Wednesday, April 23, 2014

Tentang Seleksi Wawancara & LGD LPDP

As I said before, I was not at my best when I did the scholarship interview. But an email somehow appeared on my inbox today, telling me that I have passed the interview & LGD test. It's evidently beyond my expectation. Allah is too kind. I still have to pass the leadership program, but it's now plenty of steps closer to one of my dream.

I promised myself to write something on this blog if I got accepted. I know a lot of people, including me, spend hours, googling about "tips sukses beasiswa LPDP" or "tips wawancara LPDP". I found a lot of blogs based on that keywords, and I promised myself to write one, just to share my experience. And to help others, of course.
________________________________________________

Tes Wawancara LPDP

Seperti yang sudah saya ketahui sebelumnya,  wawancara dilakukan oleh dua orang doktor dan satu orang psikolog. Setelah browsing sana-sini, entah kenapa saya membayangkan berada di satu ruangan besar yang hanya diisi oleh saya dan ketiga interviewer. Ternyata, di dalam satu ruangan besar, ada lebih dari 5 kelompok wawancara. Jadi tenang aja, suasananya nggak terlalu mencekam, kok. 

Saya berulang kali cerita kalo saya nggak lagi di dalam kondisi optimal untuk diwawancara karena saya bener-bener baru balik dari airport. I have just gone through a 5-hour flight, I only slept 2 hours since the earlier night, and I didn't even have proper clothes to wear, because, who would have brought her formal attire during vacation? Tapi ya sudahlah. Saya menunggu manis dengan para kandidat lain, sampai akhirnya dipanggil. Oh iya, saya mendapatkan giliran terakhir untuk hari itu. Saya baru dipanggil masuk 10 menit sebelum adzan maghrib.

"Okay, Farraas, please introduce yourself to us" adalah kata yang pertama kali keluar dari mulut pewawancara pertama. Saya tentu kaget karena sepanjang menunggu giliran, tidak ada yang pernah cerita ke saya kalau wawancaranya akan dilakukan dalam Bahasa Inggris. Paling campur-campur, atau ada sedikit yang menggunakan Bahasa Inggris. Tapi ternyata wawancara saya berlangsung sepenuhnya dalam Bahasa Inggris. Agak nggak adil sih, ya, sebenernya, karena saya takut ada hal-hal yang jadi kurang tergali karena komunikasi dilakukan bukan dengan bahasa ibu. Tapi mungkin kalau saya bisa menjawab dengan baik, justru penggunaan Bahasa Inggris bisa menjadi poin plus. Kalau begitu jadinya adil, ya?

Wawancara berlangsung selama sekitar 15 menit. Suasananya santai, sehingga saya pun berusaha menjawab dengan ringan dan santai. Saya diberikan pertanyaan seputar rencana studi (mengapa mengambil Development, Disorder and Clinical Practice, mengapa di University of York, mengapa harus di luar negeri, apa rencana setelah ini, apa tujuan jangka panjang saya); rencana hidup di York (apa tantangannya, bagaimana cara mengatasinya, apakah yakin bisa menggunakan jilbab dengan aman dan nyaman di sana, bagaimana kalau kangen rumah); dan beberapa pertanyaan yang cukup random (pernah ke luar negeri nggak - yang berujung pada diskusi singkat soal TKW Hongkong karena saya bener-bener baru kembali dari sana). Singkatnya, wawancara saya berlangsung dengan cukup lancar dan menyenangkan.

Tapi, begitu sampai di rumah, saya menyadari beberapa kesalahan yang saya lakukan, atau beberapa hal yang sebenarnya bisa saya jelaskan dengan lebih baik.

  1. Saya sempat menyebutkan bahwa angka individu autistik di Indonesia semakin bertambah. Ketika ditanya berapa angka pertumbuhannya, saya bilang tidak tahu pastinya. Harusnya, saya menyebutkan angka penderita di Amerika (yang memang lebih up-to-date datanya dan saya ketahui). Saya harusnya bahkan mempersiapkan data-data mengenai prevalensi penderita autistik di Indonesia, untuk memastikan bahwa saya benar-benar telah mempersiapkan wawancara dengan baik. But, to be frank, saya memang nggak siap. Lah orang baru tau 3 hari sebelum wawancara dan kebetulan jadwal wawancaranya satu hari dengan hari kepulangan. Yang ini jangan ditiru, ya. 
  2. Saya harusnya bisa memberikan argumentasi yang lebih baik ketika ditanya "why don't you take the graduate program at UI? Don't they have a similar program with the one you choose?". Well I did my best to answer the question, but I thought it was not convincing enough.

