Showing posts with label Lesson Learned. Show all posts
Showing posts with label Lesson Learned. Show all posts

Sunday, July 24, 2016

About Trust And Disappointment

This week I learned again that not everyone is a good person. There are people who couldn't put themselves in other people's shoes. People who only care about their own well-being, and simply don't care about anyone else's. People who could only see bad in other people, and good in themselves. These people do exist, whether I like it or not. Whether I could empathize with them or not. Hating them wouldn't do any good, but trusting them would only show how gullible I am.

There are also people who act like they're good and friendly. Like they're trustworthy. People who, in the end, would betray your trust and are actually not on your side, but too afraid to say it on to your face. People you'd put high expectation on, but then you realize you can't really rely on.

If you're lucky enough, though, most of the people you'll meet in your life would be good people. Some are even more special. The kind who's going to listen and be supportive. People who will love you no matter what. People who will help you grow and be a better person. People who matter, and hence worth spending time with and to listen to.


This week, I was reminded again that I will always be the victim if I expect too much from others. That being too nice to anyone won't do me any good.

However, I also learned that being all angry and aggressive wouldn't solve the problem. So would being submissive. Being assertive is the one that would work. Express what you feel with the relevant evidence, give the person a chance to justify their behavior and to give feedback to you as well (because we're not perfect either, obviously), and let them know why you want them to change their behavior. Use the "I-message" strategy, as I seconded its efficacy. So yes, the next time I felt like being mistreated by others, even in other contexts, I promise myself to always do that.

I'm grateful for having the opportunity to work with various types of people. The great one, the annoying one, the mature one, the one who couldn't stop whining, the aggressive one, and the one who goes all passive-aggressive. That way, I have a chance to learn about how to handle different kinds of people and to communicate better. 

It was such an intense week, and yet I learn so much about people and myself. 


Sunday, April 17, 2016

Tentang Kritik dan Mengkritik

Banyak insight yang saya dapatkan selama 6 bulan menjadi konsultan di Kementerian Pendidikan, khususnya selama hampir 3 bulan terakhir, karena saya dan teman-teman membantu menangani isu-isu strategis pendidikan. Salah satu insight penting yang saya pelajari adalah pentingnya berhati-hati dalam mengajukan kritik.

Sure, kritik membantu memberikan tekanan kepada pihak tertentu untuk berubah menjadi lebih baik, apalagi kritik yang disampaikan berulang di media massa. Sayangnya, beberapa kritik yang saya baca belakangan tentang pendidikan cenderung tidak konstruktif dan kadang tidak tepat sasaran. Hal ini akan berdampak negatif, karena opini tersebut dapat mengarahkan sikap dan perilaku masyarakat.

Saya akhirnya juga belajar untuk tidak asal tunjuk ketika ada masalah. Bahwa tidak semua masalah di negeri ini disebabkan oleh Pemerintah. Bahwa Pemerintah sebenarnya juga mengetahui masalah-masalah yang ada dan berjuang keras untuk mencari solusinya, meskipun kadang langkah yang diambil masih kurang tepat atau hanya merefleksikan isomorphic mimicry - meniru best practice di negara lain namun tidak secara menyeluruh (hanya kulitnya saja), sehingga masalah pun tidak berkurang secara signifikan.

Saya pun belajar bahwa, jika suatu saat saya akan memberikan kritik, saya harus menganalisis dulu masalahnya secara obyektif dan mendalam. Siapa saja yang mungkin berperan, apa pokok permasalahannya, dan apa solusi yang paling feasible. Karena satu lagi yang saya pahami setelah menjadi bagian dari Pemerintah: It's not easy to please everyone in the country. Kebijakan dibuat dengan mempertimbangkan banyak hal; bukan hanya masalah idealisme atau purely berdasarkan teori dan hasil penelitian.

Negara kita luasnya bukan main, ragamnya juga. Maka tidak bijak ketika kita terus-terusan membandingkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan di Singapura atau Finlandia tanpa mempertimbangkan faktor lain. Karena tahu kah kamu kalau warga negara Singapura banyaknya kurang lebih sama dengan jumlah guru di Indonesia? Tahu kah kamu bahwa sistem desentralisasi di Indonesia menyebabkan banyak aktor kunci berperan dalam menentukan pencapaian pendidikan, selain pemerintah pusat?

Sistem pendidikan kita memang masih jauh dari sempurna. Tapi sebelum berkoar-koar dan menyalahkan para pembuat kebijakan, tidak ada salahnya kan, untuk mempelajari dulu kebijakan apa yang rencananya akan diterapkan dalam beberapa tahun ke depan?

Sistem pendidikan kita memang masih jauh dari sempurna, tapi percaya lah, we're heading there. Kritik tentu tetap boleh ditayangkan, namun dengan tujuan yang baik, untuk mengingatkan para pembuat kebijakan untuk konsisten melakukan perubahan; bukan untuk menaikkan nama pribadi dan menjatuhkan orang lain. Berbaik sangka itu penting, disertai dengan dukungan nyata agar semua rencana baik bisa terlaksana.


(Source: Pinterest)


Karena satu hal lagi yang saya pelajari: Banyak orang yang sibuk mengkritik, tapi hanya sebagian yang benar-benar peduli dan mau membantu.

Saturday, March 12, 2016

About Time

If there is anything I've learned from the last few years, it's that "Not now" is not a bad thing. It actually means "Hold on, you're getting to the good part." Or "I have something even better planned for you." Or, "I promise you'll get there, but this is important for you to experience."

Just believe that when you look back in a few years, you'll understand why. You will fathom what's so important for you to learn, that your plan needed to wait. And you'll be thankful for it.

Just believe that you'll always get what's best for you. Because no matter how good you are at planning, Allah is still the best planner. Because even though you think you know what's good for you, Allah knows best.

Source: Tumblr

Even when you're getting tired of your life and Allah keeps saying, "Hold on," just keep going and enjoy everything that is bearable, if not good, about it. Try your best to find something that makes your life more exciting and meaningful.

So when He told you, "Not now", just wait for another door to be opened. Be prepared to be amazed. Because He is just that amazing.

So yes, whenever I feel lost, I just have to keep my head up and wait for His surprises. Because He never ceases to surprise me with all the blessings. Because He will always be there for me, as always.

I believe all of that, even though I have to keep reminding myself that I can't control all aspect of my life. And that's completely fine, as that is the job of the Higher-Order who never sleeps nor does his believer any harm.

Because everything is going to work out in the end. Why worry?

Sunday, August 16, 2015

Menjadi Ibu

Satu lagi hal yang saya pelajari selama kuliah di UK: Belajar jadi istri dan ibu. 

