Friday, November 23, 2012

November Rain

November is all about keeping life balanced and making sure that nothing is missed. It is about making sure that I prioritize the right thing. It is about choosing. And it's getting harder because everyone and everything made sure that they all want to be prioritized.

November is all about learning not to be selfish. To put aside my own interest.

November is all about deadlines. It is about being chased by all of the deadlines. It is about finding a way to complete all of those. 

November is all about raining all day. It is about learning how to get used to it.

November is tough. And I realized that December will be, too. Even more. 

The good part is, November taught me to be way tougher :)

Thursday, November 15, 2012

To Grow, or To Change

Akhir-akhir ini, dunia seakan lagi kompak ngingetin saya kalau waktu berjalan dengan sangat cepat. Saya berulang kali mengulang kata 'God, I'm old' atau 'gila, kita udah tua banget ya!' dan... semacamnya. Pencetusnya banyak: Sahabat saya yang lagi jadi ketua BEM sebentar lagi bakalan abis masa baktinya, masa jabatan saya di PSDM yang juga akan abis (dan bener-bener akan abis), maba yang dulu saya appraisal setiap bulan sekarang udah pake 'selempang' dan lagi kampanye untuk jadi calon ketua BEM, bikin skripsi dan deadline pengumpulan yang udah keluar, interaksi dengan peserta-peserta PDKM, muka-muka di kampus yang udah banyak banget yang asing, usia yang secara resmi bertambah satu tahun, dan momen-momen lain yang terus muncul.

Bukan cuma bikin saya ngerasa tua, momen-momen itu juga bikin saya refleksi - nginget lagi saya versi tiga tahun lalu, ketika lagi struggling untuk adaptasi ke dunia yang baru, yang beda dengan dunia saya sebelumnya. Ketika lagi berinteraksi dengan peserta-peserta PDKM, terutama dengan anak-anak di kelompok yang saya pegang, saya jadi flashback ke momen waktu saya yang ada di posisi mereka. Saya sekagum itu kalau mereka kritis atau berani berpendapat, karena seinget saya, dulu saya bener-bener nggak kayak gitu. Saya juga senyum-senyum aja kalo anak kelompok saya cerita dia nggak berani ngomong kalau di setting forum besar, dan itu bisa jadi penghalang karena dia jadi anak yang 'nggak keliatan'. Saya cuma senyum sambil cerita kalau saya versi tiga tahun lalu juga cupu banget. Ketika lagi jadi peserta PDKM, saya ingat saya minder luar biasa karena kebanyakan peserta yang lain dulu aktif di OSIS atau kepanitiaan di sekolahnya. Saya? Boro-boro. Implikasinya besar banget loh, karena saya memang sebuta itu tentang cara kerja di kegiatan nonakademis. Saya bahkan dulu nggak tau cara bikin rundown. Saya juga nggak pede untuk bicara di depan umum, atau sekedar mengajukan pertanyaan di forum besar, karena takut keliatan bodoh aja - keliatan dulu nggak pernah ikut apa-apa. Segitunya. Saya sempet takut nggak diterima jadi anak BEM - padahal semua orang bilang kalau orang yang aktif itu lebih 'dihargai' daripada orang yang IPK-nya tinggi. 

Kalau dibandingkan dengan beberapa teman saya yang lain, saya yang sekarang mungkin memang nggak ada apa-apanya. Ada yang udah jadi pemimpin organisasi, rajin ikut konferensi internasional, ikut beasiswa kepemimpinan yang kesempatan diterimanya kecil banget, dan masih banyak lagi. Banyak banget orang-orang di sekitar saya yang bikin saya ngerasa kecil. Kecil, banget. Orang-orang yang bikin saya ngerasa bahwa saya belum melakukan apa-apa, padahal 'sisa waktu' saya di kampus udah jadi semakin sedikit.