Ada beberapa aspek lain yang menghantui saya. Tapi setidaknya saya menjawab pertanyaan dengan cukup lancar dan bisa menjaga suasana wawancara agar tetap menyenangkan.

Kalau ditanya tips untuk wawancara, hanya ada beberapa hal yang bisa saya sarankan:
  1. Persiapkan diri dengan baik. Cari info tentang jurusan yang mau diambil dan kampusnya (peringkat, kualitas pendidikan, dan lain-lain); cari info tentang kota tempat tinggalnya; dan cari argumen yang kuat dibalik keputusan tersebut. Saya sih ngerasa keren banget setelah wawancara karena saya telah memaparkan fakta-fakta tentang York dan University of York (jumlah mahasiswa Indonesia,  ada berapa masjid dan restoran halal, bagaimana cara ke sana dari London, dan sebagainya) yang menunjukkan kalau saya memang sudah siap dan tahu situasi di sana. 
  2. Be relaxed. Santai aja, jangan dibawa tegang. Make a few appropriate jokes. Smile a lot. Those interviewer spent the whole day listening to other candidates, so the least you can do for them is be nice and interesting. 
  3. Tips paling klise sedunia: Just be yourself. Eh ya tapi emang bener. Prepare yourself, but don't be someone else, because they will know. Ada peserta lain yang cerita kalau temannya dikomentarin "kamu palsu deh... bukan diri kamu sendiri" sama psikolog yang mewawancara. It was mean, but they can really sense it if you're pretending to be someone you're not.
  4. Supaya lebih siap, baca ulang esay-esay yang udah ditulis. Pikirin lagi tentang kontribusi yang bisa diberikan ke Indonesia melalui bidang studi yang dipilih, dan apakah hal itu feasible untuk dilakukan di Indonesia.
  5. Beberapa teman saya bercerita bahwa interview mereka personal banget, bisa sampai berkaca-kaca atau bahkan nangis jawabnya. Kalo gitu, prepare for the worst aja ya, dan tunjukkan kalau dibalik semua masalah yang dimiliki, kita tetep bisa kuat dan konsisten menyelesaikan komitmen yang dimiliki.


Tes LGD (Leaderless Group Discussion) LPDP

Besoknya, saya harus kembali untuk melakukan tes LGD. Tahap seleksi LGD baru dilakukan tahun ini, sehingga ketika saya melakukannya, belum ada satu pun orang yang menceritakan prosesnya di internet (makanya saya bertekad untuk menulis sesuatu kalau memang saya lolos tahap ini). LGD mungkin saja dilakukan di hari yang sama dengan wawancara, atau bahkan sebelum wawancara; tergantung jadwal masing-masing.

Kelompok saya terdiri dari 7 orang. Sebelum sesi dimulai, lagi-lagi saya berbincang dengan peserta lain. Saya menarik kesimpulan bahwa kebanyakan topik diskusi adalah seputar pendidikan. Ah, cincai, batin saya dengan congkaknya. Congkak banget, tapi sebagai sarjana psikologi yang sedang berprofesi sebagai guru, pendidikan adalah hal yang sangat menarik untuk didiskusikan. 

Begitu masuk ke ruangan diskusi, ada artikel koran di atas meja. Satu lembar artikel beserta lima pertanyaan lanjutan yang harus kami jawab mengenai kontroversi kebijakan pelarangan ekspor Minerba. Bah! Minerba singkatan dari apa aja saya nggak tau. Bah! Bahaya!

Satu orang anggota kelompok berdiri untuk mencatat jalannya diskusi di papan tulis (sekaligus untuk menjadi pemimpin diskusi sih, secara nggak langsung). Ia meminta anggota kelompok untuk memperkenalkan diri. Saya kemudian meminta supaya setiap orang menyebutkan latar belakang pendidikannya, supaya diskusi berjalan dengan lebih optimal (dan supaya orang-orang maklum kalau saya nggak tau apa-apa... hahaha). Setelah semuanya memperkenalkan diri, saya makin panik. Ada yang kerja di oil & gas company, ada dua orang dari ekonomi, ada yang dari teknik. "Saya dari fakultas psikologi. Nggak nyambung sama sekali sama topiknya yah, hehe. Makanya harap maklum kalau saya hanya bisa memberikan komentar dari sudut pandang awam ya teman-teman..." Yep, saya mati gaya dan nggak tau lagi bahkan harus ngomong apa. "I'm so dead and stupid" beberapa kali melintas di dalam pikiran saya. 

