Friday, June 17, 2011

Ekspektasi dan Kebahagiaan



Banyak yang bilang, salah satu cara untuk mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan adalah dengan menurunkan ekspektasi. Beberapa teoris-teoris dalam ilmu psikologi juga banyak yang sependapat. Diskrepansi antara ekpektasi dan realita yang terlalu jauh bisa membuat orang depresi, begitu kira-kira yang tercantum di buku Psikologi Kepribadian, entah itu pernyataan siapa - saya lupa.

Tiga semester kemarin, saya selalu memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap nilai saya. Terlalu tinggi, terlalu sombong. Hasilnya? Kecewa. Saya akhirnya pesimis dan mikir kalau IP saya mungkin emang bakalan segitu-gitu aja. Emang nggak cukup kali ya kemampuan saya.

Kemudian, di semester ini, self-efficacy saya makin turun. Saya merasa keteteran dengan dua puluh empat SKS yang saya ambil, apalagi ditambah dengan kesibukan di luar urusan akademis. Beberapa dosen yang mengajar saya juga terkenal pelit nilai - atau terbukti pelit nilai, setelah saya membandingkan nilai UTS kelas saya dengan kelas-kelas sebelah. Sudahlah, semester ini mungkin IP saya tidak bisa tetap progresif, batin saya. Saya akhirnya merelakan IP saya untuk terjun bebas. Tetap sedikit berharap agar bisa stabil sih, tapi saya benar-benar pasrah. Apalagi setelah UAS Metpenstat 3, satu-satunya mata kuliah yang saya rasa cukup saya kuasai karena nilai UTS dan kuis saya lumayan, susahnya keterlaluan. Saya pasrah sepasrah-pasrahnya. Asal jangan sampai di bawah angka tiga ya Allah, harap saya.


Hari ini batas waktu terakhir publikasi nilai di SIAK-NG. Dosen-dosen saya kebanyakan juga prokrastinator, sama seperti mahasiswanya. Mereka kebanyakan baru akan mem-publish nilai beberapa jam sebelum deadline. Maka sekarang, tiga jam sebelum waktu berakhir, sembilan dari sepuluh mata kuliah yang saya ambil - dua puluh dua dari dua puluh empat SKS - akhirnya bisa saya lihat nilainya. Saya kaget, nilai-nilai tersebut kebanyakan jauh dari ekspektasi saya. Berbeda dengan tiga semester sebelumnya, kali ini jauh di atas ekspektasi saya. Nilai saya mungkin masih tidak sebagus beberapa teman saya yang lain, tapi ini sudah terlalu bagus untuk standar saya. Sudah terlalu bagus bagi saya yang tidak lagi bisa berharap banyak.




Maka benar lah mereka yang bilang kalau hilangnya ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membuat kita lebih bahagia, karena tentu saya merasa senang luar biasa. Meskipun heran, kenapa Allah mengabulkan doa saya disaat saya sedang lalai-lalainya? Entahlah, yang jelas saat ini saya tak bisa berhenti mengucap syukur.

Terima kasih Allah, karena tetap mendengarkan permintaan saya disaat saya sedang menjauh. Tujuh hari nanti saya tinggalkan urusan dunia saya hanya untuk-Mu, saya janji.
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...