Tapi, kalau saya berhenti membandingkan diri dengan orang lain, saya sesungguhnya bersyukur dan bangga terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup saya selama tiga tahun terakhir. Being a psychology student helps me grow. It makes me see things from different point of view. It makes me act and think not like a girl my age, because I know that's how I supposed to be - because when you're a psychology student, people expect you to be 'perfect' and to help them with their problem. Saya bener-bener bersyukur karena saya end up di fakultas ini, belajar ilmu ini, dan berinteraksi dengan orang-orang ini. Belajar psikologi bukan hanya bermanfaat karena ilmu saya bertambah, tapi juga untuk pengembangan diri saya sendiri - dan hopefully untuk semua aspek yang berkaitan dengan masa depan saya. BEM juga banyak banget membantu saya untuk jadi lebih berani ngomong, membantu saya untuk merasa 'normal', dan membantu saya untuk mendengarkan dan peduli dengan orang lain. Kalau lagi banyak banget tugas atau kerjaan, saya juga jadi belajar untuk mengatur skala prioritas, bertanggung jawab, dan mencari cara untuk membuat kondisi emosi saya menjadi lebih baik. Knowing your own way to cope is one of the important thing that can help you get through everything, percaya deh.

Eh, jadi kemana-mana. Intinya ya, saya sesayang itu sama kampus saya. Dari semua aspek deh. This is the place where I belong - where I learn about a lot of things about the world. Ketika udah di tahun terakhir SMP dan SMA, saya tau saya bakalan kangen setengah mati sama temen-temen saya setelah lulus, but I'm pretty sure I knew that I won't miss the idea of being in school. I never really missed the idea of learning some math or physic or something else. I didn't, and I won't. But this time, it feels different. I know I will miss my closest friends that mean the whole world to me. But I know I will also miss everything else. Saya akan kangen pelajarannya, dosennya, kegiatan BEM-nya, dan gosip seputar politik kampusnya. Saya bahkan akan kangen sama momen-momen duduk di SC meskipun saya nggak terlalu sering ngelakuin itu. Saya juga pasti akan kangen jadi anak acara dan jadi anak PSDM. Kalau saya udah lulus, semuanya nggak akan jadi sama lagi - bahkan ketika saya kembali lagi untuk kuliah profesi nanti. 

Yah... Ceritanya saya lagi belajar menerima kenyataan kalau setelah ini, beberapa bulan lagi, saya bener-bener harus mencari zona nyaman yang baru. Sometimes leaving the thing that you love the most is the best way to be a better person

Then again, change is good. Or isn't it?

"To grow is to change, and to have changed often is to have grown much." - Cardinal Newman.

Monday, September 24, 2012

Just A Quick Note To Self

Never overdo something, even when you think of it as the most exciting thing to do.
Never overdo something, even when you think of it as something that you really are passionate about.
Never overdo something, even when they said that your hard work and persistence will make you get through anything.
Never overdo anythinganything at all!

Because, really, anything in excess is never good.

It is too early to complain. Yes, it is way too early.
But It's fine, because I know you can bounce back and do better. You can, and well, you kinda have to.

Good luck and do everything in balance, Yas.
You know you can do it!



(I always find self-talking as a helpful method to overcome my anxiety, so I reckon a self-writing will do the same)

Friday, September 21, 2012

Skripsi untuk S.Psi

Sesuai rencana awal, saya bertekad untuk menyelesaikan skripsi semester ini. Agak ngeri sih, mengingat semester ini saya juga harus bikin penelitian kelompok untuk mata kuliah Penelitian Kualitatif dan bikin satu sesi pelatihan psikologis untuk mata kuliah Pelatihan II. Belum lagi tugas-tugas mata kuliah yang lain. Tapi karena kuliah saya juga cuma 12 SKS sehingga saya hanya kuliah tiga hari seminggu, saya kembali menantang diri saya sendiri. Ah, masa sih nggak bisa. Jadi kalau ditanya kenapa mau lulus tiga setengah padahal masih punya 'simpenan umur', selain karena alasan mau kerja-kerja dikit dulu sebelum S2 dan karena sayang harus bayar lima juta seratus ribu rupiah buat semester delapan padahal udah nggak ada kuliah apa-apa lagi, saya juga akan jawab ini: Karena saya ingin membuktikan ke diri saya sendiri kalau saya bisa. Bukan untuk membuktikan keraguan orang lain, tapi untuk membuktikan ke diri saya sendiri kalau saya benar-benar bisa menjalankan hidup yang seimbang versi diri saya sendiri.