Selama di UK, saya jadi kenal banyak ibu-ibu yang nggak tipikal. Usianya beragam, dari kepala dua sampai hampir kepala empat. Ada yang sedang kuliah master, PhD, atau menemani suami kuliah atau kerja. Ada yang single mother, ada yang belum juga dikaruniai anak, dan ada yang punya anak banyak. Ada yang selalu keliatan senang, ada yang curhat sampe sesenggukan karena capek ngurusin dua balita yang aktifnya masya Allah, ada juga yang hidupnya keras tapi semangat dan optimismenya lebih keras lagi. Ada yang alpha-wife, ada yang bener-bener tipe wanita-patuh-dan-manis. 

Nggak tipikal karena mereka semua memulai hidup baru di UK. Nggak ada baby sitter, nggak ada pembantu, nggak ada orang tua atau mertua yang bisa dimintai tolong. Nggak ada abang-abang sate atau nasi goreng yang bisa distop kalo lagi terlalu sibuk atau males masak. Nggak ada guru les atau guru ngaji yang bisa dipanggil ke rumah. Semuanya harus dilakuin sendiri.

Mengobservasi dan mendengarkan cerita mereka adalah salah satu kesenangan saya. Some people have real problems, and I think married people all do. Selain masalah burn out, ada juga masalah-masalah yang lebih kompleks seperti masalah rumah tangga atau pekerjaan suami. Masalah-masalah yang complicated dan bikin saya nggak bisa komentar apa-apa karena saya sadar saya masih amat bocah, polos, dan egois untuk sekedar berkomentar. 

Intinya, jadi ibu dan istri itu nggak gampang. Apalagi buat perempuan-perempuan yang berpendidikan tinggi dan punya ambisi. Ada banyak banget yang harus dikompromiin. No matter how bad you want something, your children's needs are going to come first.  Ada mimpi-mimpi yang harus direlakan kalau akan lebih banyak membebani keluarga. Momen-momen yang kayak gini yang bikin saya sadar kalo saya kok rasanya belum siap jadi ibu, meskipun udah banyak baca tentang teori psikologi keluarga dan parenting dan sering dicurhatin sama ibu-ibu. Atau semua wanita pasti akan siap pada waktunya, ya? Entahlah. 

Dari semua ibu yang saya kenal cukup dekat, favorit saya adalah mereka-mereka yang bisa mendapatkan insight sendiri ketika sedang bercerita. Mereka butuh didengar dan butuh mengeluarkan unek-unek sebagai bagian dari cara untuk meregulasi emosi, tapi mereka juga tahu gimana cara nyelesainnya. 

Mau tau strategi coping-nya? Yesreligious coping

Bayangin, ada yang cerita kalo beasiswa dan kontrak kerja suaminya nggak diperpanjang, dan tahu apa yang mereka bilang?

"Saya sih nggak khawatir sebenernya, pasrah aja sama rencana Allah. Saya nggak mau jadi tergantung sama manusia."

"Saya percaya Allah pasti akan bukain jalan kok, meskipun ada masalah ini. Jadi saya nggak khawatir."

Dan teman saya yang curhat karena burn-out jadi ibu itu? Well, she planned to have another baby next year. 

"Secapek apapun saya, kalo liat dia capek saya langsung ilang. Rasanya semuanya jadi worth-it deh! Lagian kan ini ladang ibadah saya juga, ya."

Some people have real problems, and they don't even worry about it. 

Because everything, indeed, has been written down. 


Sunday, September 7, 2014

About One Terrifying Week

I never really felt this scared. Dad's in hospital for Dengue Fever, and his thrombocytes concentration dropped to 8.000 (the normal count is over 150.000 - can you imagine how low was that?). He also has a high blood sugar level, so the doctor decided not to give him one of the most effective medicine to boost the thrombocytes (because it could also boost his blood level). Who would have thought that a single mosquito could ruin my family's whole week?

I underestimated "Dengue Fever" because a lot of people have had it and they're just fine. I have had it, and so has my brother. So I laugh at my super-sensitive sister who cried when she heard that my dad needed to spend a night at the hospital, because it is just Dengue Fever. But it turns out that the disease can get complicated for older people, even though my dad is not that old (at least not as old as most of my friends', anyway).

So I cried when my mom called me at 11 pm to tell that he needed thrombocytes transfusion. PMI (Indonesian Red Cross Society) ran out of type-A thrombocytes stock, so we needed to provide our own donors. My brother and I called a few relatives and friends to find suitable donors, then rushed to the hospital and PMI to take care of the blood donation. There were 10 donors that night and 4 the next night, but unfortunately, only 8 people are eligible. The blood donation and transfusion process was quite an emotional experience for someone who always fills her head with an abundance of "what-if" questions - for someone who always, always expects for the worst to happen. I was scared, but I was glad that I didn't have to do that alone.

Dad had 10 bags of platelets transfused, and today his platelet counts are getting better. He's still can't do anything but to stay in bed as he's still feel utterly dizzy and nauseous, but at least the critical period is over. At least he no longer needs transfusion. He still needs oxygen to breath and the low platelet counts did harm his liver, but at least he's feeling better now. At least I do not have to worry that much anymore.

As every other thing that has happened in my life, I know that there must be something to learn. And through this experience, I learned about my kin and friends. I realized that some of them are peculiarly kind and selfless, and even willing to help in the middle of the night, on short notice. There are also some of them who can't be there physically but checks on me and my family frequently - those who gives support occasionally. But there are some relatives who can't even empathize and are not willing to give any help. Who can only blame and talk without giving any comfort. This experience has clearly shown us who's to rely on, and who's to keep our distance with.

On the other hand, I also learned that I might also be a lousy friend sometimes. That I don't really show deep concern to those who might need it. Now that I know how it feels, I should be more caring and supportive. Because during your worst day, even a simple "how are you" would make you feel okay and not alone.





And lastly, even though sometimes I argue with my parents and say cruel things about them to myself, I realized that I'm not ready to live without them. I am aware that it's somehow inevitable, but I think it's not something that I could overcome right now. There's a saying about us being busy growing up that we forget our parents are also growing old, and I learned that it's true. But regardless, I learned the hard way - arduous, even - that I still need their presence in my life. So please Allah, please, keep my family in good health, and shower them with Your blessings and protection.

Everything will be okay. It will be.

Tuesday, April 1, 2014

Hong Kong: Indonesian Migrant Workers

My mother is an Islamic preacher. When I went to Hong Kong,  she was staying there for a month to teach Indonesian Migrant Workers (IMW - or the one we called TKW / BMI) who works as domestic helpers more about Islam. In order to do that, she had to spend most of her time here with them, socializing and listening to their problems and needs. Because I stayed with my mom there, I also spent quite a long time with them.

