Tuesday, July 19, 2011

The Analysis (Or Just Some Lucky Guesses?)

"Kamu itu orangnya praktis. Efisien. Ini salah satu strength kamu."

"Loh, kenapa jadi strength? Bukannya itu artinya cari gampang, ya, Mas?"

"Jelas beda. Cari gampang itu nggak peduli dengan hasil. Kamu memang cari cara yang paling gampang, tapi tetep mengarah ke goal. Jadi gampang, tapi hasilnya tetep bagus. Ini jadi strength."

Begitu kira-kira percakapan saya dengan seorang dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang ahli di dalam bidang psikoanalisis. Percaya atau tidak, saya di-'baca' olehnya hanya dengan melalui satu benda yang saya pilih di ruangan. Saya memilih sebuah laptop berwarna merah muda milik teman saya, karena memang benda itu yang pertama kali saya pikirkan ketika Mas Ivan meminta saya untuk memilih satu benda di ruangan. Saya nggak ngerti lah gimana caranya sebuah laptop begitu bisa menjelaskan kepribadian saya dengan tepat. Entah beliau memang psikoanalis handal, atau ia sangat pandai mengobservasi orang (sehingga analisisnya itu sebenarnya berdasarkan perilaku yang saya tunjukkan), atau jago nebak-nebak; yang jelas hampir semua yang ia sampaikan tadi benar.

"Kamu tuh butuh kehadiran fisik. Nggak bisa long distance relationship."

Saya spontan tertawa.

Beberapa saat yang lalu, saya BBM-an dengan Ekki. Tentang bagaimana saya tidak bisa LDR-an, dalam hal ini dengan teman sendiri, karena saya nggak punya pacar dan belum pernah ngerasain LDR-an sama pacar (atau tepatnya, belum pernah punya pacar). Saya nggak bisa tuh nggak ketemu seseorang lebih dari sebulan dan tetep ngejalin hubungan yang intens. Saya nggak suka percakapan basa-basi hanya supaya komunikasi tetap terjalin rutin. I'm really bad at it. Saya tipe orang yang harus ketemu untuk bisa cerita panjang lebar. Saya bahkan suka kebingungan kalau ada yang curhat ke saya via instant messenger, karena buat saya mendengar aktif (yang melibatkan respons-respons nonverbal) jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada membaca aktif (yang melibatkan minimal prompts semacam 'ya ya' atau 'hooo, terus?' serta emoticon-emoticon penenang semacam big hug). Makanya, saya selalu jadi salah satu yang paling semangat untuk ngajak sahabat-sahabat saya di SMP dan SMA untuk ketemuan, to spend some quality time together, karena saya tau saya bisa kehilangan mereka kalau terus-terusan nggak ketemu.

Tawa saya tadi itu karena kaget.... Bahkan hal beginian bisa ditebak cuma dari benda yang saya pilih? Oh well... canggih sekali dosen saya! (Atau apapun ilmu yang membahas tentang ini - sehingga psikologi seringkali disangkutpautkan dengan ilmu ramal-meramal)

Kemudian, 'tebakan' selanjutnya yang dilontarkan Mas Ivan membuat saya semakin terpojok.

"Kamu punya pacar nggak sih?"

Saya kemudian menggeleng sambil tertawa pahit.

"Wah, cepet punya pacar gih. Kamu tuh sebenernya ngerasa sepi, meskipun pura-pura biasa aja."

Kali ini bukan hanya saya yang tertawa. Beberapa teman saya yang daritadi ikut menyimak dengan serius pun juga ikutan ketawa.

"Calon suami kali mas bukan pacar." 

Hanya itu yang bisa saya jawab karena saya bingung harus jawab apa lagi. Kemudian Mas Ivan menolak untuk menganalisis lebih jauh lagi, padahal lagi seru-serunya. Selain tiga hal di atas, ada satu lagi sebenarnya yang disampaikan oleh Mas Ivan, yang kembali ia tekankan saat dia tau zodiak saya Scorpio (itu pun ditebak sendiri sama Mas Ivan, entah gimana caranya). Tapi hal yang satu ini terlalu personal dan aneh untuk dibagi, apalagi di sini. Cukup saya aja lah ya yang tau, sambil bingung sendiri yang itu bener apa enggak.

--
Ramalan-ramalan Mas Ivan adalah salah satu hal yang menarik yang saya alami hari ini. Saya bingung harus nulis salah satu atau satu-satunya, karena setelah itu saya rapat selama lima jam dengan kondisi belum makan sejak pagi, dan kesal karena sesuatu dan lain hal. Saya tadinya mau nulis lebih panjang soal ini, karena saya butuh sarana untuk meregulasi emosi (yang sejak tadi masih sangat negatif), tapi saya jadi males dan milih untuk nggak ngebahas ini lagi, setidaknya hari ini. Yah, intinya saya lagi jenuh dan mulai bosan dengan rutinitas yang satu ini (karena saya memang tidak suka rutinitas, sebenarnya).




Saya ingin liburan lagi, atau sekedar menghabiskan waktu sendiri di hari yang hectic, dan mematikan handphone seharian. Terdengar menyenangkan dan menenangkan, bukan? Tapi saya tau, itu nggak akan bisa saya lakuin sebelum ini selesai. Jadi sekarang nggak ada yang bisa saya lakuin selain mengerahkan seluruh usaha saya sampai seluruh urusan ini selesai. Dan tetap menyelingi hari dengan menonton DVD sedikit, walau hanya dua-empat puluh menit.

"Tetap semangat, ya!"

Begitu isi pesan pendek saya kepada staff-staff saya di sie acara kamaba. Entah mereka tahu atau tidak, sebenarnya saya sedang menyemangati diri saya sendiri.
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...