Saturday, February 4, 2012

Another Fear

'Abis ini mau ke mana, kak?' jadi pertanyaan favorit saya saat saya ketemu senior-senior yang baru lulus sidang skripsi. Ada yang langsung ngerti arah pertanyaan saya, tapi kebanyakan menjawab dengan beberapa aktivitas seperti pulang, makan-makan, atau pergi sama temen. 'Bukan,' saya biasanya me-restate pernyataan saya, 'Maksudnya, dalam hidup. Abis ini mau ngapain?'

Pertanyaan itu saya ajuin, selain karena iseng, karena saya ingin tahu, senior-senior saya yang hebat-hebat ini, yang berhasil lulus 3,5 tahun dengan tetap aktif di kegiatan nonakademis ini, mau jadi apa setelah lulus nanti. Saya ingin tahu, apakah orang-orang yang sebentar lagi akan diwisuda ini udah tau dan mantep dengan masa depannya.

Karena saya masih juga belum yakin. Saya tahu saya mau jadi apa - tapi saya nggak tahu apakah itu pilihan yang tepat dan yang paling baik buat saya, dan apakah saya bisa jadi apa yang saya mau.

Beneran deh, the idea of future always scares me. The idea of (almost) being a senior year student juga. 

It gets worse because it's like everyone's new favorite topic. Di kampus, di whatsapp, di twitter - bahkan di rumah. Mau bikin skripsi tentang apa? Mau jadi apa? Mau langsung kerja atau lanjut S2? Mau kerja kantoran nine-to-five nggak? Mau magang di mana? Mau nikah umur berapa? Udah punya bekal apa aja buat jadi istri dan ibu? 

Terlebih lagi, temen-temen saya sekarang udah mulai merintis karir. Nggak segitunya sih, tapi banyak banget yang udah mulai ngelakuin hal-hal yang sifatnya lebih serius. Atau ngerencanain untuk ngelakuin hal-hal yang sifatnya lebih serius, secepatnya. Saya? Saya masih terjebak di zona nyaman yang sama. I'm grateful to be in a place where I'm needed the most, actually, dan so far saya ngerasa saya mengambil keputusan yang tepat - tapi saya ngerasa hidup saya kok gini-gini aja.  

Fakta-fakta serta pertanyaan-pertanyaan dan pembicaraan-pembicaraan yang semi-serius itu bikin saya takut. Karena setelah lulus nanti, saya akan bener-bener jadi orang dewasa yang mandiri, seharusnya. Beda dengan ketika ada di penghujung SD, SMP, atau SMA - di mana yang harus saya pikirin cuma sekolah atau universitas apa yang bagus, dan gimana caranya saya bisa ngelanjutin studi di sana. No, this one is totally different. Kalau saya sudah lulus nanti, rasanya mungkin akan jadi seperti abis dikurung di dalem rumah selama 19 tahun, dan sekarang dibolehin untuk keluar. Atau seperti belajar terbang selama 19 tahun, dan sekarang lagi ada di ujung jurang dan akan didorong, either untuk terbang atau untuk jatuh. Kalau kayak gini (kalau lagi gini aja loh ya), saya suka iri sama temen-temen saya yang masih semester dua - yang bahkan masih adaptasi dan masih nebak-nebak, whether they're already on the right track

But this is life. We cannot undo things - we just have to face it. Saya nggak bisa bohong tapi kalau saya takut. 

Kalau lagi begini, saya lebih seneng stay di rumah. Masak, apa aja. Atau ngobrol-ngobrol sama keluarga. Dengerin cerita Mawla, nguatin Awwaab soal kuliahnya nanti, temu kangen dan diceramahin sama Fari, atau curhat dan diskusi sama Umi dan Abi. Entah lah, tapi mungkin di saat saya masih bingung sama masa depan saya, saya tahu kalau saya nanti akan punya keluarga. Saya akan jadi istri, jadi ibu. Setidaknya, jika saya ngerasa belum bisa nyiapin diri untuk jadi wanita karir dan semacamnya, jadi anak rumahan bikin saya bisa nyiapin yang satu itu, entah dari segi skill memasak atau beres-beres, atau dari segi persiapan mental - dari obrolan santai-tapi-serius sama orang tua saya.

Lagi-lagi ini antiklimaks. Saya cuma lagi bingung dan takut, dan saya butuh tempat untuk menuliskan apa yang ada di pikiran saya. 

Masih satu hingga satu setengah tahun lagi.

Nggak ada lagi yang bisa saya lakuin selain berdo'a supaya semuanya akan jadi baik-baik saja, seperti biasanya.

Allah, tetep bantuin saya, ya. Tetep dampingin saya supaya selalu ada di jalur yang benar. Tetap pilihin yang paling baik buat saya, ya.
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...