I saw a lot of immigrant workers everyday and hundreds of them on Sunday because they have a day off on that day. They are varied, from the one with long hijab to the lesbians. I'm not a homophobic yet I'm not fond of them either, especially because Hong Kong IMW's lesbianism mostly happen as a cause of lifestyle and prior experience, not because "they were born that way". So forgive me if I can't really put myself in their shoes and find it uncomfortable to see them doing public display of affection at the park. I do feel bad for them, though, and I personally think they need a professional help to heal their sadness and trauma without changing their sexual orientation.

Some of the IMW are pious and smart, though. They can even speak proper Bahasa, English, and Cantonese. You can have a chat with them and discuss about a lot of thing: politics, religion, education, et cetera.

Hong Kong IMW got a very high salary, compared to the Indonesian maids, of course. The minimum wage standard is about HKD 3800 (almost IDR 6 million), but they can get a lot more with more experience. That amount of money is not enough to survive in Hongkong if you have to pay for rent and food, but of course as a domestic helpers who live in their employers' home, they don't have to think about it. It sure is a hell of lot of money for Indonesians! After sending a little of money home, some of them spent the money by buying expensive clothes to make them look like a Hong Kongese, but the smart one save the money to do umrah or for their future plan. 

Things are not always pretty, of course. An IMW told us that everything depends on their employers. If she is lucky, they can be very supportive of her faith, but there were some cases when they restrict their domestic helpers to pray and eat halal food. But in Hong Kong, the government will protect them with the law, as well as a lot of NGO that provide shelter (as a place to stay when they have problems with their employers) and help. She said that Singapore law is the best one that can protect IMW, followed by Hong Kong. Getting physical and sexual abuse from their employer is very uncommon here. It's a shame though, knowing that people in Saudi Arabia treats IMW worse than people here in Hong Kong. It's a shame because Islam should also be seen in the way we behave, not only seen in our blood and they way we praise God. It's a shame that non-Muslim people living in a non-Muslim country behave in more Islamic way than the Muslims living in a Muslim country.

Getting to know the IMW is one of the highlight of my trip to Hong Kong. I got a chance to know them and listen to their stories from their own perspective. I also learned from their strength and their willingness to learn about Islam (because the one I interact with are the one who wants to - that's why my mother knows them). They have strong faith and not afraid to stand up for themselves if someone prohibit them to praise Allah and to practice Islam. They felt lost beforehand, until they realized that faith can definitely help if you are away and have no one to hold on to. With Allah and religious community around them, they found a new strength to survive.

That's what we should all be doing when we are in doubt and feeling lost: holding on to God and our beliefs.



Because even if we don't know what to do, He knows. He always does.

Saturday, March 23, 2013

Tentang Mengajar dan Belajar

Belum genap satu bulan saya mengajar di sekolah ini. Ketika pertama melangkahkan kaki ke bagian special education, perasaan saya berkecamuk. Ketika itu, saya adalah sarjana baru yang kepalanya dipenuhi teori-teori psikologi, termasuk teori-teori tentang anak dengan kebutuhan khusus. Tapi praktiknya? Berinteraksi dengan mereka saja saya belum pernah. Bagaimana kalau saya tidak sabar menghadapi mereka? Bagaimana kalau mereka semua mengacuhkan saya? Bagaimana kalau saya tidak bisa mendapatkan perhatian mereka? Bagaimana kalau mereka tidak menyukai saya? Duh.

Ketakutan saya mulai hilang ketika berhadapan langsung dengan mereka: empat belas anak yang merebut perhatian saya dengan segera. Ada yang ramah – bahkan terlalu ramah, ada yang terlihat kaku tapi diam-diam mendekati saya sambil membawa majalah tentang kereta dan menceritakan saya segala hal yang ia ketahui tentang kereta, ada juga yang menatap saya dengan tatapan jutek – meskipun minggu berikutnya saya mulai mengenal dia dan mengetahui kalau wajah dan gaya berbicaranya memang seperti itu, meskipun ia sebenarnya sangat baik dan penurut. Empat belas anak ini benar-benar berbeda satu sama lain. Mereka memiliki keunikannya sendiri-sendiri.

Meskipun di sekolah ini saya menjadi ‘ibu guru’, rupanya bukan hanya mereka yang mendapatkan pelajaran dari saya. Saya pun belajar banyak dari mereka. Dari anak-anak ini, saya belajar tentang persistensi dan resistensi – tentang perjuangan dan kegigihan. Sebagai sarjana baru, saya dan teman-teman saya kerap memperbincangkan dunia nyata yang kejam. Dunia nyata itu kejam, penuh tantangan, dan tidak semudah yang kami inginkan. Tetapi ketika melihat anak-anak ini sedang berjuang, saya tertegun. Kalau saya saja merasa dunia ini kejam dan penuh dengan tantangan, bagaimana dengan anak-anak ini?

Bayangkan saja, mereka bahkan harus belajar dan menahan diri mereka untuk tidak tertawa atau senyum-senyum sendiri jika tidak ada stimulus yang jelas, menatap mata lawan bicara, menjawab pertanyaan yang dilontarkan orang lain, bersabar saat menunggu giliran, tidak bergumam di tengah-tengah pelajaran, menyapa orang lain yang dikenal saat berpapasan, dan lain-lain. Mereka harus berusaha keras untuk melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan secara otomatis.

Mereka juga harus berjuang keras untuk melakukan operasi matematika sederhana, seperti penjumlahan, pengurangan, serta mengenali dan memberikan nominal uang yang tepat. Di hari ketiga saya mengajar, saya sudah membuat seorang anak menangis karena saya melarang ia untuk keluar kelas sebelum berhasil menyelesaikan soal yang saya berikan. Anak ini sudah kelas empat SD, tapi masih kebingungan saat melakukan pengurangan dua digit dengan metode susun ke bawah. “It’s really hard, Bu, I can’t do it.” Melihat ia menangis, saya ikutan sedih, dan bahkan hampir meneteskan air mata. Saya hampir saja luluh dan mempersilakan dia untuk meninggalkan ruangan kelas bersama temannya yang lain, tapi guru-guru yang lain serta teori-teori yang saya pelajari ketika kuliah mengajarkan saya untuk tegas dan konsisten dalam menerapkan peraturan. Saya pun terus menambahkan soal karena dia belum juga berhasil, sambil menuntunnya agar berhasil menemukan jawaban yang benar. “Ayo, dicoba lagi!” “Sedikit lagi!” “Satu nomor lagi ya…” Sampai akhirnya, dia berhasil menjawab soal yang saya berikan, serta dua  soal tambahan yang saya berikan untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah mengerti. Anak itu tersenyum bangga. “Susah atau gampang, Go?” tanya saya. “It’s easy, Bu!!!” katanya, seolah lupa kalau beberapa menit yang lalu ia baru saja menangis karena merasa tidak sanggup mengerjakan soal yang saya berikan.

