Thursday, January 5, 2012

Apa Pernah?

Pernah ngerasa sanggup nge-list ratusan daftar kekurangan dan kesulitan untuk mention satu kelebihan diri sendiri?
Pernah ngerasa hilang keinginan untuk melakukan sesuatu karena nggak ada yang percaya, termasuk diri sendiri?
Pernah ngerasa kondisi dirinya lagi sejelek itu? Lagi se-pesimis itu, se-down itu, sepayah itu?
Pernah ngerasa ingin ngelakuin yang namanya withdrawal? Kabur, lari dari realita, dan kembali lagi ketika kondisinya udah jadi beda?

Saya pernah. Bangkitnya nggak gampang. Kenapa? Karena ketika lagi down, pikiran kita akan berubah jadi nggak rasional. Resolusi untuk jadi lebih optimis? Sayangnya di awal tahun belum bisa terlaksana. Mugkin nanti ya, kalau saya sudah semakin dewasa.

Lalu kemudian, datanglah orang-orang yang matters buat saya, dan membuka pikiran saya kembali, pelan-pelan.

Lalu tertampar lah saya, karena terlalu memandang buruk semuanya. 

Dan sadar lah saya, kalau saya nggak boleh bilang 'enggak' kalau mau tau jalan apa yang sebenarnya dibuka buat Allah untuk saya tahun ini. Kalau kadang, terlalu banyak berpikir justru akan berdampak buruk untuk diri sendiri. Kalau sesekali keputusan yang terbaik mungkin yang diambil dengan mengikuti kata hati.

Kini, saya hanya bisa mengucap bismillah. Dengan izin-Nya, tahun ini akan ngasih saya pembelajaran baru yang lebih berharga. Dengan izin-Nya, keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang paling baik untuk saya dan orang lain. Dengan izin-Nya, saya siap menjalani tahun dua ribu dua belas ini.




Sambil menempelkan beberapa catatan kecil di buku agenda, saya tiba-tiba jadi excited untuk memulai tahun yang baru ini. 

Sudah malam. Ini hari yang panjang, hari yang melelahkan bagi pikiran dan jemari.

Sunday, January 1, 2012

Sebuah Doa

Selamat malam, Kau yang menerbitkan siang dan malam.

Maaf saya ya karena jadi makhluk yang suka tarik-ulur. Dateng kalo butuh, lalu pelan-pelan kembali pergi. Iya sih, kalau sudah ngerasa terlalu jauh, saya kembali datang lagi. Tapi kemudian saya pergi lagi, asik dengan urusan yang lain.

Malam ini, saya ingin mengucap syukur. Ingin mengucap terima kasih, meskipun katanya perkataan tidak akan ada artinya tanpa perbuatan. Terima kasih yang pertama saya ucapin karena Engkau benar-benar memberikan saya keluarga yang sempurna untuk saya. Terima kasih karena di awal tahun ini saya dikasih banyak kesempatan untuk ngobrol dengan kedua orang tua saya, cerita-cerita tentang beberapa masalah yang belakangan saya hadapi di kampus. Saya tau, saya sangat beruntung karena punya keluarga yang seperti ini. Punya orang tua yang konsisten dalam mendidik dan nggak mau anaknya manja dan sombong. Punya orang tua yang tegas namun tetap penuh kasih sayang. Dan terpenting, orang tua yang dekat dengan Engkau dan menerapkan semua perintah Engkau dalam melakukan apapun, serta selalu mengingatkan saya untuk juga dekat dengan Engkau.

Kata Satrio di film Catatan Harian si Boy, 'Teman adalah keluarga yang kita pilih sendiri. Keluarga adalah nasib yang harus kita terima. Kebetulan aja nasib gue baik.' Kalau benar demikian, terimakasih karena Engkau juga memberikan nasib yang baik untuk saya. 

Saya juga mau bilang terima kasih untuk semua kesempatan yang Engkau beri selama setahun kemarin. Saya dikasih kesempatan untuk megang beberapa jabatan yang bener-bener ngasih pembelajaran baru buat saya. Serta kesempatan untuk dapet beberapa teman baru yang jadi deket sama saya dan selalu ada saat saya sedang jatuh.

Makasih juga karena udah ngasih kesempatan berharga ke saya dan keluarga saya untuk pergi berkunjung ke rumah Engkau yang paling utama. Meskipun cuma sebentar, saya tau itu adalah satu momen di mana jarak antara kita berdua terasa tidak sejauh biasanya. Saya tau momen itu sangat berharga dan selalu ingin saya ulangi secara rutin - seandainya saya bisa.

