Tuesday, October 6, 2015

Menjadi Muslim di Eropa

Saya baru saja kembali ke tanah air setelah satu tahun menempuh magister di UK dan keliling Eropa selama dua minggu. Karena sudah lama nggak telfonan asik dengan keluarga, selama beberapa hari terakhir saya terus bercerita tentang pengalaman hidup di Eropa. Salah satu hal yang menarik untuk diceritakan adalah pengalaman saya sebagai Muslim di Eropa. Saya baru ngeh kalau ada banyak banget yang seru untuk diceritain, dan orang tua saya bilang, yang perlu juga diceritain dalam bentuk tulisan.

Secara umum, alhamdulillah saya nggak pernah ngalamin diskriminasi karena nunjukin identitas agama saya, baik di Inggris maupun di negara lain di Eropa. Ketika tiba di Inggris, saya bahkan bener-bener kaget karena nemuin banyak banget wanita berhijab di jalan - dari yang berturban sampai bercadar. Senengnya lagi, setiap papasan kami pasti bertukar senyum dan salam. 'Assalamu'alaikum' sampai terasa seperti sandi rahasia antar umat muslim. Teman saya sampai pernah bertanya, "Do you know that person?" "No," saya bilang. "But in Islam, we're all sisters. And we have a special way to greet each other". A beautiful way, indeed.

Meskipun selalu mendapatkan perlakuan yang baik selama di Eropa, kadang-kadang saya merasa ada banyak mata yang memperhatikan, terutama di beberapa kota yang jumlah muslimnya nggak banyak (misalnya ketika di Madrid). Tapi saya merasa tatapan itu cuma sekedar bentuk curiosity - and there's nothing wrong about it. Kalau kebetulan berpapasan dengan seseorang yang kelihatan sedang memperhatikan saya, biasanya saya senyumin aja orangnya. Chances are, they will do nothing but to smile back. Namun, karena sering merasa diperhatikan, saya kadang merasa mendapatkan tekanan untuk selalu berperilaku baik karena sedang membawa identitas agama saya. Kalau saya buang sampah sembarangan atau datang terlambat, misalnya, saya merasa bahwa yang dinilai negatif oleh orang lain bukan hanya perilaku saya sebagai seorang individu, tapi juga sebagai seorang muslim.

Selain dengan memberikan perhatian lebih, teman-teman saya biasanya menunjukkan rasa ingin tahunya dengan bertanya langsung. Ketika bulan Ramadhan misalnya, teman saya bertanya, gimana caranya saya survive tanpa makan dan minum selama dua puluh jam. Ada juga yang pertanyaannya lebih serius: kenapa puasa dilakukan di bulan Ramadhan, kenapa ada Muslim yang pakai jilbab dan yang nggak pakai jibab, atau kenapa saya nggak boleh makan babi. 

Karena komunitas Muslim cukup banyak di Eropa (khususnya di Inggris), mendapatkan makanan halal juga bukan hal yang sulit. Toko yang menjual kebab atau ayam goreng halal dengan harga murah pasti ada (setidaknya di setiap kota yang pernah saya datangi). Saya biasanya mengecek makanan halal melalui situs Zabihah, meskipun infonya kadang kurang lengkap. Kalaupun tidak menemukan restoran halal, bosan dengan pilihan makanan yang ada, atau harus pergi ke sebuah restoran karena diundang oleh teman, saya biasanya memilih menu vegetarian atau seafood. Peraturan di Inggris mengharuskan restoran untuk memberikan informasi mengenai bahan makanan dan allergen, sehingga biasanya di menu akan dicantumkan kalau makanannya menggunakan alkohol (atau bahan makanan lain yang tidak halal). Supaya lebih tenang lagi, tinggal tanya ke pelayannya, apakah makanan yang kita pesan mengandung bahan-bahan tersebut.

Mencari tempat ibadah juga bukan perkara sulit. Hampir semua kota besar di Eropa memiliki masjid, meskipun ada masjid yang ternyata hanya dibuka untuk laki-laki pada hari biasa (saya dan teman saya pernah masuk ke masjid khusus laki-laki dan malunya luar biasa). Pastikan lokasi pintu masuk untuk perempuan juga ya, karena ada beberapa masjid yang memisahkan gedung atau ruangan shalat laki-laki dan perempuan (saya juga pernah salah masuk dan malu banget rasanya). Jika tidak ada masjid di pusat kota, saya pernah shalat di kereta atau di restoran (untungnya saya berhijab, jadi nggak usah pakai mukena lagi) - karena saya masih merasa risih untuk shalat di taman atau tempat umum lainnya. Nggak enak aja rasanya kalau dilihat banyak orang, meskipun mereka juga nggak akan banyak berkomentar. But of course, it could also be an option.

Grande Moschea di Roma, salah satu masjid terbesar di luar negara Islam.

Salah satu kenalan saya di Inggris pernah bertanya, bagaimana cara saya beradaptasi dengan budaya di Inggris yang mungkin sangat berbeda dengan di negara Muslim. "It must be hard for you to adjust," katanya. Tidak juga sih, karena selama ini saya tetap berusaha untuk tetap open-minded meskipun tetap berusaha untuk menjaga diri saya. Tercampur tapi tidak terkontaminasi, kalau kata ibu saya.

Saya, misalnya, tetap mau untuk ikut ke pub jika masih siang atau setidaknya masih jam makan malam. Di Inggris, Pub bukan hanya tempat minum, tapi juga tempat makan dan ngobrol (karena kebanyakan cafe sudah tutup jam 8 malam). Saya biasanya memesan fish n' chips atau scampi (sejenis udang goreng tepung) dan minum air putih, sementara teman-teman saya memesan minuman beralkohol. Tapi, jika diajak ke pub setelah makan malam (karena teman-teman saya masih ingin minum-minum), biasanya saya izin untuk pulang duluan, karena hati saya rasanya nggak tenang untuk ikutan pergi meskipun saya juga nggak "ngapa-ngapain". Meskipun kesempatan saya untuk bersosialisasi jadi sedikit berkurang, saya tetap merasa nyaman dengan keputusan saya, karena toh semua teman saya menghargai keputusan saya untuk menghindari beberapa tempat, makanan, dan minuman. Nggak ada yang pernah memaksa saya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai dan kepercayaan yang saya anut.

Bersama beberapa teman sekelas

Singkatnya, tidak perlu khawatir untuk pergi atau menetap di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Tentu ada banyak hal yang perlu disesuaikan dan dikompromikan, tapi saya percaya kalau pengalaman hidup sebagai minoritas merupakan pengalaman yang sangat berharga karena setidaknya bisa membuat saya lebih menghargai perbedaan. Saya juga jadi memiliki kesempatan untuk mengubah persepsi orang-orang tentang Islam, seperti kata seorang teman saya yang warga Inggris, "It's not only beneficial for you. It's also great for us - so that we can learn more about other culture and beliefs."


Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...