Christopher Reeves pernah bilang,
“Anyone can give up, it’s the easiest thing in the world to do. But to hold it together when everyone else would understand if you fell apart, that’s true strength.”
Maka anak-anak hebat ini mencerminkan kekuatan yang sesungguhnya, karena mereka tidak pernah letih untuk mencoba – bahkan ketika guru mereka memaklumi kondisi mereka, karena mengerti bahwa kapasitas yang mereka miliki memang berbeda dengan anak-anak lain yang sebaya.

Dari anak-anak ini, saya juga belajar untuk bersyukur. Saya belajar untuk mensyukuri hal-hal yang Tuhan berikan untuk saya, yang selama ini saya abaikan – seperti kemampuan untuk memenuhi ekspektasi lingkungan tanpa harus mengerahkan usaha yang terlalu banyak. Saya juga belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil yang ada di sekitar saya. Saya bersyukur karena Tuhan membuka jalan saya untuk bertemu dengan mereka: empat belas anak hebat, kesayangan saya. Saya bersyukur karena bisa menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil setiap hari, seperti saat mendengar mereka melontarkan komentar-komentar lucu dengan wajah yang polos, atau kebahagiaan yang lebih luar biasa lagi: ketika melihat mereka berhasil dan ketika melihat mereka menunjukkan performa yang lebih baik daripada ekspektasi yang saya buat sebelumnya.

Suatu sore, setelah berhasil mengikuti semua perintah saya saat ekskul melukis, seorang anak bertanya kepada saya, “Ibu Ayas bangga?”

Anak itu mungkin tidak benar-benar mengerti apa arti kata ‘bangga’ dan seberapa dalam makna kata itu—setidaknya bagi saya, tapi saya tidak perlu berpikir panjang untuk mengangguk dengan yakin. Tentu saja Ibu Ayas bangga sama kalian semua!

 Belum genap satu bulan saya mengajar di sekolah ini. Tapi saya sudah jatuh cinta.

(Ditulis sebagai bagian dari proyek buku tentang pengalaman mengajar anak-anak dengan kebutuhan khusus yang ditulis oleh special education teachers di Sekolah Cita Buana, dalam rangka merayakan Autism Awareness Day 2013).

Thursday, March 7, 2013

About The Little Ambition

As I wrote before, being a special education teacher has taught me a lot, because I have to apply those theory I've studied for the past 3,5 years in real live. I've learned how to treat children with autistic spectrum disorder, how to be patient while working with children, how to discipline children and be consistent with every rule we've made, how to give the balanced amount of love and discipline, how to explain things based on the kid's cognitive level, and other how-tos.

I also enjoy observing the kids. My latest interest is asking the kids to draw a person, family, or house-tree-person. Yes, those are some of the drawing that are used as psychological tests, that, believe it or not, can actually determine someone's personality. I obviously can't make a proper interpretation yet, but I took a picture of their drawings and save it, so I might study about it later, after I become a psychologist and therefore able and am allowed to interpret it.

I also learned how family structure and involvement could really, really affect kids' development. The facility that the parents give is important, but not as important as the parents' willingness to help their kids and to always be there for them. I already knew it, but now I know that it matters that much - especially with the kids that have special needs who always need to be helped by adults. So here's my note for the future-me: always put your kids first - no matter what.

I know that being a teacher doesn't sound so fancy, and I know some people think that an-UI-graduate is way too good to be one, but I'm grateful to chose the job. Being a teacher means helping some kids be a better person. It also one of the job that can help me reach heaven, because my religion taught me that the beneficial knowledge that a person left in the world will still be counted as a good deed even if that person has passed away. And I know I know that the experience will give me a lot life lessons that I will need: how to be a good psychologist, how to be a good wife, how to be a good mother, and how to be a better person

I would gladly do this every day, but here's the thing: it might not be enough for me, because I have an ambition too, to be a child psychologist in 2015. I've made that plan since I was still a freshman. And here's the thing: I might be messy and unorganized, but when it comes to decide and do things, I always stick to my plan, and work my tail off to get what I planned to.

So yes, making a decision whether to try to stay for one more year or to stick to my plan is a one hell of a decision to make. I know that if I extend this for a year, I will get more new things to find and learn, but I don't know if I'm ready to do that. I'm not sure if I'm ready to postpone the dream, and to change the plan I've made. I won't be changing the dream, actually, but only putting a pause in the middle of it. But still, I'm not ready to do that.

I have no idea what to choose, and what would it affect me in the future. I love this job, but I hate not to complete my plan on time, that's all I know for now.

__

During my job interview, my boss, knowing that I'm still 19 and have finished my study faster than the normal period, asked me, "are you a high-achiever?"

I took a long pause, because I actually have no idea. And then I replied, though doubtfully, "I don't think so."

But right now, I guess that I am. If the idea of postponing a dream for just another year scared me this much, maybe I am. I always know that I'm a driven person, but I just realized that maybe I'm just a little too ambitious. I don't know if that's good or bad, though. But I sure know how to get past this: to find as many good things as I could that I would get if I chose to make a little change in the plan. 

Three years ago, God slapped me in the face and didn't let me to get what I want for the first time in my life. I was so sad and frustrated, realizing that it was unfair and that I deserved to get it, but then I try to get up and do something: I try to choose another path. Today, if I think about that moment in my life, I can say that I'm so grateful that He did that, because I know exactly what I'd miss if I stick to my old plan. I finally found out that the way I was walking through is better than the way that I once wanted to walk through. It also taught me to be resilient and to always look for the silver lining.

So please, yaa Rasyid, The Guide, please guide me to the right path. Please do show me which way is better for me and prove it to be a better one.

After all, You know me better than I know myself.

Monday, September 24, 2012

Just A Quick Note To Self

Never overdo something, even when you think of it as the most exciting thing to do.
Never overdo something, even when you think of it as something that you really are passionate about.
Never overdo something, even when they said that your hard work and persistence will make you get through anything.
Never overdo anythinganything at all!

Because, really, anything in excess is never good.

It is too early to complain. Yes, it is way too early.
But It's fine, because I know you can bounce back and do better. You can, and well, you kinda have to.

Good luck and do everything in balance, Yas.
You know you can do it!



(I always find self-talking as a helpful method to overcome my anxiety, so I reckon a self-writing will do the same)

Monday, March 12, 2012

Tertampar, Bolak-Balik

Pernah ngerasa ketampar bolak-balik saat dateng ke seminar?

