Monday, December 26, 2011

Self-Concept


Beberapa hari yang lalu Adik saya, Awwaab, dapet laptop gratis dari kontes di LaPiazza. Dia dengan impulsifnya ikutan dan seyakin itu akan menang. Di kontes itu, dia nyapa orang-orang yang nggak dia kenal dengan gaya sok kenal, terus direkam sama temennya. Begitu denger ceritanya, saya cuma ketawa, takjub, dan bilang: "kamu hoki banget sih!" sambil sedikit iri. Kemudian, saya nanya ke dia, kenapa dia mau-maunya ikut kontes gituan. Kan malu. Apalagi dia bilang videonya diputer di tengah mall. "Ya karena hadiahnya laptop. Lagian malunya kan sekali doang," gitu jawaban dia. Tadinya saya kira kontes ini cuma diikutin sama sedikit orang, tapi ternyata banyak yang ikutan. Saya makin heran, kenapa dia bisa-bisanya mau ikutan.

Di titik itu, saya sadar. Adik saya mungkin memang beruntung karena di mall yang sebelumnya belum pernah ia datengin itu ternyata sedang ada kontes berhadiah laptop. Tapi bukan keberuntungan yang bikin dia bisa dapet laptop. His courage and his willingness to take risks do. Coba kalau posisinya dituker - saya yang lagi jalan di mall itu. Meskipun yang ikut kontesnya baru tiga orang yang berarti chance saya buat menang cukup besar, saya yakin banget kalau saya nggak akan nyoba. That's because I'm afraid to do something risky. Because I'm a safe seeker. Because I overthink everything.

(Yes, we're not just talking about winning a laptop anymore).

Dan karena saya selalu takut gagal. Takut salah. Takut nggak bisa memenuhi ekspektasi yang dibuat oleh diri sendiri, yang biasanya memang terlalu tinggi karena saya orangnya banyak mau. Ditambah lagi karena saya sering ngebandingin diri saya dengan orang lain. I compare both positive and negative sides, tapi yang akhirnya bener-bener saya pikirin ya perbandingan kejelekan saya dengan kelebihan orang lain. Si ini bisa itu, saya kok enggak. Dia orangnya begini, saya kok enggak. Oh, and I only compare myself with the people I think is relatively better than me. Nggak sehat banget yah, iya saya tau, tapi mau gimana lagi dong.

Saya, yang seumur-umur selalu dapet nilai tinggi di kategori kecerdasan Intrapersonal dari teori kecerdasan ganda-nya Gardner, tiba-tiba ngerasa jadi orang yang sama sekali nggak kenal diri sendiri. Saya bahkan kebingunan untuk nge-list kelebihan dan kekurangan saya, dan nyesel kenapa saya nggak nyatet dari dulu supaya refleksi dirinya jadi lebih gampang buat dilakuin. Self-efficacy saya jadi cepet banget turun. Entahlah, mungkin ini tanda-tanda pre-adult crisis kali yah, though I'm pretty sure that there's no such thing as that.

I still got some time to think. Or, not thinking - as I already overthought almost everything. 
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...