Saturday, April 2, 2011

Tentang Mereka Yang Luar Biasa


"Daritadi autis deh, gak dilepas-lepas BB-nya."


Entah udah berapa kali saya denger omongan itu. Entah dari temen saya, keluarga saya, atau dari orang yang nggak saya kenal. Kalau saya kenal sama yang ngomong, saya pasti langsung marahin dia. Bukan marah as in bentak-bentak sewot gitu loh ya, tapi cuma dengan sekedar bilang kalo term itu nggak lucu kalo dipake buat ngatain orang reguler. Nggak lucu kalo didenger sama orang tua yang anaknya autis. Gimana coba perasaannya kalo punya anak autistik terus denger orang lain seenaknya make term 'autis' buat ngatain orang?


Bapak saya juga pernah cerita, temen SMA-nya ada yang punya anak autis dan marah ketika ada temennya yang ngatain orang pake istilah 'autis'. Cerita serupa juga dituliskan di sini dan di sini. Berlebihan? Enggak, menurut saya itu wajar banget.


Saya memang nggak pernah punya kenalan dekat yang autis atau punya anak yang autis. Teman saya ada yang adiknya autis, tapi saya nggak pernah ngeliat adiknya secara langsung. Tapi, saya tau sedikit tentang autis - dari mata kuliah Psikologi Pendidikan Anak Luar Biasa (atau yang biasa kami sebut Alub) dan dari Parenthood, salah satu tv series kesukaan saya, dimana salah satu tokoh utamanya punya anak yang menderita Asperger, atau mild autism. Yang saya tahu mungkin cuma sedikit, tapi cukup banyak untuk mengerti betapa sulitnya menjadi orang tua bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, atau dalam konteks ini, autis.


Sejak kuliah di psikologi, saya yang pada dasarnya suka banget sama anak kecil jadi suka takut sendiri untuk punya anak. Selain karena sadar kalau jadi orang tua itu tanggung jawabnya terlalu besar karena setiap hal kecil yang kita lakuin bisa punya pengaruh besar bagi anak kita, setelah beberapa kali dapet kuliah Alub saya juga jadi takut anak saya kenapa-napa dan saya nggak bisa nerimanya. Naudzubillah min dzalik.


Kunjungan ke SLB C Wimar Asih beberapa waktu lalu juga bikin saya makin lemes. FYI, SLB C adalah sekolah khusus untuk anak dengan retardasi mental. Saya kagum banget sama guru-guru yang udah bertahun-tahun mengabdi meskipun gaji yang diterima pasti nggak seberapa. "Kerja disini bikin saya jadi lebih sabar dan banyak bersyukur. Bersyukur saat melihat anak saya di rumah. Bersyukur karena saya dikasih anak-anak yang normal sama Tuhan."
Jangan salah, anak-anak dengan retardasi mental itu lucu-lucu. Mereka polos dan lugu. Tapi meskipun begitu, saya tetep kagum sama orang tua yang punya anak dengan kebutuhan khusus. Saya nggak bisa ngebayangin betapa sulitnya nerima kenyataan. Saya nggak bisa ngebayangin gimana perasaan mereka saat melihat anak-anak temannya yang normal. Gimana perasaan mereka saat melihat anaknya nggak sama dengan anak-anak lain.


Jadi, yuk bersyukur dan banyak-banyak berdoa supaya dikasih keturunan yang sehat secara fisik dan psikis. Yuk pelan-pelan berhenti ngatain orang lain dengan istilah semacam "autis" atau "retard". Masih banyak term lain yang bisa dipake. Bahasa kita kan kaya! :)


Dan....




Selamat hari peduli autisme sedunia!


Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...