Sunday, August 16, 2015

Menjadi Ibu

Satu lagi hal yang saya pelajari selama kuliah di UK: Belajar jadi istri dan ibu. 

Selama di UK, saya jadi kenal banyak ibu-ibu yang nggak tipikal. Usianya beragam, dari kepala dua sampai hampir kepala empat. Ada yang sedang kuliah master, PhD, atau menemani suami kuliah atau kerja. Ada yang single mother, ada yang belum juga dikaruniai anak, dan ada yang punya anak banyak. Ada yang selalu keliatan senang, ada yang curhat sampe sesenggukan karena capek ngurusin dua balita yang aktifnya masya Allah, ada juga yang hidupnya keras tapi semangat dan optimismenya lebih keras lagi. Ada yang alpha-wife, ada yang bener-bener tipe wanita-patuh-dan-manis. 

Nggak tipikal karena mereka semua memulai hidup baru di UK. Nggak ada baby sitter, nggak ada pembantu, nggak ada orang tua atau mertua yang bisa dimintai tolong. Nggak ada abang-abang sate atau nasi goreng yang bisa distop kalo lagi terlalu sibuk atau males masak. Nggak ada guru les atau guru ngaji yang bisa dipanggil ke rumah. Semuanya harus dilakuin sendiri.

Mengobservasi dan mendengarkan cerita mereka adalah salah satu kesenangan saya. Some people have real problems, and I think married people all do. Selain masalah burn out, ada juga masalah-masalah yang lebih kompleks seperti masalah rumah tangga atau pekerjaan suami. Masalah-masalah yang complicated dan bikin saya nggak bisa komentar apa-apa karena saya sadar saya masih amat bocah, polos, dan egois untuk sekedar berkomentar. 

Intinya, jadi ibu dan istri itu nggak gampang. Apalagi buat perempuan-perempuan yang berpendidikan tinggi dan punya ambisi. Ada banyak banget yang harus dikompromiin. No matter how bad you want something, your children's needs are going to come first.  Ada mimpi-mimpi yang harus direlakan kalau akan lebih banyak membebani keluarga. Momen-momen yang kayak gini yang bikin saya sadar kalo saya kok rasanya belum siap jadi ibu, meskipun udah banyak baca tentang teori psikologi keluarga dan parenting dan sering dicurhatin sama ibu-ibu. Atau semua wanita pasti akan siap pada waktunya, ya? Entahlah. 

Dari semua ibu yang saya kenal cukup dekat, favorit saya adalah mereka-mereka yang bisa mendapatkan insight sendiri ketika sedang bercerita. Mereka butuh didengar dan butuh mengeluarkan unek-unek sebagai bagian dari cara untuk meregulasi emosi, tapi mereka juga tahu gimana cara nyelesainnya. 

Mau tau strategi coping-nya? Yesreligious coping

Bayangin, ada yang cerita kalo beasiswa dan kontrak kerja suaminya nggak diperpanjang, dan tahu apa yang mereka bilang?

"Saya sih nggak khawatir sebenernya, pasrah aja sama rencana Allah. Saya nggak mau jadi tergantung sama manusia."

"Saya percaya Allah pasti akan bukain jalan kok, meskipun ada masalah ini. Jadi saya nggak khawatir."

Dan teman saya yang curhat karena burn-out jadi ibu itu? Well, she planned to have another baby next year. 

"Secapek apapun saya, kalo liat dia capek saya langsung ilang. Rasanya semuanya jadi worth-it deh! Lagian kan ini ladang ibadah saya juga, ya."

Some people have real problems, and they don't even worry about it. 

Because everything, indeed, has been written down. 


Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...