Wednesday, May 15, 2013

Tentang Mereka, Para Pendidik

“In learning you will teach, and in teaching you will learn.” - Phill Collins 
Salah satu hal yang saya syukuri dari pekerjaan saya sekarang adalah besarnya kesempatan untuk terus mempelajari hal baru. Di sekolah ini, meskipun saya menjadi guru, rasanya saya lebih banyak belajar daripada mengajar.

Selain mendapatkan insight dari anak-anak, saya juga banyak belajar dari tim guru di subdepartemen saya, Learning Centre. Selain saya, di LC saat ini terdapat lima orang guru (yep, untuk empat belas anak) beserta satu kepala divisi Special Need (the one that we call 'bu bos'). Dari kami bertujuh, enam di antaranya adalah lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saya punya satu kebiasaan buruk, yaitu meremehkan orang lain yang berkecimpung di bidang yang dekat dengan psikologi (misalnya parenting, pendidikan, atau training) namun tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang psikologi. Karena hampir semua guru yang bekerja dengan saya juga lulusan psikologi UI, kecongkakan saya jadi berkurang, karena mereka semua pernah mempelajari (hampir semua) hal yang telah saya pelajari. Bedanya, selain teori, mereka juga punya pengalaman yang kaya. Jelas lah, saya jadi anak bawang yang sibuk mendengar dan mengobservasi sambil mengagumi pendapat mereka dan mencatat dalam hati. Guru-guru ini adalah orang-orang yang berhasil menerapkan ilmunya untuk membuat segelintir anak menjadi lebih baik. Mereka bukan hanya mengajarkan materi-materi yang direncanakan dalam IEP (Individualized Education Plan) setiap anak, tapi juga mengajarkan mereka tentang bagaimana bersikap dan berperilaku. Teori tentang modifikasi perilaku yang berulang kali saya pelajari ketika kuliah dulu benar-benar mereka terapkan dengan konsisten, membuat saya terkagum-kagum.

Mereka yang mendidik, bukan hanya mengajar.

Guru-guru ini menjadi salah satu alasan dibalik kemantapan saya untuk menunda kuliah magister, setidaknya selama satu tahun. Saya tahu kalau saya perlu banyak belajar dari mereka, untuk menyeimbangi teori-teori dan berbagai hasil penelitian yang telah jadi makanan harian saya selama tiga setengah tahun belakangan, dan akan tetap menjadi santapan istimewa untuk dua tahun berikutnya. 

Selain melakukan pembelajaran dengan mengobservasi, saya juga kerap diberikan petuah-petuah yang berharga. Karena semuanya tahu kalau saya ingin segera melanjutkan studi untuk kemudian menjadi psikolog, saya sering diingatkan mengenai poin-poin penting yang kerap diabaikan oleh seorang psikolog. Berdasarkan pengalaman mereka, psikolog sekolah yang tidak pernah menjadi guru sebelumnya sering kali memberikan keputusan-keputusan yang kurang realistis. Mereka seringkali terlalu berpaku pada teori yang telah mereka pelajari; seharusnya begini, seharusnya bisa begitu. Biar bagaimana pun, setiap anak berbeda-beda; apalagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. They are wired differently from one another; they all have different strengths, weaknesses, threats, and opportunities. They are different, and therefore different approach is needed. Dengan semangatnya, guru-guru ini memberi tahu saya segala hal yang perlu saya perhatikan jika saya kelak menjadi psikolog. "Tuh, Yas, yang mau jadi psikolog, catet!" menjadi salah satu kalimat kesukaan saya.

Eventhough they all seem perfect, of course they're not. Ada kalanya saya tidak menyetujui tindakan yang mereka lakukan. Ada kalanya nilai-nilai yang mereka miliki berbeda dengan yang saya anut. Ada kalanya teori yang saya yakini berbeda dengan praktik yang dilakukan. Tapi buat saya, ada pembelajaran lain lagi yang saya dapatkan: bagaimana memilah informasi dan pembelajaran; bagaimana menorelansi perbedaan, dan bagaimana mengontrol diri untuk melakukan sesuatu karena pengetahuan, bukan karena kebiasaan. Biar bagaimana pun, mereka telah membuka mata saya bahwa di balik sistem pendidikan Indonesia yang carut-marut, masih ada guru-guru yang mendidik anak muridnya dengan hati. Masih ada guru-guru yang benar-benar peduli dengan muridnya. Masih ada orang-orang yang mementingkan kualitas pendidikan daripada profit yang bisa dihasilkan.

How grateful I am to have a workplace where I can do what I'm passionate about, and still having plentiful things to be learned about. It's like I'm spending another year in another college, learning by observing children, teachers, and parents' behavior, and by applying those prior knowledge that I have been taught in college. 

My life is grand! Thank you for always making it that way, dear Allah :)
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...