Thursday, November 15, 2012

To Grow, or To Change

Akhir-akhir ini, dunia seakan lagi kompak ngingetin saya kalau waktu berjalan dengan sangat cepat. Saya berulang kali mengulang kata 'God, I'm old' atau 'gila, kita udah tua banget ya!' dan... semacamnya. Pencetusnya banyak: Sahabat saya yang lagi jadi ketua BEM sebentar lagi bakalan abis masa baktinya, masa jabatan saya di PSDM yang juga akan abis (dan bener-bener akan abis), maba yang dulu saya appraisal setiap bulan sekarang udah pake 'selempang' dan lagi kampanye untuk jadi calon ketua BEM, bikin skripsi dan deadline pengumpulan yang udah keluar, interaksi dengan peserta-peserta PDKM, muka-muka di kampus yang udah banyak banget yang asing, usia yang secara resmi bertambah satu tahun, dan momen-momen lain yang terus muncul.

Bukan cuma bikin saya ngerasa tua, momen-momen itu juga bikin saya refleksi - nginget lagi saya versi tiga tahun lalu, ketika lagi struggling untuk adaptasi ke dunia yang baru, yang beda dengan dunia saya sebelumnya. Ketika lagi berinteraksi dengan peserta-peserta PDKM, terutama dengan anak-anak di kelompok yang saya pegang, saya jadi flashback ke momen waktu saya yang ada di posisi mereka. Saya sekagum itu kalau mereka kritis atau berani berpendapat, karena seinget saya, dulu saya bener-bener nggak kayak gitu. Saya juga senyum-senyum aja kalo anak kelompok saya cerita dia nggak berani ngomong kalau di setting forum besar, dan itu bisa jadi penghalang karena dia jadi anak yang 'nggak keliatan'. Saya cuma senyum sambil cerita kalau saya versi tiga tahun lalu juga cupu banget. Ketika lagi jadi peserta PDKM, saya ingat saya minder luar biasa karena kebanyakan peserta yang lain dulu aktif di OSIS atau kepanitiaan di sekolahnya. Saya? Boro-boro. Implikasinya besar banget loh, karena saya memang sebuta itu tentang cara kerja di kegiatan nonakademis. Saya bahkan dulu nggak tau cara bikin rundown. Saya juga nggak pede untuk bicara di depan umum, atau sekedar mengajukan pertanyaan di forum besar, karena takut keliatan bodoh aja - keliatan dulu nggak pernah ikut apa-apa. Segitunya. Saya sempet takut nggak diterima jadi anak BEM - padahal semua orang bilang kalau orang yang aktif itu lebih 'dihargai' daripada orang yang IPK-nya tinggi. 

Kalau dibandingkan dengan beberapa teman saya yang lain, saya yang sekarang mungkin memang nggak ada apa-apanya. Ada yang udah jadi pemimpin organisasi, rajin ikut konferensi internasional, ikut beasiswa kepemimpinan yang kesempatan diterimanya kecil banget, dan masih banyak lagi. Banyak banget orang-orang di sekitar saya yang bikin saya ngerasa kecil. Kecil, banget. Orang-orang yang bikin saya ngerasa bahwa saya belum melakukan apa-apa, padahal 'sisa waktu' saya di kampus udah jadi semakin sedikit.

Tapi, kalau saya berhenti membandingkan diri dengan orang lain, saya sesungguhnya bersyukur dan bangga terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup saya selama tiga tahun terakhir. Being a psychology student helps me grow. It makes me see things from different point of view. It makes me act and think not like a girl my age, because I know that's how I supposed to be - because when you're a psychology student, people expect you to be 'perfect' and to help them with their problem. Saya bener-bener bersyukur karena saya end up di fakultas ini, belajar ilmu ini, dan berinteraksi dengan orang-orang ini. Belajar psikologi bukan hanya bermanfaat karena ilmu saya bertambah, tapi juga untuk pengembangan diri saya sendiri - dan hopefully untuk semua aspek yang berkaitan dengan masa depan saya. BEM juga banyak banget membantu saya untuk jadi lebih berani ngomong, membantu saya untuk merasa 'normal', dan membantu saya untuk mendengarkan dan peduli dengan orang lain. Kalau lagi banyak banget tugas atau kerjaan, saya juga jadi belajar untuk mengatur skala prioritas, bertanggung jawab, dan mencari cara untuk membuat kondisi emosi saya menjadi lebih baik. Knowing your own way to cope is one of the important thing that can help you get through everything, percaya deh.

Eh, jadi kemana-mana. Intinya ya, saya sesayang itu sama kampus saya. Dari semua aspek deh. This is the place where I belong - where I learn about a lot of things about the world. Ketika udah di tahun terakhir SMP dan SMA, saya tau saya bakalan kangen setengah mati sama temen-temen saya setelah lulus, but I'm pretty sure I knew that I won't miss the idea of being in school. I never really missed the idea of learning some math or physic or something else. I didn't, and I won't. But this time, it feels different. I know I will miss my closest friends that mean the whole world to me. But I know I will also miss everything else. Saya akan kangen pelajarannya, dosennya, kegiatan BEM-nya, dan gosip seputar politik kampusnya. Saya bahkan akan kangen sama momen-momen duduk di SC meskipun saya nggak terlalu sering ngelakuin itu. Saya juga pasti akan kangen jadi anak acara dan jadi anak PSDM. Kalau saya udah lulus, semuanya nggak akan jadi sama lagi - bahkan ketika saya kembali lagi untuk kuliah profesi nanti. 

Yah... Ceritanya saya lagi belajar menerima kenyataan kalau setelah ini, beberapa bulan lagi, saya bener-bener harus mencari zona nyaman yang baru. Sometimes leaving the thing that you love the most is the best way to be a better person

Then again, change is good. Or isn't it?

"To grow is to change, and to have changed often is to have grown much." - Cardinal Newman.
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...