledge that I have been taught in college. 

My life is grand! Thank you for always making it that way, dear Allah :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...