Tuesday, November 29, 2011

Setelah Berkunjung

Saya menikmati tugas-tugas yang saya dapetin selama saya kuliah di Psikologi. Well, nggak semua sih, tepatnya tugas-tugas yang cukup aplikatif dan berkaitan dengan hal yang saya minati: psikologi klinis anak, psikologi klinis dewasa, atau psikologi pendidikan.

Salah satu tugas yang paling saya suka selama saya kuliah adalah tugas yang baru-baru ini saya kerjakan: Kunjungan ke Unit Terapi & Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional di Lido, Sukabumi. Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba. 

Sebelum datang ke sini, saya dan beberapa teman saya merasa cemas. Deg-degan. Yang ada di pikiran saya, tempat ini bakalan kayak penjara. Jorok. Serem. Penuh orang-orang bertato. Semacam itu lah ya. Apalagi tugas ini juga mengharuskan kami untuk mewawancara satu mantan pecandu yang masih menjalani program rehabilitasi. Gimana kalau nanti salah ngomong? Gimana kalau nanti respondennya ngerasa nggak nyaman dan nggak mau cerita? 

Tapi ternyata tempatnya bener-bener nyaman. Fasilitasnya lengkap dan terawat. Residennya ada sih yang serem, tapi mostly mereka ramah-ramah kok (terutama yang udah di sana beberapa bulan atau tahun ya, karena kami sama sekali nggak liat residen yang baru masuk). Tapi bukan itu yang bikin saya kagum. Saya lebih kagum lagi ketika tau sistem di sana. Semuanya terkonsep dengan rapi dan sangat psikologis, bikin saya bertanya-tanya, siapa otak di balik semuanya. Misalnya aja, konsep operant conditioning yang sangat diterapin di sini. Residen yang ngelakuin pelanggaran, even as simple as nggak ngancingin baju atau lupa nyebut nama saat ngomong, akan dapet hukuman setelah ia ngaku kalau salah, meskipun bentuk hukumannya misalnya hanya harus menggandeng tangan mentornya seharian atau harus nempelin kertas bertuliskan 'nama saya X' di punggung. Atau peraturan yang mengharuskan residen yang udah sampe tahap re-entry (tahap terakhir dari program rehabilitasi) untuk pulang ke rumah setiap dua minggu sekali, supaya ketika benar-benar keluar dari program, mereka nggak kaget dan jadi pecandu lagi. Atau tulisan-tulisan di dinding ruangan berisi term-term dalam bahasa Inggris yang beberapa di antaranya merupakan jargon-jargon psikologi. Atau kata-kata motivasi yang juga di pasang di dinding, salah satunya kira-kira begini tulisannya: "recovery is like cycling; once you stop, you fall."

Pelajaran yang saya dapet selama ngambil mata kuliah Psikologi Adiksi ternyata cukup berguna untuk merubah pola pikir saya terhadap pecandu. Di awal kuliah, Mbak Dani, dosen yang juga psikolog adiksi yang sangat ahli di bidangnya, menekankan kepada kami kalau dalam sudut pandang psikologi, adiksi adalah perilaku maladaptif - bukan dosa atau penyakit; meskipun adiksi tertentu bisa saja memang menyalahi aturan agama dan bisa saja menimbulkan penyakit. Hal ini ternyata sangat berpengaruh saat saya berinteraksi langsung dengan salah satu residen di sana. Saya sama sekali nggak nge-judge kalau si mas ini dosa atau penyakitan atau apa, saya malah tertarik dengerin cerita dia. Saya segitu ingin tahunya, apa sih yang bikin dia adiksi. 

Cerita mas A itu cukup membuka mata saya. Saya selalu temenan sama orang "baik-baik," jadi saya selalu memandang dunia dari segi yang baik-baiknya aja. Saya sempet pengen punya temen yang nggak segitu baiknya supaya jadi punya responden yang ceritanya seru buat tugas UTS Psikologi Adiksi, tapi setelah dengerin cerita A, saya malah jadi bersyukur

Saya bersyukur karena semua temen saya baik-baik dan nggak ngebawa saya ke hal-hal yang terlalu negatif. Saya bersyukur karena punya orang tua yang nerapin pola asuh yang sangat baik dan seperti nerapin semua teori psikologi yang ada tentang cara mengasuh anak - meskipun mereka nggak pernah tau secara langsung. Saya bersyukur karena orang tua saya bener-bener ngerti agama dan nerapin ajaran agama dalam mendidik saya dan ketiga adik saya. Saya bersyukur karena bisa ngelakuin emotion-focused coping dengan cukup baik sehingga saya nggak pernah se-desperate itu. Saya bersyukur karena saya pun nggak pernah dikasih masalah yang seberat itu. 

Sebenarnya, banyak hal kecil yang bisa saya syukuri setiap hari; kalau saja saya selalu sadar dan ingat untuk bersyukur.





Terus saya jadi ingin ngetawain diri sendiri. Bisa-bisanya saya ngeluh jadi orang yang hidupnya paling berantakan sedunia.
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...