Monday, July 21, 2014

Tentang Menutup Aurat

Saya pertama kali menggunakan jilbab ketika berusia sebelas hari. Iya, hari, bukan tahun. Ketika itu, jilbab anak belum jadi tren, sehingga hampir semua jilbab saya adalah hasil jahitan nenek dan ibu saya. Meskipun saya baru benar-benar menutup aurat ketika telah menstruasi (sebelumnya saya masih suka pakai celana selutut saat berenang atau lepas jilbab kalau merasa kegerahan), orang tua saya sudah membiasakan saya untuk berjilbab sejak kecil.


Jilbab pertama




Alhamdulillah, karena telah dilatih sejak kecil, aurat saya tidak pernah tersingkap (kecuali kaki dan tangan karena suka bandel). Tapi kadang-kadang saya iri sama teman-teman saya yang menemukan jalannya sendiri. Rasanya pasti beda dong ya. Saya juga pernah melewati masa-masa di mana saya iri sama teman-teman saya yang nggak berjilbab, meskipun nggak pernah sampai kepengen lepas jilbab. But in the end, saya tentu bersyukur karena lingkungan saya selalu mendukung saya untuk menutup aurat.


Jadi, kenapa sih harus pake jilbab?

Alasan utamanya ya karena wajib. Karena ada di surat An-Nuur (24) : 31. Saya bukan orang yang setuju kalau interpretasi terhadap Al-Quran merupakan hal yang bisa diubah seenaknya sesuai dengan perubahan zaman, jadi buat saya, jilbab tetap wajib. Titik. 

Kalaupun ternyata jibab nggak wajib (seperti argumentasi beberapa orang), manfaatnya tetep banyak kok. Salah satu manfaat dari berjilbab yang saya bener-bener rasain adalah menjaga diri saya dari tempat-tempat dan kegiatan-kegiatan yang negatif. Ah, kan saya pake jilbab, masak ngerokok (meskipun sempet ada di situasi di mana semua temen cewek di sekitar saya ngerokok dan rasanya penasaran banget buat iseng nyoba); ah, saya kan pake jilbab, masak nonton konser di night club (meskipun tempat itu memang sudah sering digunakan sebagai venue konser); ah, saya kan berjilbab, masak nggak ngeduluin shalat; dan ah, ah yang lainnya.

Selain itu, jilbab membuat saya merasa lebih tenang karena tubuh saya tertutup, jadi kemungkinan dipandang sama orang lain jadi lebih kecil. Iya sih memang, ada juga beberapa kasus di mana wanita yang berjilbab tetap menjadi korban pelecehan seksual. Tapi saya percaya bahwa pakaian dan perilaku yang provoking akan membuka celah dan godaan yang lebih besar. Di saat yang bersamaan, laki-laki tentu juga punya kewajiban untuk menundukkan pandangan dan menghormati wanita - tapi tidak ada salahnya kan, melakukan tindakan preventif?

Memakai jilbab bukanlah bentuk opresi dan bentuk rasa malu terhadap tubuh sendiri (sehingga membuka aurat menurut saya juga bukan cara untuk mengekspresikan diri atau menunjukkan kebebasan), tapi justru bentuk penghormatan terhadap diri kita. Bentuk penghargaan terhadap anggota-anggota tubuh yang tentu harus dijaga untuk seseorang yang istimewa, bukan untuk semua orang yang berpapasan dengan kita. Itu yang saya yakini. Someone would feel happier if they could touch, see, and do things other people couldn't, right?

Memakai jilbab dan menutupi bagian tubuh yang buat sebagian orang justru merupakan "aset", pada akhirnya membuat saya lebih percaya dengan kemampuan saya sendiri. Bukan tubuh saya yang jadi penilaian utama, but what's within.

Selain itu, jilbab adalah identitas utama sebagai seorang muslimah. Saya baru memahami makna ini ketika sedang pergi ke Hongkong, negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Di sana, berpapasan dengan orang yang berjilbab (baik orang Indonesia maupun dari bangsa lain) rasanya seperti kembali ke rumah. Rasanya nyaman banget, dan indah karena pasti jadi saling bertukar salam dan senyum. Saya baru merasakan makna "saudara seiman" ketika sedang jadi minoritas. It felt that happy to meet your sisters when you're far from home.

Dan satu lagi: jilbab membantu kita mengurangi dosa ayah (atau suami) kita, karena seorang laki-laki memiliki kewajiban untuk memberi tahu istri dan anak-anaknya untuk menutup aurat, seperti yang tertulis dalam QS. Al-Ahzab (33) ayat 59. I would do anything to release my father from such a burden.



Tapi gerah!