Saya akhirnya mengajukan diri untuk mencatat jawaban di kertas. Sederhana saja, saya harus tetap berguna di kelompok. Saya akhirnya berbicara seperlunya (kelompok saya cukup baik karena membagi giliran bicara, jadi saya terpaksa berkomentar meskipun pasti kontennya cetek). Sepanjang diskusi, bahkan sampai sesaat sebelum pengumuman, saya merasa bodoh sekali. Saya harusnya lebih peka terhadap isu-isu di Indonesia, meskipun tidak ada kaitannya dengan program studi saya, dan meskipun saya sama sekali tidak tertarik dengan hal tersebut. Beneran deh, kalau politik, agama, atau pendidikan, saya masih bisa nyambung; tapi kalau udah menyangkut ekonomi dan alam........ Duh.

Saya nggak berhenti menyalahkan diri sendiri karena kurang persiapan. Saya juga akhirnya mencoba untuk ikhlas dan berusaha untuk menerima kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Setelah melakukan refleksi diri dan mengobservasi teman-teman sekelompok, inilah tips yang mungkin bisa saya bagi untuk menghadapi LGD LPDP. 
  1. BACA KORAN! Baca koran sebelum LGD supaya tahu topik apa aja yang lagi hangat, termasuk opini masyarakat (atau tokoh masyarakat,  atau jurnalis) mengenai isu tersebut. Begitu sampai rumah, saya langsung buka beberapa koran Kompas dan menemukan banyak artikel tentang Minerba. Rasanya gemes karena kalau saya baca koran sebelumnya mungkin saya nggak terlihat sebodoh itu. 
  2. Jangan terlalu menonjol dan ambisius. Beri kesempatan bagi orang lain untuk menyampaikan argumennya, asertif dalam menanggapi pendapat orang lain (jangan terlalu nunjukin kalau nggak setuju), tapi jangan cuma diem juga, apalagi kalau isunya memang sesuatu yang kamu kuasai. Salah satu anggota kelompok LGD yang saya adore banget adalah peserta yang hanya beberapa kali bicara tapi omongannya berisi dan menyelesaikan masalah. She also got in, obviously. 
  3. Kalau bener-bener nggak tau harus ngomong apa, cari kerjaan lain. Ini tips sotoy sih, but that's exactly what I did. Saya cuma jadi penengah dan notulen, cuma bicara tiga kali, dan membacakan kesimpulan diskusi di akhir. 
  4. Kenalan dengan kelompok LGD. Biasanya teman satu kelompok ini dipanggil bersama-sama saat verifikasi berkas. Kenalan deh, bahkan ngobrol kalau perlu. Ini berguna banget untuk mencairkan suasana dan untuk nyiapin mental.
  5. Jangan minder dengan peserta lain, atau bahkan malah meremehkan mereka. Dalam seleksi LPDP, tidak ada kuota jumlah penerima beasiswa. Kita akan dinyatakan lolos jika memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh LPDP. Saingan kita bukan peserta lain, melainkan diri kita sendiri. Jadi nggak usah terlalu show-off atau "sikut-sikutan" juga pas LGD. Lebih menyenangkan kalau semua teman sekelompok bisa lolos kan ya? :) 

Anyway, kayaknya pengalaman saya negatif banget ya? Pas wawancara saya cukup optimis sih, karena suasana wawancaranya menyenangkan, tapi pas LGD saya bener-bener ngerasa jelek dan langsung putus harapan setelahnya. So imagine how surprised I am to hear the news! Maybe it's something that I said or did, maybe it's one of Allah's miracle, tapi ternyata somehow saya bisa lolos tahap wawancara dan LGD.

Jadi ini tips terakhir dari saya: Berdoa.  Berdoa berdoa berdoa. Berdoa yang banyak. Puasa yang banyak, terus banyak berdoa ketika waktu sahur dan berbuka. Allah nggak pernah bohong. Allah nggak pernah lupa. Miracles do happen if He allows them to. 

Sekian tips dari saya. Semoga kesalahan-kesalahan yang saya lakukan bisa jadi bahan pembelajaran untuk kamu ya. Semoga tipsnya berguna.

Goodluck! 

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...