Hari ini, di awal tahun yang baru, saya menunggu kejutan dari Engkau. I'm all prepared to be surprised. Saya yang tahun lalu sudah tau mau ke mana, kini hanya bisa duduk sambil menunggu pintu mana saja yang akan terbuka untuk saya - beserta kejutan di baliknya. Katanya, Engkau selalu tahu apa yang terbaik untuk setiap orang. Saya percaya - saya selalu percaya. Makanya, ketika saya tau saya nggak akan lagi melakukan hal-hal yang sudah biasa saya lakuin, saya tau saya akan menerima rencana yang lebih baik.

Tahun ini mungkin akan saya gunakan untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya selalu saya kesampingkan. Saya ingin lebih punya waktu untuk mempersiapkan masa depan saya, untuk orang tua dan adik-adik saya, serta tentunya untuk mendekatkan diri lagi kepada Engkau. Ditambah dengan rencana lain, kalau Engkau memang punya kejutan buat saya.

Tahun ini, seperti doa saya di setiap awal tahun atau di setiap pertambahan usia, saya ingin jadi orang yang lebih baik.

Saya ingin jadi orang yang asertif. Saya tau saya selama ini terlalu submisif. Bahkan kalau saya lagi antri dan saya diserobot, rasanya saya hanya akan diem aja. Kalau ada yang jahat sama saya, saya juga akan diem aja. Nggak tau karena nggak berani atau karena nggak mau nyakitin hati orang, saya lebih prefer untuk diam. Toh saya tau gimana cara ngebalikin mood saya supaya kembali positif. Toh saya bisa ngontrol diri saya. Tapi saya tau kalau menjadi submisif itu nggak selamanya baik, terutama untuk diri saya sendiri. Jadi, tolong bantu saya, ya?

Saya juga mau nilai saya terus naik. Saya mau ketika wisuda duduk di sebelah sahabat-sahabat saya, di barisan cum laude. Saya tau kok, dibalik kapabilitas saya, saya masih akan terus dibantuin sama Engkau. As always. Makanya, bantuin, ya?

Saya juga mau jadi orang yang lebih positif. Jadi orang yang lebih optimis memandang hidup. Saya sering nyoba untuk begitu, meskipun seringkali kelepasan dan gampang jatuh. Saya ingin jadi lebih sabar, jadi lebih kuat - bukan cuma kalau di depan orang lain, tapi juga ketika saya sedang benar-benar sendirian.

Maaf ya kalau saya banyak maunya. Saya hanya ingin jadi orang yang lebih baik. Saya ingin terus bisa berkembang.

Bantu saya supaya selalu konsisten untuk berada dekat dengan Engkau ya. Supaya saya konsisten meletakkan Engkau sebagai prioritas pertama saya.

Engkau yang maha pengasih dan penyayang, tolong kasihi dan sayangi orang-orang yang saya sayang dan juga sayang sama saya, ya. Jadikan tahun ini baik, seperti hal baik yang saya lakukan untuk mengawali tahun ini.

Saya pamit dulu. Terima kasih karena telah mendengarkan saya, seperti biasanya.

Monday, December 26, 2011

Self-Concept


Beberapa hari yang lalu Adik saya, Awwaab, dapet laptop gratis dari kontes di LaPiazza. Dia dengan impulsifnya ikutan dan seyakin itu akan menang. Di kontes itu, dia nyapa orang-orang yang nggak dia kenal dengan gaya sok kenal, terus direkam sama temennya. Begitu denger ceritanya, saya cuma ketawa, takjub, dan bilang: "kamu hoki banget sih!" sambil sedikit iri. Kemudian, saya nanya ke dia, kenapa dia mau-maunya ikut kontes gituan. Kan malu. Apalagi dia bilang videonya diputer di tengah mall. "Ya karena hadiahnya laptop. Lagian malunya kan sekali doang," gitu jawaban dia. Tadinya saya kira kontes ini cuma diikutin sama sedikit orang, tapi ternyata banyak yang ikutan. Saya makin heran, kenapa dia bisa-bisanya mau ikutan.

Di titik itu, saya sadar. Adik saya mungkin memang beruntung karena di mall yang sebelumnya belum pernah ia datengin itu ternyata sedang ada kontes berhadiah laptop. Tapi bukan keberuntungan yang bikin dia bisa dapet laptop. His courage and his willingness to take risks do. Coba kalau posisinya dituker - saya yang lagi jalan di mall itu. Meskipun yang ikut kontesnya baru tiga orang yang berarti chance saya buat menang cukup besar, saya yakin banget kalau saya nggak akan nyoba. That's because I'm afraid to do something risky. Because I'm a safe seeker. Because I overthink everything.

(Yes, we're not just talking about winning a laptop anymore).

