Thursday, July 10, 2014

Tentang Psikologi dan LGBT

Jangan bosan ya, karena lagi-lagi saya akan menulis tentang LGBT. Ya, ini buah dari serangkaian seminar yang saya ikuti, bertemakan anti-feminisme dan kesetaraan gender. Minggu ini, pembicaranya adalah seseorang yang mengambil magister psikologi (tapi entah spesifikasi bidangnya apa). Temanya adalah pandangan psikologi mengenai "normalisasi" homoseksual. Menarik ya.

Psikologi memang ilmu yang dibaliknya terdapat banyak kaum sekuler dan liberalis. Saya akui itu. Dosen dan temen saya yang jadi agnostik atau atheis setelah masuk psikologi juga ada, kok - apalagi yang "cuma" liberal atau sekuler. Tapi saya nggak setuju kalau psikologi dibilang sebagai ilmu yang sesat, atau ilmu yang nggak bermanfaat (ada beberapa ibu-ibu yang nyeletuk gitu setelah materi kemarin disampaikan). Jujur, saya sedih banget, cenderung ke marah bahkan mungkin ya, cuma ditahan karena itu bukan forum akademis (jadi kalau saya sibuk ngasih kritik orang-orang malah akan ngira saya ikutan liberal) dan karena saya lagi puasa. Catetan saya mah udah banyak banget, udah sibuk nyoret-nyoret sana-sini dan googling sana-sini buat crosscheck data. Udah siap dengan counter-argument untuk beberapa poin yang saya nilai asumtif atau subyektif. Tapi ditahan sama ibu saya karena takut menjatuhkan kredibilitas pembicara.

Saya jatuh cinta dengan ilmu psikologi. Buat saya, menemukan penjelasan mengenai manusia itu rasanya menyenangkan. Pembicara kemarin bilang kalau belajar psikologi itu buang-buang waktu dan "nggak menambah keimanan". Buat saya, mempelajari tentang proses mental dan perilaku manusia justru makin membuat saya kagum sama Allah, yang bisa menciptakan manusia dengan segitu kompleksnya. Kalau belajar ilmu baru emang nggak boleh su'uzhan dulu, supaya bisa dapet hikmahnya.

Saya kecewa karena pembicara kemarin asal "nyaplok" teori dan penelitian psikologi yang berlawanan dengan ideologi dia (dan kebanyakan peserta seminar). Ibu saya agak heran ngeliat saya sekesal itu, tapi mengerti setelah saya jelaskan bahwa rasanya sama dengan ketika ada orang yang cuma belajar Islam sebentar, cuma lihat cuplikan ayat tentang poligami, warisan, dan "memukul istri" tanpa baca tafsir, tapi sibuk berkoar-koar kalau Islam itu agama yang diskriminatif terhadap wanita. Ya gimana enggak, teori yang dibahas kemarin cuma humanistik, psikoanalisis, behavioralistik sendiri-sendiri; padahal itu pilihan cara pandang, dan padahal ada cara pandang baru yang lebih menyeluruh dan masuk akal; cara pandang yang lebih kontemporer, yang menganggap bahwa manusia terbentuk berdasarkan pengaruh genetis dan lingkungan; nature versus nurture.

Selain itu, pembicara juga menjelaskan seolah-olah semua orang yang belajar psikologi setuju dengan teori Freud dan pandangan bahwa manusia bebas melakukan apapun demi kebahagiaan pribadinya. Ditambah dengan pernyataan bahwa dalam ilmu psikologi, benar dan salah adalah hal yang relatif dan bebas ditentukan sendiri. Saya sih sepakat kalau benar dan salah memang merupakan hal yang bersifat relatif, tapi diatur oleh norma yang berlaku di masyarakat setempat. Agama bisa jadi salah satu faktor penentunya. Jadi nggak bener kalau menurut psikologi semua perilaku bisa dilakukan asal bikin bahagia. Kalau bertentangan dengan norma yang berlaku di suatu kelompok (agama, suku, dan lainnya), tentu perilaku itu jadi bernilai buruk di mata kelompok tersebut. Masih ada beberapa poin lagi yang dikritisi oleh pembicara. Sayangnya, hampir tidak ada satu pun poin yang saya sepakati, yang saya anggap bisa menggambarkan psikologi secara obyektif. Kebanyakaan yang dia sampaikan oversimplified dan bias. 

Pada pertemuan kemarin, si pembicara juga sempat membahas mengenai kritik yang ia sampaikan terhadap hasil-hasil penelitian neuropsikologi mengenai homoseksualitas. Penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa homoseksualitas mungkin muncul karena ada perbedaan di struktur otak, kromosom, dan lainnya. Penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa homoseksualitas terjadi karena masalah genetik. Sayangnya, menurut saya, pembicara tidak punya kapabilitas (dari segi ilmu pengetahuan) untuk menyampaikan kritik tersebut. Jadinya malah bikin justifikasi doang, bahwa penelitian-penelitian itu dibuat untuk melegalkan homoseksualitas dengan menunjukkan "I was born this way". Dia kekeuh kalau homoseksualitas itu seratus persen lingkungan, titik. Kalau ada gangguan hormon atau otak ya itu pengecualian. Yang bikin lebih gemes lagi, penelitian yang diambil adalah penelitian-penelitian lama (ada sih yang dia bilang baru, tapi tahun 2005, 7 tahun yang lalu), padahal saya tahu ada penelitian yang lebih baru. Saya belum bisa komentar banyak soal ini, karena saya merasa pengetahuan saya belum cukup banyak untuk bisa me-review jurnal neuroscience dan neuropsikologi. Ini salah satu PR buat saya setelah selesai kuliah magister nanti (meskipun bidang studi yang saya tekuni hanya tipis irisannya dengan masalah gender dan seksualitas).

My point is, hati-hati dalam memberikan komentar, apalagi terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu di bidang tersebut. Kritik boleh banget diberikan, tapi harus didukung oleh fakta dan basic ilmu yang kuat. Jangan coba-coba mengkritik sesuatu kalau ternyata kita belum benar-benar memahaminya. Silahkan kritis, tapi jangan skeptis. Jangan sampai kebencian kita terhadap suatu hal membuat mata, hati, dan telinga kita jadi tertutup.

Saya makin rindu dengan situasi diskusi akademis, di mana dua pihak dengan pandangan dan nilai yang berbeda bisa saling menyampaikan dan mendengarkan pendapat tanpa saling menjatuhkan. Karena belum tentu kita yang benar, iya kan?

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...