Saya nggak akan bilang "enggak kok nggak gerah, kan hatinya jadi adem". Saya termasuk tipe "makhluk kutub" yang harus kena AC dan gets super-cranky kalau kegerahan. Ada kalanya saya sadar kok, dunia jadi jauuuhhh lebih adem dan dingin begitu saya lepas jilbab dan kardigan. Ada kalanya saya sirik sama temen-temen yang bisa pakai baju dengan bahan yang tipis ke kampus. Kalau saya mau pakai baju dengan bahan setipe, saya harus pakai kaos ketat di dalam. Makin gerah. Tapi gini, buat saya memakai jilbab itu adalah bentuk pengorbanan luar biasa dari seorang wanita. Yang namanya berkorban emang nggak akan gampang. Kadang gerah, keringetan, dan bahkan bikin rambut rontok dan ketombean. Tapi, yang namanya berkorban, balasan yang akan kita dapatkan di akhir juga akan setimpal. Versi kasar dan klisenyanya gini, segerah-gerahnya matahari Jakarta, gerahan mana coba sama matahari di neraka?


Tapi nanti jadi nggak cantik!

Komentar ini udah nggak relevan lagi kali yah di jaman sekarang, apalagi kalau tinggal di Indonesia, pusat muslim fashion dunia. Bahkan banyak orang yang justru baru jadi stylish setelah pakai jilbab. Saya bukan penganut Islam garis keras yang berkoar-koar bahwa jilbab "ala hijabers" itu haram. Yang saya yakini, berjilbab dengan warna dan motif yang lucu itu nggak dosa kok, asal tetap mengikuti kaidahnya (misalnya tetap menutup liuk tubuh dan nggak tembus pandang). Ini debatable banget tapi ya, jadi silahkan ikuti kata hati masing-masing. Mulai berjilbab dari jilbab yang pendek menurut saya juga nggak masalah, asal terus belajar dan dipanjangin dikit-dikit. Pilih aja style yang paling nyaman di awal, namanya juga lagi belajar. Saya malah seneng jilbab jadi tren, karena jadi banyak banget yang berani berjibab. Oh iya, nggak ada kewajiban untuk pakai jilbab lebar dan panjang sampai ke bokong kok - itu pure pilihan, silakan pakai seperti itu kalau merasa nyaman, tapi yang wajib ditutupi hanya sampai dada (asal pakaiannya juga nggak ketat ya). Just find a style that suits you best.


Tapi belum pantas!

Memakai jilbab itu bukan setelah shalat kita rajin dan perilaku kita sempurna. Memakai jilbab itu bukan setelah bisa ngaji dan sering puasa sunnah. Memakai jilbab itu kewajiban, sama seperti shalat. Sama juga seperti kewajiban untuk berbakti kepada orang tua dan memperlakukan orang lain dengan pantas. Sama-sama wajib. Kalau nunggu sempurna dulu ya nggak akan mulai, karena saya udah pakai jilbab hampir 21 tahun juga masih gini perilakunya (not something to brag about, I know). Menurut saya, berjilbab dan memperbaiki ibadah dan perilaku itu harus dilakukan sejalan, nggak ada yang lebih utama untuk dilakukan duluan. Berjilbab adalah salah satu bentuk penghambaan terhadap Allah dan salah satu cara untuk menjaga diri dalam pergaulan.

Satu lagi, buat saya jilbab juga merupakan cara saya bersyukur. Saya Sudah mendapatkan banyak sekali kenikmatan dan kemudahan di dunia - masak berkorban sedikit saja saya nggak mau?


Tapi belum siap!

Kalau gitu banyak-banyak berdoa sama Allah supaya lebih mantep hatinya, dan banyak-banyak ngobrol sama temen yang berjilbab. Insya Allah dibantuin sama Allah kok, asal niatnya baik.


Meskipun saya menulis ini, bukan berarti saya sudah sempurna dalam menutup aurat. Pergelangan tangan saya masih suka keliatan, kaos kaki masih suka nerawang, jilbabnya juga masih suka keangkat karena kekeuh ga mau pake jilbab-panjang-konvensional. Perilaku saya juga belum mencerminkan muslimah panutan - masih jauuuhhhh banget. Tapi saya memberanikan diri untuk menulis ini karena momennya sedang tepat, dan karena saya merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan walaupun hanya satu ayat. 

Kata ibu saya, kalau merasa tersinggung ketika mendengar ceramah itu berarti pertanda baik, karena berarti hatinya masih lembut. Kalau begitu, semoga teman-teman yang membaca tulisan ini jadi tersinggung, tapi nggak jadi kesel sama saya ya hehe. Semoga dibukakan hatinya untuk segera berjilbab, supaya saya juga jadi kecipratan pahalanya.

Yuk sama-sama memantaskan diri supaya jadi lebih baik :)


Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...