Monday, August 5, 2013

Tentang Itikaf

Itikaf adalah ibadah favorit saya di Bulan Ramadhan. Saya yang sok sibuk ini suka ngedahuluin urusan dunia daripada urusan akhirat, and so it feels really nice to get away from the worldly things for a night, and focusing to make the soul well-fed instead. Kalau sedang itikaf, saya nggak megang laptop dan jarang sekali megang handphone - sehingga saya yang udah kecanduan teknologi ini jadi 'dipaksa' untuk terus tilawah atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang mungkin tidak saya lakukan secara intens di hari-hari lain.

Tempat favorit keluarga saya untuk beritikaf adalah Masjid Agung Sunda Kelapa, mostly karena ceramah yang (biasanya) berbobot dan suara imam-imamnya yang luar biasa merdu dan bikin hati bergetar - di samping karena ruangannya yang ber-AC, sehingga nyaman untuk ditempati berjam-jam. Tapi, karena beberapa tahun belakangan Sunda Kelapa dipenuhi lebih dari 5000 jamaah setiap malam ganjil di sepuluh hari terakhir ramadhan, kenyamanannya jadi berkurang. Namun karena kami belum nemuin alternatif masjid yang sama nyamannya (dari segi imam, pemateri, aktivitas, dan kenyamanan lokasi), kami memutuskan untuk tetap pergi ke sana tahun ini.

Menurut saya, itikaf itu bisa mengobati rindu akan baitullah, karena suasananya yang nggak jauh berbeda dengan suasana di Mekkah dan Madinah. Ketika itikaf, saya bisa menemui suasana yang jaraaaaaang sekali bisa ditemui di Jakarta: Masjid penuh sesak, antrian wudhu panjang luar biasa, kebanyakan orang sibuk tilawah, semuanya langsung cepat-cepat wudhu dan shalat sunnah ketika mendengar azan, shalat berdempetan karena jamaah yang datang melebihi jumlah tempat tersedia, dan lain-lain. Suasana seperti itu menurut saya ngangenin dan bikin ibadah jadi semangat, because let's face it, lingkungan akan selalu memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku kita.

Untuk orang yang kualitas ibadahnya masih jauh dari sempurna seperti saya, itikaf merupakan momen yang tepat untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah. Di Masjid Sunda Kelapa, saat kegiatan Qiyyamul Lail, lampu-lampu dimatikan, dan lantunan suara imam menjadi lebih lambat dibandingan dengan ketika waktu shalat lainnya. Buat saya, ini sangat menyenangkan, karena suasananya sangat mendukung untuk curhat sama Allah dan banyak meminta. Momen yang pas untuk melakukan kontemplasi - meskipun tanpa diiringi narasi, selain lantunan ayat suci al-Quran.

Intinya, itikaf adalah salah satu ibadah yang sangat menyenangkan untuk dilakukan, dan sangat efektif untuk mengejar ketertinggalan ibadah, karena ibadah saat itikaf sehari saja bagi saya bisa berkali-kali lebih baik daripada ibadah yang dilakukan di hari-hari lain, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Sayangnya, belum banyak orang yang ngeh hal itu. Belum banyak orang yang ngeh pentingnya bermalam di masjid saat hari-hari terakhir Ramadhan, agar bisa terstimulasi untuk lebih banyak beribadah. Saya sedih melihat kebanyakan jamaah justru malah ibu-ibu berusia di atas lima puluh tahun, yang untuk shalat sambil berdiri atau duduk di lantai saja sudah sulit. Ke mana generasi saya yang katanya berada di usia produktif? Lalu saya makin sedih saat melihat timeline dan mendapati beberapa orang masih pergi ke bar dan semacamnya - di malam ke-27 di bulan Ramadhan! Bukannya sok soleh dan bermaksud menggurui, tapi miris sekali rasanya melihat kesempatan besar-sebesar-besarnya yang hanya datang beberapa hari dalam sehari tidak dimanfaatkan dengan baik. Entah karena tidak tahu, atau tidak mau tahu.

Lagi-lagi saya merasa sangat bersyukur, karena tumbuh di keluarga yang sangat mementingkan nilai religiusitas. Saya dibesarkan di keluarga yang sudah membiasakan saya untuk itikaf sejak masih SD. Lagi-lagi, saya harus mengakui, mungkin saja saya juga nggak kenal itikaf kalau saya lahir dari orang tua yang berbeda. Tapi, kita yang sudah dewasa mestinya juga bisa membuat kebiasaan baru, bahkan mengajak orang tua kita untuk mengikuti kebiasaan baru yang sangat baik untuk diikuti.

Percayalah, itikaf itu menyenangkan. Berada dekat sekali dengan Allah dan punya berjam-jam waktu mustajab sehingga bisa curhat dan meminta sebanyak-banyak-banyaknya itu luar biasa untuk orang yang banyak mau seperti saya. Karena kalau bukan kepada Allah, kepada siapa lagi dong kita bisa meminta bantuan untuk meraih sesuatu yang di luar jangkauan kita? Berada dekat dengan orang-orang yang begitu dekat dengan Allah juga luar biasa menenangkannya. It really is a good food for the soul. Beneran deh, ada kebahagiaan yang nggak bisa dijelaskan ketika selesai itikaf. Kebahagiaan yang mungkin bisa dicapai orang-orang kalau salat sendiri di rumah, tapi sayangnya biasanya sulit saya rasakan jika tidak di suasana yang tepat - mungkin karena tingkatan keimanan saya yang juga masih belum tinggi.

Tulisan ini saya buat karena rasa gemas yang makin menjadi-jadi. Syukur-syukur kalau ada yang baca, apalagi kalau nanti ada yang tergerak hatinya untuk belajar itikaf. Ramadhan bukan hanya tentang buka puasa bersama yang berujung pada obrolan ngalor-ngidul sampai malam hari. Ramadhan bukan hanya tentang sahur on the road yang entah dijalankan atas dalil apa. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan sibuk memikirkan 'nanti buka pakai apa'. Ramadhan bukan hanya tentang bersenang-senang menanti lebaran tiba, itu pun karena THR dan liburan, atau jalanan Jakarta yang jadi lengang. Ramadhan bukan hanya tentang itu. Ramadhan itu adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk kita, untuk mengembalikan kita ke jalan yang lurus, setelah 11 bulan terlarut dalam urusan dunia. Ramadhan adalah kesempatan untuk meminta maaf, mencoba lagi, dan menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala hal yang baik. Ramadhan adalah kesempatan untuk meminta banyak hal yang kita inginkan, karena apapun yang kita minta pasti dikabulkan - saya sudah mengalaminya sendiri sejak kecil. Ramadhan adalah kesempatan untuk menabung kebaikan sebanyak-banyaknya. Dan dengan beritikaf, insya Allah ada banyak kebaikan dan keutamaan yang bisa didapatkan sekaligus.

Secara fisik, itikaf itu melelahkan memang, apalagi kalau masjidnya penuh sehingga jadi kurang nyaman atau kalau agenda di masjid padat, sehingga tidak ada waktu untuk tidur sama sekali. Tapi, sesuatu tentu tidak akan menjadi istimewa jika tidak harus diperjuangkan untuk mendapatkannya.

Apa artinya satu malam, dibandingkan kenikmatan yang diberikan Allah selama 365 hari?
Apa artinya waktu tidur yang berkurang, dibandingkan dengan rezeki yang telah Allah lipat gandakan untuk kita?

Yuk mulai itikaf! :)
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...