Saya dan beberapa dekat saya yang sama-sama jatuh cinta sama parenting kemudian memutuskan untuk ikut payung penelitian dosen saya tentang Parental Self-Efficacy. PSE adalah keyakinan orang tua untuk melakukan tanggung jawab sebagai orang tua—seberapa yakin ia untuk jadi orang tua yang baik. Di penelitian ini, saya ingin mencari tahu korelasi PSE dengan religiusitas ibu. Kenapa? Alasan sebenarnya sih karena saya mau tahu pengaruh positif (manfaat) agama buat kehidupan sehari-hari. Khususnya manfaat yang konkret dan bisa diukur. Kenapa? Supaya orang-orang yang nggak percaya itu bisa terbuka pikirannya, meskipun mungkin hanya sedikit. Supaya mereka yang bilang 'ah, agama nggak penting-penting amat buat hidup gue' bisa tau kalau dibalik semua kewajiban yang harus dijalankan, ada banyak manfaat yang bisa dipetik langsung—kalau memang segala sesuatu yang mereka lakukan di dunia harus bisa ditelaah manfaatnya secara logis. 

Alasan seriusnya apa? Yah, kalau alasan ala-skripsinya mah yang ada di Bab I. Iya, Bab I yang belum selesai padahal ditenggatwaktuin (sama diri sendiri) untuk selesai setidaknya tiga hari lagi. Yang jelas, saya seneng banget karena akhirnya nemu topik yang bisa menjembatani minat pribadi saya. Segala sesuatu yang dilakuin dengan passion pasti akan memberikan hasil yang lebih baik, saya percaya itu. 


Sejauh ini, saya ngerasa semuanya lancar. Saya udah dapet alat ukur buat kedua variabel, meskipun masih harus dialihbahasakan. Seneng banget rasanya karena tes untuk mengukur Islamic Religiosity-nya saya dapetin langsung dari orang yang bikin tes itu, Professor Steven Krauss (Abdul-Lateef Abdullah). Seneng banget karena saya sebelumnya udah sering banget ngirim e-mail ke beberapa profesor yang bikin suatu konstruk atau teori psikologis, dan nggak pernah dapet balesan apa-apa. Eh, giliran buat skripsi, dibales dalam waktu satu jam aja dong—dikirimin item dan panduan skoringnya segala lagi. Begitu saya ajuin beberapa pertanyaan setelah saya baca alat ukurnya, beliau malah ngirimin saya disertasinya. Disertasi yang nggak dipublikasiin di internet sehingga saya awalnya sempat ngerasa putus asa. Disertasi yang bagus banget karena bener-bener bisa nyeimbangin teori psikologi barat dengan Al-Qur'an. Alat ukur yang dia buat di tesis itu setiap item-nya ada landasan ayat Qur'an atau hadisnya! That man is definitely my heroBener kan, masih ada orang yang sebaik itu kok, serendah diri itu, padahal udah Ph.D. 



Meskipun mungkin belum ngerasain bagian susahnya dari bikin skripsi, saya yakin kok kalau saya bisa wisuda Februari 2013. Kenapa? Karena saya lagi mendalami teori self-efficacy, dan menemukan berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa self-efficacy atau keyakinan pada sesuatu berkorelasi positif dengan keberhasilan dalam mengerjakan hal tersebut. Dan satu lagi, yang lebih penting: karena saya berdoa setiap buka puasa dan waktu-waktu yang mustajab lainnya. Kenapa yakin banget sama doa? Karena memang hampir setiap doa yang saya ucapin setiap tahun ketika berbuka puasa di bulan ramadhan selalu dikabulin sama Allah. Yang pasti saya selalu tahu kalau Allah akan selalu mengabulkan doa saya dan akan selalu memberikan yang terbaik buat saya. Yes, I am always blessed  - maybe a lot more that I deserve.











Bismillahirrahmanirrahim. Semoga target yang satu ini bisa tercapai, dan semoga ini memang yang paling baik buat saya.

Doain ya :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...