Sunday, April 17, 2016

Tentang Kritik dan Mengkritik

Banyak insight yang saya dapatkan selama 6 bulan menjadi konsultan di Kementerian Pendidikan, khususnya selama hampir 3 bulan terakhir, karena saya dan teman-teman membantu menangani isu-isu strategis pendidikan. Salah satu insight penting yang saya pelajari adalah pentingnya berhati-hati dalam mengajukan kritik.

Sure, kritik membantu memberikan tekanan kepada pihak tertentu untuk berubah menjadi lebih baik, apalagi kritik yang disampaikan berulang di media massa. Sayangnya, beberapa kritik yang saya baca belakangan tentang pendidikan cenderung tidak konstruktif dan kadang tidak tepat sasaran. Hal ini akan berdampak negatif, karena opini tersebut dapat mengarahkan sikap dan perilaku masyarakat.

Saya akhirnya juga belajar untuk tidak asal tunjuk ketika ada masalah. Bahwa tidak semua masalah di negeri ini disebabkan oleh Pemerintah. Bahwa Pemerintah sebenarnya juga mengetahui masalah-masalah yang ada dan berjuang keras untuk mencari solusinya, meskipun kadang langkah yang diambil masih kurang tepat atau hanya merefleksikan isomorphic mimicry - meniru best practice di negara lain namun tidak secara menyeluruh (hanya kulitnya saja), sehingga masalah pun tidak berkurang secara signifikan.

Saya pun belajar bahwa, jika suatu saat saya akan memberikan kritik, saya harus menganalisis dulu masalahnya secara obyektif dan mendalam. Siapa saja yang mungkin berperan, apa pokok permasalahannya, dan apa solusi yang paling feasible. Karena satu lagi yang saya pahami setelah menjadi bagian dari Pemerintah: It's not easy to please everyone in the country. Kebijakan dibuat dengan mempertimbangkan banyak hal; bukan hanya masalah idealisme atau purely berdasarkan teori dan hasil penelitian.

Negara kita luasnya bukan main, ragamnya juga. Maka tidak bijak ketika kita terus-terusan membandingkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan di Singapura atau Finlandia tanpa mempertimbangkan faktor lain. Karena tahu kah kamu kalau warga negara Singapura banyaknya kurang lebih sama dengan jumlah guru di Indonesia? Tahu kah kamu bahwa sistem desentralisasi di Indonesia menyebabkan banyak aktor kunci berperan dalam menentukan pencapaian pendidikan, selain pemerintah pusat?

Sistem pendidikan kita memang masih jauh dari sempurna. Tapi sebelum berkoar-koar dan menyalahkan para pembuat kebijakan, tidak ada salahnya kan, untuk mempelajari dulu kebijakan apa yang rencananya akan diterapkan dalam beberapa tahun ke depan?

Sistem pendidikan kita memang masih jauh dari sempurna, tapi percaya lah, we're heading there. Kritik tentu tetap boleh ditayangkan, namun dengan tujuan yang baik, untuk mengingatkan para pembuat kebijakan untuk konsisten melakukan perubahan; bukan untuk menaikkan nama pribadi dan menjatuhkan orang lain. Berbaik sangka itu penting, disertai dengan dukungan nyata agar semua rencana baik bisa terlaksana.


(Source: Pinterest)


Karena satu hal lagi yang saya pelajari: Banyak orang yang sibuk mengkritik, tapi hanya sebagian yang benar-benar peduli dan mau membantu.

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...