Monday, May 5, 2014

Sekilas Tentang Autisme

(Tulisan ini ceritanya dibuat untuk menyambut Autism Awareness Day 2013, tapi tertunda setahun dan akhirnya baru bisa di-publish sekarang, hehe)

____________________________________

Meskipun autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang paling populer, bahkan sering digunakan sebagai gurauan sehari-hari, rupanya belum banyak orang yang paham dengan gangguan ini. Kata ‘autis’ tidak ada hubungannya dengan asik memegang HP. Autisme juga tidak sama dengan bertingkah konyol.

Jadi, anak autis itu kayak gimana?

Gangguan Spectrum Autisme (Autism Spectrum Disorder atau ASD) adalah sebuah gangguan perkembangan yang ditandai oleh masalah dalam hal komunikasi, kemampuan sosial, dan perilaku berulang. Masalah dalam komunikasi umumnya ditandai oleh kemampuan bicara yang terlambat, yang merupakan salah satu gejala yang paling awal terdeteksi. Dalam hal sosialisasi, anak autistik biasanya kesulitan untuk memikirkan sesuatu dari sudut pandang orang lain, sehingga seringkali melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku di sekitarnya – atau lebih sederhana lagi, kesulitan untuk berempati atau memahami perasaan orang lain. Kebanyakan dari mereka juga kesulitan untuk berbicara dua arah dan mempertahankan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain. Selain itu, masalah perilaku umumnya ditunjukkan oleh kecenderungan untuk melakukan sesuatu secara rutin dan berulang (mereka cenderung kaku terhadap perubahan) dan perilaku yang dilakukan secara repetitif (misalnya menggerakkan tangan atau ‘flapping’).

Karena merupakan sebuah spektrum, gangguan ini sangat beragam. Di DSM (‘kitab’ untuk mendiagnosis gangguan mental) IV, ASD terbagi ke dalam tiga kategori: autistic disorder, Asperger’s syndrome (untuk anak yang high-functioning dan tidak mengalami keterlambatan bicara ketika kecil), dan PDD-NOS (untuk anak yang hanya memiliki beberapa gejala autistik). Tapi, di DSM yang terbaru, ketiga gangguan ini kembali disatukan karena batasannya dianggap tidak terlalu jelas.

Kemampuan anak autistik sangat beragam, tergantung tingkat keparahan gangguannya. Seorang murid saya, sebut saja Ishan, memiliki kemampuan bahasa yang sangat baik. Ia mampu menggunakan istilah kompleks dan dapat menguasai bahasa baru dengan mudah. Namun, ia sering terlalu asik dengan imajinasinya dan harus terus diawasi agar bisa melakukan interaksi sosial yang wajar dengan teman seusianya. Murid saya yang lain, sebut saja Tama, hanya bisa mengucapkan satu sampai dua kata untuk menjelaskan keinginannya (misalnya: “tisu”, “toilet”, atau “rautan”). Ia juga sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan untuk bermain dengan temannya, dan sangat kaku dan perfeksionis. Ia bisa gelisah kalau ada jadwal pelajaran yang tiba-tiba berubah, dan bisa berulang kali meminta izin untuk meraut meskipun pensilnya masih tajam. Meskipun kemampuannya sangat berbeda, Ishan dan Tama sama-sama didiagnosis ASD.




Tapi anak autis itu pinter kan ya? Autis tuh karena kepinteran kan ya?

“Anak autis kan pinter” adalah salah satu rumor yang paling sering saya dengar mengenai ASD. Betul memang, terdapat beberapa individu autistik dengan tingkat inteligensi di atas rata-rata (misalnya Temple Grandin). Namun, statistically speaking, berbagai hasil penelitian yang saya baca secara konsisten menunjukkan bahwa 70% anak dengan ASD juga mengalami gangguan inteligensi (IQ di bawah rata-rata). Selain karena gangguan inteligensi, anak ASD kerap memiliki masalah dalam hal akademis karena kemampuan verbal mereka yang terbatas. Mereka bisa saja pandai berhitung dan bisa menyelesaikan soal dengan cepat karena telah di-drilling, namun kebanyakan anak dengan autisme memiliki masalah dalam hal komprehensi dan berpikir secara abstrak. Mereka akan kesulitan dalam mengerjakan soal cerita, misalnya. Tapi, lagi-lagi, tentu tidak semua anak ASD mengalami masalah ini.

Kenapa mereka bisa jadi autis?

Penyebab autisme, sejauh yang saya ketahui, masih menjadi perdebatan di kalangan para ilmuwan psikologi dan neuroscience. Yang jelas, tidak ada bukti yang valid bahwa vaksinasi menyebabkan autisme. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap saudara dengan autisme (twin and sibling studies) menunjukkan bahwa autisme merupakan gangguan genetis. Namun, berbeda dengan down syndrome, autisme bukan disebabkan oleh gangguan di salah satu kromosom.



Apa yang bisa saya lakukan kalau saya bertemu dengan anak ASD?

Saya juga sejujurnya masih suka bingung harus ngapain kalau bertemu dengan anak (yang saya curigai) ASD di tempat umum. Tapi, yang paling pasti, saya memilih untuk tidak memperhatikan mereka dengan sinis. They might act weird, they might disturb you by saying things repeatedly, but they are not doing that on purpose. It obviously is beyond their control! Bukan salah mereka kalau mereka tidak bisa mengikuti norma sosial yang berlaku. Bukan salah orang tuanya juga. Jadi, kita yang neuro-typical ini lah yang harus ngalah dan menerima perbedaan.

“I’m different, but not less.” – Temple Grandin


Anak-anak ASD mungkin terlihat berbeda. In fact, mereka melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda. Tapi bukan berarti mereka lebih buruk dari kita. Beberapa dari mereka bahkan memiliki kelebihan-kelebihan khusus: Kemampuan imajinasi yang luar biasa, kemampuan menggambar dan memperhatikan objek dengan detil, kemampuan menghapal, atau kemampuan lain. 

Yuk mulai perlakukan individu autistik dengan lebih baik! Happy belated autism awareness day! :)

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...