Saya pernah, kemarin. Mungkin sebelumnya udah sering ngerasa ketampar, tapi yang satu ini beda, karena saya bahkan sampe harus nahan nangis - saya nggak mau nangis karena saya duduk di kursi paling depan.

Kemarin saya ikut seminar tentang Al-Qur'an. Lupa judulnya apa, tapi intinya seminar yang bertujuan untuk 'menampar' pesertanya bahwa menghafalkan Al-Qur'an itu mudah. Saya dan keluarga saya datang karena ibu saya jadi salah satu sharer, karena ia bisa menghafalkan Al-Qur'an di tengah aktivitas yang sangat padat. Ada tiga sharer lain: satu orang dokter, satu orang pemilik yayasan Qur'an, dan satu yang paling bikin saya kagum, seorang anak kelas satu SMA yang dari tutur kata dan cara bicaranya terlihat begitu dewasa.

Sebelumnya, saya sudah beberapa kali datang ke acara yang membahas agama seperti ini, karena satu bulan sekali keluarga saya memang memiliki agenda rutin untuk berkunjung ke berbagai masjid yang sedang mengadakan kajian dengan pembicara yang luar biasa. 

Tapi, kemarin, saya benar-benar merasa tertampar.

Tertampar karena melihat ibu saya di depan, bercerita tentang kegiatannya menghafalkan Qur'an setiap hari mulai pukul setengah tiga pagi - karena setelah subuh hingga malam hari kegiatannya sudah sangat padat. Tertampar karena ada sharer yang bilang kalau ia menghafalkan Qur'an pertama kali karena orang tuanya selalu menekankan pentingnya dekat dengan Al-Quran. Tertampar karena ada seorang syekh dari Palestina (yang saya juga lupa namanya), yang bilang kalau Rasulullah pernah berkata bahwa umatnya menyepelekan Al-Qur'an. "Siapa kah umatmu yang menyepelekan Qur'an itu, ya Rasul?" kata sahabat. "Mereka yang tidak membaca Al-Qur'an selama lebih dari tiga hari," kata Rasulullah. Tertampar karena setelah acara selesai, seorang teman ibu saya yang baru berkenalan dengan saya bertanya, "kamu (udah hafal) juga?"

Tertampar karena saya selalu menggunakan alasan 'sibuk' untuk tidak dekat dengan Al-Qur'an. Tertampar karena ibu saya adalah seseorang yang telah hafal Qur'an dan begitu dekat dan begitu cinta dengan Qur'an serta selalu mengingatkan saya dan adik-adik saya untuk juga dekat dengan Al-Qur'an - tapi saya toh lebih memilih untuk tidak mendengarkan. Tertampar karena saya seringkali tidak membaca Al-Qur'an lebih dari tiga hari, karena alasan yang sama, kesibukan. Tertampar karena hafalan saya tidak bertambah sejak saya lulus SD.






"Kalau tidak mau membaca Qur'an karena besoknya ada ujian atau karena sibuk dengan pekerjaan, itu namanya su'uzhan sama Al-Qur'an, seakan-akan dengan membacanya berarti akan menyebabkan nilai kita jelek atau menyebabkan rezeki kita akan berkurang."

"Kita harus menjadikan Qur'an sebagai sahabat kita. Perlakukan ia seperti kita memperlakukan sahabat kita: memberikan waktu utama (bukan waktu sisa) untuknya, dan tidak malu memperlihatkannya ke orang lain, di mana saja."

Kemudian saya merinding mendengar semua sharer membacakan beberapa ayat Al-Qur'an. Yang jadi favorit saya justru si anak SMA itu - karena saya suka suara yang berat. Saya jadi mulai  ngaco, bilang dalem hati, saya mau punya suami kayak gitu. Eh terus ketampar lagi, gimana mau punya suami yang hafalannya banyak, kalau saya bahkan dua juz aja dari SD nggak selesai-selesai, bahkan banyak yang hilang karena nggak pernah diulang?

Allah, tolong bantu saya untuk istiqamah sama yang satu ini, ya?

Wednesday, October 5, 2011

Just Another Happy Ending

Kamaba, satu kepanitiaan yang beberapa bulan terakhir jadi trending topic di kepala saya, akhirnya resmi berakhir. Saya bener-bener nunggu datengnya hari ini, karena saya segitu capeknya - literally and figuratively. Ketika rangkaian acara Kamaba yang seperti nggak selesai-selesai akhirnya benar-benar selesai, saya nggak bisa berhenti tersenyum dan mengucap syukur, sambil diberikan ucapan selamat serta pelukan dari beberapa orang di kampus. 

"Akhirnya berakhir juga penderitaan gue," ujar saya kepada salah satu teman.
"Lah, jadi ini penderitaan?"

Saya tahu teman saya cuma bercanda. Saya juga tahu kalau teman saya tahu kalau saya juga cuma bercanda. Tapi pertanyaan iseng dari teman saya itu cukup buat saya mikir: eh iya ya, kenapa akhir-akhir ini yang saya pikirin cuma tanggal penutupan Kamaba aja, seakan-akan Kamaba bener-bener jadi cobaan buat hidup saya? Loh, kenapa saya cuma inget yang jelek-jeleknya aja?

Sebenarnya kalau saya pikir ulang, ada banyak sekali hal yang harus saya syukuri dari Kamaba. Saya belajar banyak sekali. Mulai dari belajar memimpin tim yang isinya random dan penuh orang-orang hebat, belajar merancang sebuah acara dengan konsep yang diturunin dari teori-teori psikologi, belajar bekerja dengan beberapa orang yang nggak bisa diajak kerja (meskipun ada banyak banget yang helpful dan so cooperative to work with), belajar 'membelah diri', belajar untuk memenuhi ekspektasi orang lain, belajar meregulasi emosi, dan belajar hal-hal lain yang mungkin tidak saya sadari.

Kalau saya pikir ulang, semua masalah-masalah yang saya hadapi, semua air mata yang saya keluarin, semuanya adalah bahan pembelajaran saya untuk menjadi orang yang lebih persisten dan resilien. Untuk menjadi orang yang lebih dewasa. Untuk menjadi orang yang lebih baik.

Dan kemudian, ketika melihat maba-maba psikologi mengucap terima kasih dengan tulus, ketika melihat mereka tersenyum lega, ketika mendengar pernyataan Mas Ivan di depan Maba kalau Kamaba Fakultas Psikologi adalah Kamaba terbaik se-UI, saya tahu kalau yang saya lakukan ini nggak sia-sia.





Meskipun penuh 'tantangan', keputusan saya untuk menjadi PJ Acara di Kamaba nggak akan pernah saya sesali. Saya bener-bener belajar banyak. 

