Tuesday, May 10, 2011

Pembuktian

Saya seneng karena kondisi sejak terakhir kali nge-blog udah sangat berubah. Sekarang semua orang (setidaknya yang saya tau) memberikan support-nya buat saya - bahkan mereka yang seharusnya berada di posisi netral. Saya juga dapet banyak pelukan dari beberapa orang. Beberapa yang orang yang deket banget sama saya, yang jadi korban buat dengerin tangisan saya, atau keduanya.

Iya, saya sempet nangis (lagi) beberapa kali. Saya ogah banget nangis di depan orang lain, tapi yang ini bener-bener udah nggak bisa ditahan. Dan tau nggak? Ternyata cerita ke orang lain sampe nangis itu nikmatnya luar biasa. 'Meledak' itu efeknya luar biasa. Untung saya ada di fakultas yang isinya penuh sama pendengar-pendengar murahan (eh ini konotasi positif loh, maksudnya banyak yang mau dengerin meskipun ga ada untungnya juga buat mereka buat dengerin unek-unek saya). Dan setelah seharian nangis sampe sembab, besoknya (hingga detik ini) saya udah kembali seperti biasa lagi. Lebih semangat malah, karena ada yang mau dibuktiin.

Kemudian, ketika saya jadi lebih serius dalam menyelesaikan tanggung jawab saya daripada biasanya, dua teman saya, Icca dan Senza, ngingetin saya untuk tetap bekerja karena passion, bukan karena tekanan. Jangan sampai saya kerja hanya karena ingin melakukan pembuktian, karena lama-lama saya pasti akan jenuh dan capek sendiri. Itu sebenernya yang sempet saya takutkan. Tapi kemudian, karena ada harga yang harus dibayar, saya rela kok ngesampingin keinginan saya sendiri. Demi satu kata itu, pembuktian.

Saya kemudian ingat kata Lunardi, bos saya di PsyFest. "Lo pasti belajar banyak tahun ini, Yas." Begitu katanya. Saya setuju, saya percaya, dan saya berharap demikian. Setidaknya, pembelajaran yang saya dapet dari semua tanggung jawab yang saya ambil ini lah yang akan jadi reward buat saya.

Dan nyatanya, sampai saat ini saya sudah belajar sedikit.

Di awal, saya belajar untuk melakukan negosiasi dan mengajak orang lain melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Saya kemudian belajar untuk membuat sebuah keputusan penting.
Saya juga belajar untuk lebih kritis dalam memandang sesuatu. Apapun.
Dan hari ini, saya belajar untuk berani mengutarakan pendapat di depan orang yang cukup banyak - sesuatu yang selalu saya hindari. Meskipun nervous setengah mati dan melakukan sedikit kesalahan, toh saya udah berani nyoba, untuk pertama kalinya.

Semoga setelah ini saya dapet banyak pelajaran-pelajaran lain, dan semoga saya tetep kuat ngejalanin ini semua.

Oh, dan semoga semester ini cepet selesai, supaya pikiran saya nggak kepecah belah terus antara urusan akademis dan nonakademis. Tapi tetep, semoga akhir semester ini bahagia. Semoga IP saya bisa tetep naik pelan-pelan, buat pembuktian ke diri sendiri bahwa saya bisa bagi waktu dan konsentrasi dengan baik. Meskipun saya nggak yakin bisa untuk urusan yang satu ini, tapi ya nggak ada salahnya kok berdoa.






Allah, tolong biarin saya membuktikan apa yang udah saya umbar-umbar ke orang lain ya. Tolong biarin saya jadi orang yang bertanggung jawab.

Amin.

Tuesday, May 3, 2011

Tentang Tanggung Jawab dan Komitmen

Today was a pretty tough day for me. I cried two times, and as I realized that today ends pretty well, I cry one more time. It's been a long time since I last cried. Well, actually, it's been a long time since I last had a problem.

Masalah ini bukan masalah besar kok sebenarnya. Dibilang masalah pun sebenernya cuma karena menyangkut kepentingan orang banyak dan menimbulkan kegalauan yang amat sangat di diri saya sendiri. Ini cuma masalah kecil yang melatih kedewasaan saya. Yang melatih kemampuan saya dalam mengambil keputusan, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti, mempertanggungjawabkan keputusan yang telah saya pilih, dan ya.... semacamnya. Intinya, hari ini saya belajar banyak.

Hari ini saya ketemu dengan beberapa orang untuk minta izin dan saran - Meskipun kata Angel, nggak ada yang berhak untuk ngelarang saya karena cuma saya yang bisa memutuskan, dan cuma saya yang sepenuhnya mengerti tentang kapasitas diri saya sendiri.

Hari ini saya nangis tiga kali. Satu karena kaget dan ragu, satu karena kesel, satu karena sedih. Meskipun saya juga ketawa beberapa kali. Banyak sih, harusnya.

Hari ini saya mengumbar banyak janji. Janji ke tiga pihak sekaligus. Janji bahwa saya akan bisa total kerja di mana aja. Janji bahwa saya akan bisa membagi diri dengan baik. Janji bahwa saya bisa memegang komitmen dengan baik. Janji bahwa janji saya akan saya tepati.

Tanpa benar-benar yakin kalau janji itu bisa saya tepati. Though I know, I'll be haunted for the rest of my life if I can't.

