Monday, March 12, 2012

Tertampar, Bolak-Balik

Pernah ngerasa ketampar bolak-balik saat dateng ke seminar?

Saya pernah, kemarin. Mungkin sebelumnya udah sering ngerasa ketampar, tapi yang satu ini beda, karena saya bahkan sampe harus nahan nangis - saya nggak mau nangis karena saya duduk di kursi paling depan.

Kemarin saya ikut seminar tentang Al-Qur'an. Lupa judulnya apa, tapi intinya seminar yang bertujuan untuk 'menampar' pesertanya bahwa menghafalkan Al-Qur'an itu mudah. Saya dan keluarga saya datang karena ibu saya jadi salah satu sharer, karena ia bisa menghafalkan Al-Qur'an di tengah aktivitas yang sangat padat. Ada tiga sharer lain: satu orang dokter, satu orang pemilik yayasan Qur'an, dan satu yang paling bikin saya kagum, seorang anak kelas satu SMA yang dari tutur kata dan cara bicaranya terlihat begitu dewasa.

Sebelumnya, saya sudah beberapa kali datang ke acara yang membahas agama seperti ini, karena satu bulan sekali keluarga saya memang memiliki agenda rutin untuk berkunjung ke berbagai masjid yang sedang mengadakan kajian dengan pembicara yang luar biasa. 

Tapi, kemarin, saya benar-benar merasa tertampar.

Tertampar karena melihat ibu saya di depan, bercerita tentang kegiatannya menghafalkan Qur'an setiap hari mulai pukul setengah tiga pagi - karena setelah subuh hingga malam hari kegiatannya sudah sangat padat. Tertampar karena ada sharer yang bilang kalau ia menghafalkan Qur'an pertama kali karena orang tuanya selalu menekankan pentingnya dekat dengan Al-Quran. Tertampar karena ada seorang syekh dari Palestina (yang saya juga lupa namanya), yang bilang kalau Rasulullah pernah berkata bahwa umatnya menyepelekan Al-Qur'an. "Siapa kah umatmu yang menyepelekan Qur'an itu, ya Rasul?" kata sahabat. "Mereka yang tidak membaca Al-Qur'an selama lebih dari tiga hari," kata Rasulullah. Tertampar karena setelah acara selesai, seorang teman ibu saya yang baru berkenalan dengan saya bertanya, "kamu (udah hafal) juga?"

Tertampar karena saya selalu menggunakan alasan 'sibuk' untuk tidak dekat dengan Al-Qur'an. Tertampar karena ibu saya adalah seseorang yang telah hafal Qur'an dan begitu dekat dan begitu cinta dengan Qur'an serta selalu mengingatkan saya dan adik-adik saya untuk juga dekat dengan Al-Qur'an - tapi saya toh lebih memilih untuk tidak mendengarkan. Tertampar karena saya seringkali tidak membaca Al-Qur'an lebih dari tiga hari, karena alasan yang sama, kesibukan. Tertampar karena hafalan saya tidak bertambah sejak saya lulus SD.






"Kalau tidak mau membaca Qur'an karena besoknya ada ujian atau karena sibuk dengan pekerjaan, itu namanya su'uzhan sama Al-Qur'an, seakan-akan dengan membacanya berarti akan menyebabkan nilai kita jelek atau menyebabkan rezeki kita akan berkurang."

"Kita harus menjadikan Qur'an sebagai sahabat kita. Perlakukan ia seperti kita memperlakukan sahabat kita: memberikan waktu utama (bukan waktu sisa) untuknya, dan tidak malu memperlihatkannya ke orang lain, di mana saja."

Kemudian saya merinding mendengar semua sharer membacakan beberapa ayat Al-Qur'an. Yang jadi favorit saya justru si anak SMA itu - karena saya suka suara yang berat. Saya jadi mulai  ngaco, bilang dalem hati, saya mau punya suami kayak gitu. Eh terus ketampar lagi, gimana mau punya suami yang hafalannya banyak, kalau saya bahkan dua juz aja dari SD nggak selesai-selesai, bahkan banyak yang hilang karena nggak pernah diulang?

Allah, tolong bantu saya untuk istiqamah sama yang satu ini, ya?

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...