Ini adalah air mata saya yang terakhir untuk Kamaba. Air mata haru, tentu. Air mata lega dan bangga. Bahwa saya sudah melakukan yang terbaik, meskipun belum terlalu baik. Bahwa saya lagi-lagi dikelilingi oleh orang-orang yang begitu suportif. Bahwa saya, lagi-lagi, sangat beruntung.

Makasih ya, untuk kalian yang sudah jadi partner kerja saya. Makasih banget, terutama untuk anak acara yang bener-bener saya sayang, meskipun sering nge-bully saya. Makasih juga untuk teman-teman terdekat saya yang rela saya curhatin setiap kali saya mumet. Makasih untuk semua semangat yang diberikan. Makasih untuk semua ucapan selamat, jabatan tangan, dan pelukan hangat. 

Saturday, October 1, 2011

Friends, Personally & Professionally

I got a lesson from my recent activities, that I concluded when I was having a quality time slash truth time slash casual discussion with Ica, Ume, Ratih, Imbi, and Lunardi. The lesson is that eventhough we have to seperate our professional and personal life, we cannot really seperate them. Maybe it's subjective, but that's how I honestly think. I cannot forgive those who are my friends yet stabbing me in the name of professionality, so I won't do that either.

Some people can be your friend but cannot work with you professionally. But there are also some that you cannot even stay friends with after working with them professionally. They might be the one that working so hard without caring anymore.

I will never be like them, I promise. My friend is still my friend, eventhough they are also my opponent, professionally. But the idea of hurting them professionally is just stupid. It would just ruin our friendship, and I'll got no one when my work is done.

My point is, never hurt your friend, even by saying "That's different. This is professional, not personal. He's still my friend, yet I have to punish him because of professional matters." Never do that, because a good friend is worth more than anything. A good friend will make you much better when you got a problem. They will make everything easier. You sure don't want to lose them. Well, if you had one. Whoops.

Tuesday, May 10, 2011

Pembuktian

Saya seneng karena kondisi sejak terakhir kali nge-blog udah sangat berubah. Sekarang semua orang (setidaknya yang saya tau) memberikan support-nya buat saya - bahkan mereka yang seharusnya berada di posisi netral. Saya juga dapet banyak pelukan dari beberapa orang. Beberapa yang orang yang deket banget sama saya, yang jadi korban buat dengerin tangisan saya, atau keduanya.

Iya, saya sempet nangis (lagi) beberapa kali. Saya ogah banget nangis di depan orang lain, tapi yang ini bener-bener udah nggak bisa ditahan. Dan tau nggak? Ternyata cerita ke orang lain sampe nangis itu nikmatnya luar biasa. 'Meledak' itu efeknya luar biasa. Untung saya ada di fakultas yang isinya penuh sama pendengar-pendengar murahan (eh ini konotasi positif loh, maksudnya banyak yang mau dengerin meskipun ga ada untungnya juga buat mereka buat dengerin unek-unek saya). Dan setelah seharian nangis sampe sembab, besoknya (hingga detik ini) saya udah kembali seperti biasa lagi. Lebih semangat malah, karena ada yang mau dibuktiin.

Kemudian, ketika saya jadi lebih serius dalam menyelesaikan tanggung jawab saya daripada biasanya, dua teman saya, Icca dan Senza, ngingetin saya untuk tetap bekerja karena passion, bukan karena tekanan. Jangan sampai saya kerja hanya karena ingin melakukan pembuktian, karena lama-lama saya pasti akan jenuh dan capek sendiri. Itu sebenernya yang sempet saya takutkan. Tapi kemudian, karena ada harga yang harus dibayar, saya rela kok ngesampingin keinginan saya sendiri. Demi satu kata itu, pembuktian.

Saya kemudian ingat kata Lunardi, bos saya di PsyFest. "Lo pasti belajar banyak tahun ini, Yas." Begitu katanya. Saya setuju, saya percaya, dan saya berharap demikian. Setidaknya, pembelajaran yang saya dapet dari semua tanggung jawab yang saya ambil ini lah yang akan jadi reward buat saya.

Dan nyatanya, sampai saat ini saya sudah belajar sedikit.

Di awal, saya belajar untuk melakukan negosiasi dan mengajak orang lain melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Saya kemudian belajar untuk membuat sebuah keputusan penting.
Saya juga belajar untuk lebih kritis dalam memandang sesuatu. Apapun.
Dan hari ini, saya belajar untuk berani mengutarakan pendapat di depan orang yang cukup banyak - sesuatu yang selalu saya hindari. Meskipun nervous setengah mati dan melakukan sedikit kesalahan, toh saya udah berani nyoba, untuk pertama kalinya.

Semoga setelah ini saya dapet banyak pelajaran-pelajaran lain, dan semoga saya tetep kuat ngejalanin ini semua.

Oh, dan semoga semester ini cepet selesai, supaya pikiran saya nggak kepecah belah terus antara urusan akademis dan nonakademis. Tapi tetep, semoga akhir semester ini bahagia. Semoga IP saya bisa tetep naik pelan-pelan, buat pembuktian ke diri sendiri bahwa saya bisa bagi waktu dan konsentrasi dengan baik. Meskipun saya nggak yakin bisa untuk urusan yang satu ini, tapi ya nggak ada salahnya kok berdoa.






Allah, tolong biarin saya membuktikan apa yang udah saya umbar-umbar ke orang lain ya. Tolong biarin saya jadi orang yang bertanggung jawab.

Amin.

Tuesday, May 3, 2011

Tentang Tanggung Jawab dan Komitmen

Today was a pretty tough day for me. I cried two times, and as I realized that today ends pretty well, I cry one more time. It's been a long time since I last cried. Well, actually, it's been a long time since I last had a problem.

Masalah ini bukan masalah besar kok sebenarnya. Dibilang masalah pun sebenernya cuma karena menyangkut kepentingan orang banyak dan menimbulkan kegalauan yang amat sangat di diri saya sendiri. Ini cuma masalah kecil yang melatih kedewasaan saya. Yang melatih kemampuan saya dalam mengambil keputusan, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti, mempertanggungjawabkan keputusan yang telah saya pilih, dan ya.... semacamnya. Intinya, hari ini saya belajar banyak.

Hari ini saya ketemu dengan beberapa orang untuk minta izin dan saran - Meskipun kata Angel, nggak ada yang berhak untuk ngelarang saya karena cuma saya yang bisa memutuskan, dan cuma saya yang sepenuhnya mengerti tentang kapasitas diri saya sendiri.

Hari ini saya nangis tiga kali. Satu karena kaget dan ragu, satu karena kesel, satu karena sedih. Meskipun saya juga ketawa beberapa kali. Banyak sih, harusnya.

