Sunday, September 9, 2012

About The Time Spent With Family

Udah lama banget rasanya kami nggak pergi jauh sekeluarga buat liburan. Terakhir pergi bareng pas Umroh - tapi saya nggak mau nyebut itu liburan karena niatnya memang untuk ibadah, bukan sekedar untuk ngeliat negara atau bangunan-bangunan terkenal yang belum pernah didatangi.

Gara-gara itu, liburan lebaran kemarin kami habiskan dengan pergi ke Palembang, kota kelahiran ibu saya. Supaya liburannya lebih kerasa, kami pergi ke Palembang pake mobil. Kali ini semuanya sepakat, karena adik saya juga udah bisa nyetir mobil, jadi kami nggak perlu khawatir ayah saya kecapean.

Palembang bukan tempat yang pas buat jalan-jalan, percaya deh, karena nggak ada tempat wisata di sana - selain Jembatan Ampera dan wilayah sekitarnya deh ya. Nggak ada pantai, nggak ada gunung, mall yang bagus juga cuma sedikit - itupun sering mati lampu. Yang bikin saya jatuh cinta sama Palembang cuma suasananya yang tetep homey meskipun jauh dari rumah (karena selama di sana kami selalu berkunjung ke rumah saudara atau rumah sahabat-sahabat ibu saya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri) dan tentu saja... Makanannya! Pempek rebus pinggir jalan yang harganya dua ribu-an tapi tetep lebih nikmat daripada pempek di Jakarta, Pempek tunu dan lenggang tunu yang mangkal di depan kuburan nenek saya - yang makannya pake keringet tapi nikmatnya luar biasa, es kacang merah yang meskipun udah mulai ada di Jakarta tapi belum ada yang pas di lidah, tekwan, model, martabak kari, pempek lagi, dan makanan-makanan lain yang akhirnya bikin saya cuma makan nasi dua kali selama ada di Palembang. Oh iya, sok-sokan berbicara dengan Bahasa Palembang selama ada di sana juga menyenangkan.

Tapi, menurut saya, yang paling berkesan dari perjalanan kemarin adalah kebersamaan dengan keluarga saya. Karena ayah saya sibuk kerja, ibu saya sibuk ceramah dan berorganisasi, saya sama Awwaab juga punya kesibukan nonakademis selain juga sibuk nugas, dan si Fari di pesantren, kami jarang banget bisa ngumpul berenam. Paling waktu berharganya cuma pas makan malem atau pas sahur aja, sambil cerita tentang kehidupan masing-masing di luar rumah.

Selama 13 jam dari Jakarta ke Palembang dan 16 jam dari Palembang ke Jakarta, saya ngerasa banget kalo momen-momen bersama keluarga adalah yang paling berharga dalam hidup saya. Sederhana sih ya, makan lauk yang udah dibawa dari rumah bareng-bareng; oper-operan dan suap-suapan, bercanda bareng, nyanyi bareng kalo lagi dapet sinyal radio yang selera musiknya lumayan bagus, ngaji bareng sambil muter kaset ngaji, dan cerita-cerita tentang hidup masing-masing.


Sederhana, tapi bikin saya bersyukur. Bersyukur sama Allah karena udah ngasih saya keluarga yang bisa bikin saya bahagia di dunia karena nggak pernah ada drama-dramanya, dan insya Allah bisa bikin saya bahagia di akhirat karena tetep bisa ketemu mereka semua nanti di surga - Aamiin.

Oh iya, buat kepentingan *ehem* skripsi, kemarin saya baca jurnal penelitiannya Loren Marks yang judulnya 'How Does Religion Influence Marriage? Christian, Jewish, Mormon, and Muslim Perspectives'. It really is an interesting research and probably the most interesting journal that I've ever read --  maybe because it is a qualitative research so I can read people's opinion--instead of some numbers that simplify everything. Saya bahkan sampai berkaca-kaca bacanya. Kenapa? Karena ada beberapa kutipan wawancara yang kayak gini:

[At prayer time, we say to] the kids, “Let’s quit the TV, and pray, and you go back to the TV later.”. . . [So at] the end of the day I have my kids around me and [I] thank God that they are healthy and safe....My intention [is], I’m caring about my wife and my kids because my God asked me to care about them...my God asked me to do that.
Atau yang satu ini:

Q: Are there any faith practices that hold special meaning for you as a couple?
A: One is Ramadan, because Ramadan is where families come together, eat together, fast together, wake up early in the morning to [break the fast together],...to support you for the day. . . . That’s what we do as a family . . . together.

Kenapa berkaca-kaca? Because it reminds me of my very own family.





Keluarga kecil saya nanti juga harus kayak gitu! Aamiin :)
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...