Masalahnya, meskipun saya tipe orang yang tau benar apa kekurangan dan kelebihan diri sendiri, saya juga tipe orang yang sangat mementingkan pendapat orang lain. Jadi, meskipun saya sebenarnya yakin kalau saya mampu, saya akan jadi ragu kalau orang-orang meragukan saya. Kalau orang-orang seakan-akan nggak mendukung saya. Meskipun kata mereka nggak gitu.

Hari ini saya sibuk meyakinkan orang-orang itu kalau sebenarnya saya mampu. Tapi yang mungkin nggak banyak yang tau, sebenarnya saya juga ngelakuin itu sambil menyakinkan diri saya sendiri.

Keputusan itu pun akhirnya saya buat. Dengan segala risiko yang ada dibaliknya. Sekarang saya tinggal ngelakuin yang terbaik yang bisa saya lakuin, dan megang janji yang udah saya umbar ke mereka.

It's not that hard, that's my biggest wish.



(langsung saya pasang jadi DP BBM saya. Labil, yah?)



But, to be honest, a long, warm hug and a support is all i need right now.





Saya cuma mau dikasih semangat dan dikasih dukungan. Saya nggak bisa kerja kalau masih ada yang nggak setuju sama keputusan yang saya ambil, beneran deh. Doain saya ya. Saya pasti bisa ngelewatin ini semua, iya kan?

Sunday, April 24, 2011

A Project For Dad

Kemarin ayah saya ulang tahun yang ke-45. Ngasih kado bukan lagi jadi tradisi di keluarga saya, tapi adik saya ngasih ide buat bikin semacam foto buat ayah saya. Saya sih seneng-seneng aja, toh pasti nggak sesusah itu. Eh ternyata salah. Butuh lebih dari tiga jam untuk moto saya dan ketiga adik saya, dan butuh lebih dari lima jam untuk ngedit fotonya - karena ada banyak yang harus diedit; setidaknya diganti warna background-nya jadi #f0f0f0 dan di-highpass supaya detilnya bagus. Tapi saya seneng ngerjainnya, apalagi karena ngerjainnya barengan adik saya yang jago banget photoshop, jadi saya bisa belajar beberapa trik baru.

Dan ini hasilnya:


di-klik, ya, supaya resolusinya besar :)


Biasa banget sih emang, nggak sebagus itu juga, tapi saya cukup puas - terlebih ini pertama kalinya saya (meskipun dibantuin juga sama adik saya) ngedit foto sampe berjam-jam.


Selamat ulang tahun lagi, ya, Bi! Thank you for being such a wonderful father for us. We're not that romantic to say I love you to each other, but I know how you love me and I know you know that I always do, too. Semoga abi tetep sehat dan dilindungi Allah serta selalu dilimpahin rezeki yang banyaaaak. Dan seperti yang selalu ayas sama Umi bilang, semoga abi jadi ngeh sama kesehatan. Jangan banyak makan/minum yang manis-manis dan berlemak lagi, ya? Your daughter already is, kan. Hahaha. Love you.


Monday, April 11, 2011

Ada Yang Salah

I screwed up. I don't know what's wrong with me lately, but I messed everything up. Biasanya saya nggak pernah begadang ngerjain tugas. Nggak pernah. Biasanya saya tidur disaat teman-teman saya berkutat dengan tugas sampai pagi.

Tapi, udah satu minggu terakhir ini saya hampir selalu tidur di atas jam satu pagi. Sementara ketika weekend saya malah buang-buang waktu, santai-santai karena kepingin istirahat (tapi tetep tidur di atas jam satu, internetan atau nonton TV series). Saya nggak pernah seprokras ini. Biasanya saya nyicil tugas sedikit-sedikit, apalagi kalau tugasnya keterlaluan banyaknya. Tapi sekarang saya selalu ngerjain tugas H-1, nggak tau deh kenapa.

Udah gitu, tugas yang ada seakan nggak ada habisnya. Setiap hari pasti ada deadline tugas, which means setiap malam saya pasti ngerjain sesuatu. Udah lebih dari satu minggu terakhir ini yang banyak lalu lalang di pikiran saya ya tugas, tugas, tugas. Kunjungan ke sini lah, paper itu lah, makalah ini lah, presentasi itu lah. Saya capek, beneran deh.

Saya bukan orang yang bisa begadang. Dulu, untuk bisa melek sampai di atas jam dua belas malam, saya butuh asupan kopi. Kopi buat saya adalah teman setia buat begadang, karena bisa ngejaga mata saya untuk tetap melek, bahkan hingga jam setengah lima pagi. Tapi sekarang, saya bisa melek sampai jam tiga pagi tanpa kopi. Entah itu hal baik atau buruk, yang jelas jam biologis saya sekarang berantakan.

Yang jelas time management saya sekarang berantakan.

Yang jelas sekarang saya malah jadi males ngapa-ngapain. Terlalu cepet buat kembali ngalamin demotivasi, menurut saya. Tapi beneran deh, tugas-tugas ini nyita fisik dan pikiran saya. Saya muak, semuak-muaknya muak. Dua puluh empat SKS rupanya nggak main-main, terlebih karena mata kuliah pilihan yang saya ambil ternyata nyusahin semuanya.

Udah puas kok ngeluhnya. Saya mau balik ngerjain tugas lagi.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...