Hari ini saya mengumbar banyak janji. Janji ke tiga pihak sekaligus. Janji bahwa saya akan bisa total kerja di mana aja. Janji bahwa saya akan bisa membagi diri dengan baik. Janji bahwa saya bisa memegang komitmen dengan baik. Janji bahwa janji saya akan saya tepati.

Tanpa benar-benar yakin kalau janji itu bisa saya tepati. Though I know, I'll be haunted for the rest of my life if I can't.

Masalahnya, meskipun saya tipe orang yang tau benar apa kekurangan dan kelebihan diri sendiri, saya juga tipe orang yang sangat mementingkan pendapat orang lain. Jadi, meskipun saya sebenarnya yakin kalau saya mampu, saya akan jadi ragu kalau orang-orang meragukan saya. Kalau orang-orang seakan-akan nggak mendukung saya. Meskipun kata mereka nggak gitu.

Hari ini saya sibuk meyakinkan orang-orang itu kalau sebenarnya saya mampu. Tapi yang mungkin nggak banyak yang tau, sebenarnya saya juga ngelakuin itu sambil menyakinkan diri saya sendiri.

Keputusan itu pun akhirnya saya buat. Dengan segala risiko yang ada dibaliknya. Sekarang saya tinggal ngelakuin yang terbaik yang bisa saya lakuin, dan megang janji yang udah saya umbar ke mereka.

It's not that hard, that's my biggest wish.



(langsung saya pasang jadi DP BBM saya. Labil, yah?)



But, to be honest, a long, warm hug and a support is all i need right now.





Saya cuma mau dikasih semangat dan dikasih dukungan. Saya nggak bisa kerja kalau masih ada yang nggak setuju sama keputusan yang saya ambil, beneran deh. Doain saya ya. Saya pasti bisa ngelewatin ini semua, iya kan?

Saturday, March 12, 2011

Orang Baik?

Hari ini handphone saya nyaris dicuri orang. Nyaris maksudnya adalah udah diambil tapi saya ambil lagi. Jadi gini, saya punya kebiasaan buruk sejak SMA: mainin handphone di kendaraan umum. Sebenernya saya nggak pernah nganggep itu buruk sih - sampe kemudian ada kejadian ini. Pas SMA saya malah sering banget ketiduran di angkot sambil dengerin lagu, dengan handphone di pangkuan saya. Jadi gini, saya punya prinsip yang konyol: saya percaya semua orang itu baik.

Mungkin kepercayaan saya itu timbul gara-gara saya nggak pernah ketemu orang jahat. Buktinya, selama dua tahun bolak balik rumah-SMA-rumah, handphone saya nggak pernah diambil orang. Yang ada malah saya dibangunin sama penumpang lain. "Dimasukin ke tas dulu dek, hapenya, kalo emang mau tidur. Capek ya abis sekolah?", gitu paling kata mereka. Bener kan, semua orang yang pernah seangkot sama saya itu orang baik.


Hari ini, seperti biasa saya naik kereta ke kampus. Nggak biasanya sih saya serajin ini, ke kampus hari Sabtu. Hari ini saya ke kampus karena mau wawancara buat tugas psikologi entrepreneurial (saya, Merina, dan Ratih akhirnya wawancara pemilik Es Pocong). Di kereta, seperti biasa saya dengerin lagu biar nggak bosen. Saya lupa nge-charge iPod, jadi saya dengerin lagu lewat handphone. Keretanya lumayan penuh dan saya nggak kebagian tempat duduk. Bodohnya saya, udah tau kereta penuh dan nggak duduk, handphonenya nggak saya masukin ke jeans - tapi malah dimasukin ke semacam kantong di belakang tas yang nggak ada resleting atau pengaitnya sama sekali. Sama sekali.

Di sebelah saya ada mas-mas berbaju coklat yang dua-tiga kali ngelirik ke arah saya. Lagi-lagi karena menurut saya semua orang itu baik, saya nggak curiga sama sekali. Tiba-tiba orang itu pergi dan.... lagu yang lagi saya denger berhenti! Bingung, saya telusurin kabel headsetnya, dan... handphone saya udah nggak ada!

Untungnya, kereta lumayan penuh dan lagi ada yang jualan minum - ya, yang pake dorongan gitu - jadi si mas-mas berbaju coklat itu ketahan dan belum pergi terlalu jauh. Refleks, saya tepok tangannya lumayan kenceng dan saya panggil dengan nada tinggi, "Mas!". "Handphone!!!" kata saya dengan nada lebih tinggi setelah si mas-mas itu nengok ke arah saya. Dia masang tampang sok nggak ngerti apa-apa, tapi untungnya handphone saya masih dia pegang, jadi saya punya barang bukti. "Itu, handphone-nya!!!!!!" kata saya lagi. Nih ya, percaya atau enggak, saya nggak bisa marah ke orang lain selain keluarga inti saya. Mau diapain kek, saya nggak akan marah. Kesel iya, tapi nggak akan bisa ngekspresiin marah; baik dengan teriak-teriak maupun diem. Tapi tadi, saya ngerasa saya galak banget. Yang saya lakuin tadi spontan banget, karena kalau logika saya masih jalan, saya pasti milih untuk diam. Iyalah, kalo si masnya bawa pisau atau apapun gimana coba kan?

Setelah saya panggil dan saya kasih muka jutek, mas-masnya keliatan panik. Dia kemudian ngebalikin handphone saya, terus saya biarin pergi.

"Kenapa lo nggak teriak maling, sih?" kata Ratih.
"Kenapa nggak teriak maling, biar dia digebukin dan dibawa ke kantor polisi?" kata Awwaab.

Sejujurnya, saya nggak kepikiran untuk teriak 'maling!'. Dan sejujurnya, saya bersyukur nggak teriak. Biarin deh Allah yang ngebales apa yang dia lakuin. Lagian toh handphone saya nggak jadi diambil. Lagian, intuisi saya bilang kalo orang ini nggak biasa nyuri. Makanya dia nggak langsung masukin handphone saya ke kantongnya. Kalo iya begitu, kasian dong baru pertama kali niat nyuri malah dipenjara. Dapet barangnya enggak, digebukin iya, dipenjara iya. (Tapi terus Awwaab bilang, 'lah ngapain kasian? salah sendiri nyuri barang orang.') Toh kejadian ini bukan sepenuhnya salah dia. Saya juga salah, karena nggak bisa jaga barang.

Saya bersyukur banget karena sadar lagunya berhenti. Bersyukur banget karena ada penjual minum lewat. Bersyukur banget karena si calon pencuri masih megang handphone saya - bukannya dimasukin ke kantong atau apa. Bersyukur banget karena si calon pencuri dengan baik hati ngebalikin handphone saya - bukannya malah lari atau ngeluarin senjata atau apa. Bersyukur banget karena handphone saya nggak jadi ilang, karena...... bisa apa saya kalo nggak ada handphone dan laptop di saat bersamaan? (laptop saya lagi diservis gara-gara engselnya patah, in case you're wondering).

