Thursday, May 1, 2014

Sebut Saja Rasya

Sebut saja Rasya. Anak laki-laki berusia delapan tahun. Lahir di Perancis dan dibesarkan di dalam lingkungan dengan Bahasa Perancis, Bahasa Inggris,  dan Bahasa Indonesia. Rasya terlambat bicara. Kemampuan inteligensinya mungkin rata-rata, tapi ia tidak bicara. Entah tidak bisa atau tidak mau. Buat saya, Rasya adalah misteri.

Rasya pernah didiagnosis autistik oleh salah satu psikolog. Terang saja, ketika saya pertama kali bertemu dengan Rasya, ia sedang asik bermain sendiri di bawah meja ketika gurunya sedang menjelaskan. Selama satu tahun pertama di sekolah dasar,  Rasya terjebak di dalam kelas mainstream, dengan seorang shadow teacher sebagai pendamping. Meskipun ada di kelas mainstream, saya langsung menyadari ada yang berbeda dari Rasya sejak pandangan pertama. 

Ketika pertama kali diantar ke bagian special education untuk melakukan trial (karena ia dirasa lebih baik berada di lingkungan Spec-Ed),  Rasya mengamuk. Ia menangis, diam, dan meminta untuk kembali ke kelas satu.

Seminggu pertama di bagian Spec-Ed, Rasya mulai merasa nyaman. Ia mulai mau bermain dengan anak-anak lain di Spec-Ed. Rasya sudah tidak lagi menangis. Namun, ia masih enggan bicara. Ia memilih untuk diam,  atau hanya bertanya "apa?" berulang-ulang, seolah-olah tidak mengerti pertanyaan yang diberikan.

Lama kelamaan, Rasya mulai merasa nyaman. Ia menemukan teman dekat dan asik bermain dengan mereka. Rasya lebih percaya diri. Kemampuan akademiknya pun melesat jauh.  Rasya sudah mulai bisa membaca, dan menguasai matematika sesuai dengan usianya.  Semua guru makin yakin kalau Rasya bukan anak autistik. Rasya hanya memilih untuk diam, entah kenapa. Saya juga belum punya kapasitas untuk memberikan diagnosis. Mungkin selective mustism? Entahlah.

Imajinasi, preokupasi, dan bakat Rasya

Setiap pagi, Rasya dan temannya, sebut saja Rama, selalu datang lebih pagi daripada saya. Ketika melewati mereka setiap pagi, saya selalu menyapa mereka berdua. Terkadang saya hanya menyapa Rama, lalu menikmati pandangan Rasya yang ingin sekali disapa. 

"Sya, bilang apa kalau ketemu Bu Ayas?"
"Apa?"
"Selamat......  apa Sya?"
"Selamat apa?"
"Selamat pagi atau selamat malam?"
"Apa?"
"Selamat pagi Bu Ayas....  gitu Sya."
"Selamat pagi Bu Ayas...." kata Rasya dengan suara yang nyaris tak terdengar, sambil tersenyum iseng.


Kejadian itu berulang beberapa kali, sampai akhirnya... 
"Bilang apa Sya kalau ketemu Ibu Ayas?"
"Apa?"
"Bilang apa hayo....? Selamat..... "
"Selamat pagi Bu Ayas!"
"Selamat pagi, Sya!"

Hingga tadi pagi, 
"Eh Rasya...  Ayo,  harus bilang apa? "
"Selamat pagi Ibu Ayas!"

Bukan hanya itu. Rasya kini aktif mengangkat tangannya dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Dahulu,  diberikan direct questions ketika berdiskusi pun ia hanya diam. Rasya masih suka kesulitan karena kosa kata yang ia miliki memang masih terbatas. Tapi sekarang ia bisa bertanya jika tidak mengerti. 
"Ini Bahasa Indonesianya apa?"
"Tulisnya gimana? Aku nggak bisa tulisnya."


Bagi saya, pencapaian Rasya semester ini sungguh luar biasa. Melihatnya tumbuh dan berbahagia adalah salah satu sumber kebahagiaan saya setiap hari.


Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...