Tuesday, May 4, 2010

Garfinkeling

Breaching Experiment, atau yang lebih populer dengan sebutan 'Garfinkeling', adalah salah satu tugas kuliah yang paling menarik yang pernah gue dapet. Ini yang harus dilakuin: Lakuin sesuatu (apapun!) yang ngelanggar norma/peraturan sosial yang nggak tertulis, dan lihat gimana reaksi orang-orang.

Dari tahun ke tahun, penelitian ini emang jadi sesuatu yang paling ditunggu-tunggu, karena seru dan sangat menyenangkan -- meskipun juga memalukan.

Ada yang ke restoran mahal terus makan pake tangan, ada yang kerokan di mall, ada yang senam di senayan pake baju pesta, ada yang tidur di mall, ada yang bayar belanjaan di mall kelas atas pake recehan, ada yang lomba lari di eskalator, ada yang curhat sama orang nggak dikenal, dan lain-lain.

Gue satu kelompok sama Posma, Ratih, Ume, Niken, Ekki, dan (pastinya; lagi-dan-lagi:) Anis. Jadi lah kita bertujuh berembuk buat nyari ide. Apa ya? Simpel, tapi seru. Dan unik. Apa ya? Terus gue inget deh, ada salah satu senior yang Garfinkeling-nya itu nyuci baju di wastafel di sebuah restoran siap saji. Gue kemudian jadi dapet ide (meskipun udah nggak bisa dibilang kreatif lagi): Keramas di restoran!

Untungnya ide gue disambut dengan saaaangat baik, dan disempurnain supaya jadi makin ciamik. Nggak cuma keramas, kami juga bakalan cuci muka dan sikat gigi di wastafel. Sounds pretty silly, yet fun. Pelakunya tentu si tiga wanita yang ganjennya tiada tara: Ume, Ratih, dan Niken. Anis dari awal udah ngetek buat jadi interviewer, sementara gue ngetek buat jadi sie dokumentasi (eaaa cari aman). Posma juga jadi dokum, dan Ekki akhirnya (terpaksa) jadi interviewer juga.

Jadi lah kami berdelapan (plus Merina, meskipun nggak satu kelas sama kita) pergi ke Citos siang tadi. Sayangnya ini hari kerja, jadi Citos nggak seramai biasanya. Kami milih A&W sebagai tempat kejadian perkara, karena wastafelnya terbuka; jadi orang-orang bisa ngeliat dengan leluasa. Untungnya, manager A&W sangat baik hati dan tidak sombong: ngebolehin kita buat eksperimen di sana (meskipun nggak boleh kalo pas jam makan siang).

Alhamdulillah, eksperimen kami cukup sukses. Umaira, Ratih, dan Niken berhasil bikin satu A&W curi-curi pandang dengan tatapan yang lumayan merendahkan. Ya iyalah, bayangin aja: Ume keramas pake sampo dan sempet-sempetnya jalan-jalan ke sudut ruangan dengan rambut yang penuh sampo; Ratih cuci muka dengan shower cap yang 'ucul beuuuudh' (do I spell it right, Tih?); Niken juga cuci muka dan kemudian gosok gigi - dan sempet-sempetnya nengok ke arah orang-orang sambil manggil nama Ratih dengan kenceng supaya semua orang nengok dan ngeliat mukanya yang masih ketutup sama sabun muka (that was super-hilarious!); dan oh, ini klimaksnya: Setelah keramas, Umaira ngeringin rambutnya pake hand-dryer (atau apalah itu namanya - yang buat ngeringin tangan). Oh, dan semua kegiatan di atas disertai dengan iringan musik yang keluar dari hape-nya Ratih. Super norak 2010.

Sayangnya, reaksi orang-orang yang ada di sana kurang keliatan. Mereka kebanyakan cuma lirik-lirik sedikit. Yang ngakak terus-terusan malah gue. Hm, mungkin karena mereka jaga image juga, takut dibilang freak kalo ngetawain orang yang nggak dikenal. Tapi kebanyakan dari mereka untungnya mau di wawancara. It's obvious: Semuanya ngerasa apa yang dilakuin sama Ume, Ratih, dan Niken itu konyol banget. Keramas, cuci muka, sama sikat gigi kok di restoran. Malah ada yang ngira mereka 'sakit' atau kenapa.

Sayang bangeeeeeet, we don't have any picture of that. Abis ribet sih kalo moto, jadi gue sama Posma cuma ngerekam pake handycam aja (i put it in my bag loh, keren kan sok-sok candid camera gitu wahaha). You gotta see the video(s), it's sooo funny! (But I guess that'd be much funnier if people laughed at them (OUT LOUD) or just simply told them that washing hair / face and brushing teeth at the restaurant isn't right and, of course, freak).

Lucu sih ya kalo dipikir-pikir. Nggak ada peraturan yang bilang kalo keramas di restoran adalah hal yang salah; tapi semua orang seakan-akan terprogram kalo itu salah. Nggak ada peraturan yang bilang kalo senam pake baju pesta, makan pake tangan di restoran mahal, atau curhat dengan total-stranger adalah hal yang salah; tapi semua orang seakan-akan terprogram kalo itu salah.

Eksperimen ini emang kedengerannya simpel dan akan selalu menghasilkan kesimpulan yang sama: ada 'kekuatan besar' yang seolah-olah selalu mengontrol tingkah laku manusia (terutama saat manusia tersebut lagi berperan sebagai anggota masyarakat). Tapi, butuh keberanian yang amat sangat besar buat bisa ngelakuin penelitian ini dengan sukses (YES: Umaira, Ratih, and Niken got guts). Dan lagi pula, Garfinkeling ini saaaangat menyenangkan dan bisa dijadiin ajang katarsis juga :--D

Sebenernya sih Garfinkeling lebih pas buat dikategoriin sebagai penelitian sosiologi daripada penelitian psikologi - secara Harold Garfinkel aja sosiolog, bukan psikolog. Ya tapi semua orang juga pasti setuju kalo sosiologi dan psikologi itu masih punya hubungan darah; jadi ya sah-sah aja dong kalo orang psikologi juga mau tau tentang si Garfinkeling ini. Sah-sah aja dong kalo gue jadi bangga karena gue dapet tugas kuliah yang saaaangat menyenangkan (yang ga akan lo dapet kalo lo kuliah di *garisbawah* kedokteran, teknik, akuntansi, atau jurusan-jurusan lain).

For the n-th time, I feel so thankful that He putted me here. No doubt, psychology is the best place for me ;)


--tambahan
Ekki berbaik hati ngedit videonya supaya jadi lebih lucu dan ngupload ke youtube. So here's the link - you HAVE to watch them!




Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...