Dan karena saya selalu takut gagal. Takut salah. Takut nggak bisa memenuhi ekspektasi yang dibuat oleh diri sendiri, yang biasanya memang terlalu tinggi karena saya orangnya banyak mau. Ditambah lagi karena saya sering ngebandingin diri saya dengan orang lain. I compare both positive and negative sides, tapi yang akhirnya bener-bener saya pikirin ya perbandingan kejelekan saya dengan kelebihan orang lain. Si ini bisa itu, saya kok enggak. Dia orangnya begini, saya kok enggak. Oh, and I only compare myself with the people I think is relatively better than me. Nggak sehat banget yah, iya saya tau, tapi mau gimana lagi dong.

Saya, yang seumur-umur selalu dapet nilai tinggi di kategori kecerdasan Intrapersonal dari teori kecerdasan ganda-nya Gardner, tiba-tiba ngerasa jadi orang yang sama sekali nggak kenal diri sendiri. Saya bahkan kebingunan untuk nge-list kelebihan dan kekurangan saya, dan nyesel kenapa saya nggak nyatet dari dulu supaya refleksi dirinya jadi lebih gampang buat dilakuin. Self-efficacy saya jadi cepet banget turun. Entahlah, mungkin ini tanda-tanda pre-adult crisis kali yah, though I'm pretty sure that there's no such thing as that.

I still got some time to think. Or, not thinking - as I already overthought almost everything. 

Sunday, December 11, 2011

Tentang Dua Ribu Dua Belas


Sudah bulan Desember, dan saya belum juga tahu apa yang akan saya lakukan di tahun 2012. Sebenernya hanya ada dua opsi besar buat saya – nge-BEM (lagi) atau enggak. Tapi gitu lah, banyak alasan yang bikin saya mikir berkali-kali, buat bilang iya atau enggak – meskipun percakapan dengan beberapa temen bikin saya tertampar kalau saya belum punya cukup alasan untuk bilang enggak. Kalau saya harus nggak jadi orang yang egois untuk hal yang satu ini dan mulai mikir ‘apa yang bisa saya kasih ke orang lain ketika saya sudah mampu untuk memberikan sesuatu’ daripada ‘apa yang bisa saya dapet’. Lagian kalau saya berhenti nge-BEM, saya bakal ngapain? Jadi mahasiswa teladan yang kuliah-pulang-kuliah-nugas? Saya nggak yakin mampu. Tapi kalau nge-BEM lagi, masih ada beberapa hal yang mengganjal saya, baik dari segi personal maupun profesional. Entahlah. Mungkin by the time saya akan punya solusi dari kegalauan ini. Atau mungkin saya akan jadi impulsif untuk bilang iya/enggak? Entahlah. Karena katanya hidup itu adalah apa yang terjadi ketika kita sibuk membuat rencana.



Satu hal yang harus saya ingat (makanya saya tulis di sini supaya someday bisa jadi pengingat) adalah bahwa apa pun yang saya lakukan dalam hal nonakademis tahun depan, akademis harus tetap jadi prioritas utama saya – apalagi karena tahun depan saya sudah akan jadi mahasiswa semester enam dan akhirnya jadi… Mahasiswa tingkat akhir. Ngeri yah? Tahun depan saya sudah akan bikin skripsi. Lalu lulus, kuliah lagi, dan jadi Psikolog Klinis Anak. That’s the plan. Buat urusan yang satu ini, saya harap semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Sesuai ekspektasi saya, sesuai yang saya mau. Makanya, saya harus ngeluangin banyak waktu di tahun depan untuk mulai serius mikirin masa depan, mungkin dimulai dengan mikirin topik apa yang sebenernya bener-bener saya suka dan akan saya teliti untuk Skripsi.
        
Saya harus mulai sadar kalau saya sebentar lagi akan lulus dan akan membuat keputusan-keputusan penting yang akan sangat berpengaruh pada masa depan saya nanti.
           
Intinya, tahun depan saya mau jadi orang yang lebih dewasa. Nggak boleh lagi defensive, terus-terusan ngejadiin umur sebagai alasan. Karena ketika sudah lulus nanti, udah nggak ada yang peduli umur saya berapa. Udah nggak ada yang bisa mentoleransi sifat atau pikiran yang kekanak-kanakan lagi. Ini nih yang bikin the idea of ‘lulus’ sampe sekarang masih nakutin banget buat saya. Tapi saya nggak bisa ngehindar terus, ya kan? The future is indeed scary for its uncertainty, but we have to face it anyway.

Saya harap saya bisa jadi orang yang lebih baik tahun depan. Saya harap tahun depan saya bisa dapet banyak pelajaran baru, seperti yang terjadi pada tahun ini. I’ve been through a lot this year, but I got so many things to be learned as well. Saya yakin kalau saya sudah jadi orang yang sedikit banyak berbeda (in a good way) dengan saya yang tahun lalu – dari segi akademis, nonakademis, bahkan hingga personal.

Kalau tahun ini saya bisa, tahun depan juga pasti bisa. Iya, kan?

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...