Pelajaran buat saya: (1) Jangan pernah naro handphone di tempat strategis yang nggak ada resleting atau pengait dalam bentuk apapun, apalagi kalau nggak lagi denger lagu. Lebih baik taro handphone di kantong celana, biar kalau ada yang ngambil kita bisa ngerasain. (2) Jangan terlalu berbaik sangka sama orang lain, apalagi orang-orang yang duduk/berdiri di deket kita.

Kalau saya inget-inget kejadian tadi, instead of feeling scared, I feel cool! Kapan lagi bisa pasang muka jutek ke orang lain? :P

Monday, July 26, 2010

Cukup Satu Kali

Saya tahu, cuma orang bodoh yang gambil 4 kepanitiaan yang waktunya hampir bersamaan (ITP, Kamaba, Transformer, Piastro) sekaligus. Saya pikir saya masih bisa membagi waktu dan konsentrasi. Ternyata... Saya nggak bisa.

Kamaba begitu menyita perhatian dan tenaga saya. Rapat hampir setiap hari dari pagi hingga sore bahkan malam, membahas acara dari segi konsep hingga teknis, dan lainnya. Tapi saya sangat menikmati menjadi bagian dari tim acara Kamaba. Capek memang - fisik dan pikiran - tapi saya jadi dapat banyak pelajaran. Saya juga dapat tanggung jawab yang lumayan banyak. Dan, sebagai reward-nya.... Saya dapat banyak "gosip" seputar kehidupan kampus. Karenanya, saya meletakkan Kamaba di prioritas pertama saya. Di atas tiga kepanitiaan yang lain.

Saya baru kali ini menyesal karena ngambil terlalu banyak kepanitiaan, sungguh. Tapi kali ini saya benar-benar sadar akan keserakahan saya, dan berjanji tidak akan mengambil lebih dari dua kepanitiaan yang waktunya bersamaan nantinya. Cukup sekali saya kebingungan begini. Cukup sekali saya bikin kecewa teman saya begini. Cukup sekali.



P.S: Maaf ya untuk pihak-pihak yang saya rugikan karena kebodohan saya yang satu ini. Wajar kok, kalau kalian kecewa sama saya. Saya nggak akan ngulangin ini, janji!

Friday, June 11, 2010

Expectations

I just found out my latest GPA. Well, It is... disappointing. It is better than my very first one, actually- but it is just.. way below my expectation. It is my fault, I know, for putting an extremely high one.


Cuma karena Psium dan Faal nilainya A, saya jadi berani naro target yang cukup tinggi. Begitu sombongnya saya, sampai saya lupa kalau kedua mata kuliah itu (jika dijumlah) harganya cuma 6 sks. Begitu sombongnya saya, sampai saya ngelupain 16 sks yang lain. Saya lupa kalo masih ada mata kuliah yang namanya Etika dan Filman, yang nggak saya suka sama sekali karena gaada sangkut-pautnya sama psikologi, dan akhirnya benar-benar menikam IP saya dari belakang.

Penyesalan selalu datang belakangan, begitu kata orang-orang.

Tapi, jujur, saya bingung.
Apa yang harus saya sesalin?
Toh nilai yang saya dapet di semester ini benar-benar sesuai dengan minat dan usaha saya.

Saya suka Psium, saya suka Faal, saya belajar mati-matian; saya dapet nilai bagus.

Saya nggak suka metpen, tapi saya tetep semangat belajar dan ngerjain penelitian karena saya tau itu penting buat skripsi; saya dapet nilai yang lumayan.

Saya dapet nilai UTS IPK (nama mata kuliah - lupa kepanjangannya apa) yang super, duper jelek, tapi kemudian saya berusaha setengah mati buat benerin (termasuk ngirim e-mail ke dosennya dan minta feedback - dan ngerayu minta remed atau tugas tapi ternyata ga dikasih, haha); saya dapet nilai yang juga lumayan.

Saya benci setengah mati sama Filman dan Etika - terutama karena saya nggak juga bisa ngerti apa korelasi dua mata kuliah terkutuk itu dengan psikologi - dan malah marathon DVD satu malam sebelum UTS dan UAS dan baru mulai belajar pas hari H; saya dapet nilai yang amat, sangat, terpuruk.

Adil, kan?

Saya sebenarnya udah bosen ngutukin diri sendiri sejak tadi. Gara-gara IPK saya cuma segini.

Tapi, sebenernya, secara tidak sadar, semester ini saya belajar untuk jadi orang yang bertanggung jawab.
Bebas dan bertanggung jawab.
Saya belajar, saya dapet nilai bagus; saya santai dan males-malesan, saya dapet nilai yang ala kadarnya.

Pada akhirnya, yang bisa saya lakuin lagi-lagi cuma bersyukur.
Karena setidaknya, IP saya naik.
Meskipun naiknya cuma sedikit.
Yah, setidaknya saya lebih baik dari semester kemarin.
Meskipun lebih baiknya cuma sedikit.
Setidaknya saya bisa nunjukin ke diri saya sendiri kalau saya masih bisa berubah jadi lebih baik.
Meskipun berubahnya cuma sedikit.

Berarti, semester depan saya juga bisa berubah jadi lebih baik lagi!


Satu hal lagi yang harus saya syukurin adalah punya Anis, Umaira, Ratih, Niken, dan Merina. Kenapa? Karena kalau saya nggak menghabiskan waktu sama mereka hari ini, mungkin saya jadi tambah bete gara-gara IP yang hanya segini.

Therefore, girls, I really thank you for today!
Terima kasih karena telah membiarkan saya duduk di bangku depan sementara kalian berlima duduk berdesakan di bangku belakang, di taksi, dari Depok sampe PIM.
Terima kasih karena kalian mengajak (memaksa?) saya buat makan sushi, meskipun saya tetep nggak berubah pikiran - saya tetep nggak suka sushi (kecuali yang bahan dasarnya bukan ikan - ha!).
Terima kasih karena kalian dengerin cerita saya tentang si anak UPI yang centil itu.
Terima kasih karena kalian sangat mengerti kegalauan saya hari ini yang disebabkan oleh satu dan lain hal yang tidak bisa saya jelaskan di sini (meskipun kalian malah jadi superngeselin, haha).
Terima kasih untuk senang-senangnya, untuk tawanya hari ini.
Terima kasih untuk semuanya. I'm superlucky to have you girls. Truly!


Dibalik IP saya yang kurang memuaskan, saya ternyata mendapatkan pelajaran: masih banyak hal yang masih bisa disyukuri.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...